Bangun Pabrik, Indofarma Terbitkan Obligasi Rp 300 Miliar - Permintaan Obat Generik Meningkat

Neraca

Jakarta - PT Indofarma Tbk (INAF) mempertimbangkan untuk menerbitkan obligasi senilai Rp 300 miliar demi membiayai pembangunan pabrik baru obat generik dan peningkatan kualitas produk perusahaan menjadi standar internasional.

Corporate Secretary INAF, Ahdia Amini mengatakan, pembangunan pabrik baru sejalan dengan pertumbuhan signifikan dari industri farmasi, “Maka mengikuti tingginya permintaan pasar yang terus meningkat, menjadi alasan butuhnya dana besar untuk bangun pabrik,”katanya di Jakarta, Senin (5/3).

Menurutnya, pertimbangan perseroan untuk menerbitkan obligasi akan dilakukan jika rencana pemerintah yang ingin menyatukan seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor farmasi dalam sebuah holding (regrouping farmasi) tidak jadi dijalankan di tahun ini. “Kami sedang menunggu kepastian dari program regrouping farmasi. Kalau jadi dilakukan di tahun ini, maka rencananya kami (seluruh BUMN farmasi) akan bersama-sama melakukan right issue. Tapi kalau tidak jadi dilakukan di tahun ini, kami mau terbitkan obligasi sendiri,” ujarnya.

Selain itu, Ahdia Amini mengatakan, penerapan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang akan dilakukan pemerintah akan mendorong pemakaian obat generic, “Jika pasar farmasi nasional saat ini masih didominasi oleh obat bermerek hingga 90% dan sisanya obat generik, maka pasca-penerapan SJSN, komposisi itu diperkirakan akan berubah dengan kontribusi obat generik minimal 50% dari total pasar farmasi nasional, “ujarnya.

Dia juga menuturkan, penerapan SJSN jelas akan sangat mengubah pasar, di mana obat jenis generik akan makin diminati sehingga berbagai layanan kesehatan yang tadinya menggunakan obat bermerek akan beralih ke obat generic.

Maka dalam mengantisipasi penerapan SJSN, lanjutnya, perseroan telah melakukan sejumlah persiapan mulai dari penambahan kapasitas produksi dengan pembangunan pabrik baru dan juga memperkuat penetrasi pasar melalui sejumlah kerjasama.

Salah satu program yang dilakukan INAF pada tahun ini, kata Ahdia, adalah akan menggandeng 76 universitas khususnya fakultas Farmasi di seluruh Indonesia. Program ini dimanfaatkan untuk mengenalkan produk obat generik kepada masyarakat. "Kami ingin mengajak para apoteker untuk ikut mengenalkan obat generik dan menyosialisasikan bahwa kualitas obat generik tidak kalah dengan obat bermerek," ujarnya.

Pada 2012, emiten farmasi milik pemerintah ini menargetkan penjualan senilai Rp1,5 triliun atau tumbuh 25% dari perolehan 2011 yang sebesar Rp1,2 triliun. Seiring dengan kenaikan penjualan, perseroan juga membidik perolehan laba bersih 2012 senilai Rp74 miliar, atau melonjak 105,55 persen dari perolehan 2011 yang mencapai Rp36 miliar. (bani)

Related posts