Perlindungan Konsumen

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi

Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo

Kecelakaan Lion Air menambah daftar panjang kasus kecelakaan moda transportasi. Hal ini harus menjadi catatan bagi semua pihak agar ke depan semua bentuk kecelakaan itu sendiri dapat diminimalisir. Ironisnya, kecelakaan Lion melibatkan armada terbaru yang konon sudah terasa pada penerbangan sehari sebelumnya. Di satu sisi, diakui bahwa kecelakaan itu sendiri tidak bisa terlepas dari nasib dan takdir meski di sisi lain harus juga diakui bahwa human error dan technical error juga bisa menyertai dibalik semua kecelakaan yang terjadi. Tanpa harus mencari kambing hitam dibalik musibah, pastinya perlu ada inspeksi ke semua pihak demi keselamatan dan perlindungan konsumen yang di era global menjadi sangat penting.

Urgensi terhadap keselamatan dan perlindungan konsumen sejatinya tidak bisa terlepas dari kepentingan untuk menjaga loyalitas. Padahal, menciptakan loyalitas tidak mudah, apalagi dikaitkan dengan ketatnya era persaingan sehingga individu bisa dengan sangat mudah untuk berpindah ke produk-jasa yang lainnya. Meski demikian, teoritis mengakui bahwa menciptakan 1 orang konsumen yang loyal akan menjadi promosi yang ampuh lewat word-of-mouth secara berkelanjutan. Paling tidak, testimoni yang mereka ucapkan akan efektif dibanding memasang ratusan banner di outdor atau iklan di media massa.

Terlepas dari kecelakaan Lion, pastinya harus juga diakui bahwa era persaingan di bisnis penerbangan semakin ketat dan semua berlomba untuk bisa menyajikan yang terbaik bagi konsumen. Ketatnya persaingan itu sendiri terkadang menjurus ke persaingan pada level harga. Bahkan, tidak jarang ada yang berani menjual harga murah hanya sekedar untuk mendapatkan konsumen. Meskipun demikian jual murah tidak harus mengabaikan keselamatan dan perlindungan konsumen. Artinya, tidak ada konsumen yang berani mati di tengah ketatnya era persaingan moda transportasi, baik itu dalam bentuk product form competition atau generic competition. Oleh karenanya, perang tarif, perang harga atau diskon mati-matian tidak harus berujung kepada kematian konsumen.

Memang tidak mudah untuk bisa bertahan di tengah ketatnya persaingan. Betapa fakta telah membuktikan banyak koran edisi cetak yang mati, banyak industri tradisonal yang juga mati dan juga berapa banyak konsep-konsep bisnis tergantikan dan mati akibat era pergeseran keperilakuan. Bahkan, sejumlah perusahaan besar juga kolaps karena tidak bisa dan kalah bersaing. Setidaknya, fakta ini terlihat dari kasus Sariwangi dan Nyonya Meneer.

Selain itu, sejumlah maskapai juga silih berganti muncul yang menegaskan ada persaingan yang sangat ketat di bisnis penerbangan. Oleh karenanya, ke depan maskapai harus berbenah dan tidak hanya mengejar persaingan harga karena hal ini tidak mampu menjamin terhadap kontinuitas bisnis dan justru bisa menjadi blunder bagi internalnya.

Bagaimanapun juga perlindungan konsumen dan jaminan keselamatanya menjadi nilai penting dalam pencapaian kinerja usaha sebab tanpa itu maka pesaing akan bisa lebih mudah merebut simpati publik. Jadi, kasus Lion harus menjadi pembelajaran agar tidak ada lagi pengabaian terhadap jaminan keselamatan dan perlindungan konsumen. Meski diakui bahwa musibah adalah bagian dari takdir yang tidak bisa dihindari. Pastinya ke depan semua harus lebih cermat dan peduli terhadap jaminan perlindungan konsumen dan keselamatan penumpang karena tidak ada satupun penumpang atau konsumen yang berani mati.

BERITA TERKAIT

RUU Perlindungan Data Pribadi Diharapkan Masuk Prolegnas 2019

RUU Perlindungan Data Pribadi Diharapkan Masuk Prolegnas 2019 NERACA Jakarta - Koalisi Perlindungan Data Pribadi berharap DPR dan Pemerintah menetapkan…

PERLINDUNGAN TKI

Anggota Fraksi PAN MPR RI Yandri Susanto (kiri), Anggota Fraksi Golkar MPR RI Ichsan Firdaus (tengah) dan Direktur Kerjasama Luar…

Perlindungan Konsumen Keuangan Syariah

Oleh : Agus Yuliawan ( Pemerhati Ekonomi Syariah) Pada lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ada departemen yang khusus menangani edukasi…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Revolusi Pertanian 4.0

  Oleh: Nailul Huda Peneliti INDEF   Sama seperti revolusi industri sebelumya, revolusi industri 4.0 merupakan suatu peristiwa yang tidak…

Pertumbuhan Ekonomi Belum Merata - Oleh ; Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Beberapa waktu lalu Badan Pusat Statistik (BPS) merilis ekonomi kwartal III 2018 tumbuh 5,17%. Data itu juga menyebutkan kontribusi terbesar…

Kinerja Buruk PNS

  Oleh: Firdaus Baderi Wartawan Harian Ekonomi Neraca Melihat data kinerja pegawai negeri sipil (PNS) yang dipaparkan Kementerian Pendayagunaan Aparatur…