Penyebar Virus Hoax di Tengah Duka Nasional

Oleh : Muhammad Fahreza, M.Sos, Pengamat Sosial Kemasyarakatan

Indonesia sedang berduka dengan adanya peristiwa kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat pada 29 Oktober 2018. Sebanyak 189 orang yang berada dalam pesawat tersebut menjadi korban dari tragedi yang mengenaskan ini. Duka ini tidak hanya datang kepada keluarga korban jatuhnya pesawat tersebut, namun juga dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Di tengah duka yang sedang kita rasakan ini, masih saja ada oknum-oknum yang memanfaatkan tragedi ini demi kepentingan tertentu. Seorang elit di komisi V DPR RI, FDF masih saja memperkeruh duka yang ada dengan menyebarkan hoaks tentang penanganan terhadap korban kecelakaan pesawat tersebut. Dia mengatakan, “Dalam waktu dua jam sejak pukul 07.00 hingga pukul 09.00 seharusnya banyak upaya aksi pencarian dan pertolongan yang sudah dilakukan. Selain itu informasi tentang hilangnya pesawat lambat diinformasikan kepada masyarakat”. Sungguh disesuaikan ketika pemerintah sedang berusaha maksimal dan sibuk menangani korban kecelakaan ini, seorang Fary tega mencuit demikian. Seharusnya beliau sadar bahwa terkait informasi kecelakaan seperti ini, perlu verifikasi dan validasi yang jelas agar informasi tentang kecelakaan benar-benar akurat. Kita tentu tidak ingin sebuah informasi yang belum pasti menggegerkan seantero Indonesia tanpa fakta dan data pasti. Oleh sebab itu pemerintah melalui instansi terkait membutuhkan waktu penyelidikan lebih dalam untuk mm verifikasi kejadian tersebut.

Selain itu, Fary mengatakan bahwa pemerintah lambat menangani kasus kecelakaan pesawat ini. Masyarakat harus mengetahui ketika seorang Fary sedang berselancar di linimasa, disaat yang sama anggota Basarnas melakukan pencarian non stop 24 jam sehari. Sebanyak 60 penyelam handal dari Basarnas dan TNI Al dikerahkan untuk mencari korban kecelakaan pesawat tersebut. Sejauh ini memang tim pencarian masih menemukan puing-puing badan pesawat serta potongan tubuh korban kecelakaan, namun itu sangat berperan besar untuk menuntun tim penyelamat menuju titik utama jatuhnya pesawat. Diperkirakan memang bahwa korban masih banyak yang terjebak di badan utama pesawat sehingga dikerahkan banyak penyelamam untuk mencari badan utama pesawat tersebut.

Ketika Fary hanya bisa mengritik tidak jelas dan berceloteh di media, sejumlah instansi saling bekerja sama dan memberikan bantuan. Kepolisian RI dengan cepat mengerahkan delapan buah kapal Polair untuk mencari dan mengevaluasi korban kecelakaan dan didukung dengan 100 personel Polair. Bahkan mereka juga mengirim dua unit alat Remotely Operated Vehicles (ROV) untuk mencari badan kapal serta mendatangkan alat PRS 275 dari Singapura untuk mendeteksi keberadaan pesawat. Namun ditengah perjuangan pemerintah melalui gabungan tim tersebut, masih ada orang yang nyinyir tidak jelas yang memperkeruh rasa duka yang dirasakan oleh bangsa Indonesia.

Rumah sakit Polri bahkan langsung siap sedia membantu menampung evakuasi korban kecelakaan ini. Semua upaya yang dilakukan oleh pihak-pihak diatas hanya bersumber dari satu alasan, yakni mereka semua merasakan duka yang sama dengan keluarga korban. Tidak ada rasa pamrih yang muncul dalam diri mereka ketika diminta membantu pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat ini.

Namun, ketika mereka semua sedang bahu membahu melakukan pencarian dan evakuasi, masih saja ada oknum seperti Fary yang dengan gampang ya mengatakan bahwa penanganan evakuasi lambat. Hal ini mungkin terjadi karena dia sendiri tidak ada disana sehingga dia hanya mampu berbicara tanpa memberi sumbangsih apapun. Apakah beliau telah melakukan sesuatu terkait pencarian dan evakuasi korban? Tidak sama sekali. Orang bodoh seperti inilah yang harus dibasmi di Indonesia, dimana ketika orang lain bersusah payah, ada orang yang belum melakukan apa-apa namun tidak menghargai upaya yang telah dilakukan oleh orang lain.

Mungkin oknum-oknum seperti Fary ini selalu berupaya mencari peluang untuk menyebarkan hoaks. Dia tidak merasakan menyelam ke laut untuk mencari korban kecelakaan. Dia tidak merasakan berada di atas laut hampa berkeling-keliling mencari petunjuk dari puing-puing pesawat agar menemukan korban lain dari kecelakaan ini. Lebih parah lagi, dia tidak merasakan duka dari keluarga korban yang kehilangan anggota keluarga mereka, sampai dengan teganya menyelipkan hoaks yang memperkeruh suasana duka yang tengah kita alami.

Kepada Fary dan para oknum penyebar hoaks, segera sadar dan berubahlah. Jangan dikuasai oleh rasa dengki dan benci sehingga suasana duka pun dimanfaatkan hanya sebatas untuk memperburuk citra pemerintah saat ini. Jika memang peduli, ikutlah memberi sumbangsih dengan membantu keluarga korban atau memberi sumbangsih apa pun yang dapat membantu tim penyelamat yang turun ke lokasi kejadian. Jangan menjadi virus-virus yang menebar kebencian lagi di Indonesia. Dan yang terakhir, hanya orang biadab yang tega menyelipkan hoaks ditengah duka yang dialami seluruh bangsa Indonesia.

BERITA TERKAIT

Pilpres 2019, Pasar Properti Nasional Diprediksi Tetap Stabil

Pilpres 2019, Pasar Properti Nasional Diprediksi Tetap Stabil NERACA Jakarta - Pasar properti nasional pada tahun 2019 mendatang diprediksi bakal…

Hoax: Jokowi Kalah di Media Sosial - Fakta Data dari Lembaga Analisa Media Sosial Politicawave

Hoax: Jokowi Kalah di Media Sosial Fakta Data dari Lembaga Analisa Media Sosial Politicawave Oleh : Rofiq Al Fikri (Koordinator…

Pengabdian Presiden Jokowi di Tengah Badai Hoax

Oleh: Sapri Rinaldi, Pengamat Sosial dan Politik Presiden Joko Widodo bicara soal hoax dan fitnah yang sering muncul jelang pemilihan…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Wisata Halal di 10 Destinasi Baru Indonesia

  Oleh:  Bima Setyo Wicaksono, GenBI  UPN Veteran Jakarta Sejak istilah wisata halal dikenalkan pada tahun 2015 di World Halal…

Bersatu Menangkal Paham Radikal di Tempat Ibadah

Oleh : Rahmat Kartolo, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan   Tujuan dari pendirian masjid sebenarnya untuk tempat bersujud, berkumpul menunaikan shalat, serta…

Tahun Pengelolaan Anggaran Tanpa APBN Perubahan

Oleh: Satyagraha Tahun 2018 hampir terlewati dengan sejumlah catatan pengelolaan makro ekonomi yang stabil dan kokoh dalam menghadapi kondisi global…