Hidup Sehat Tanpa Kanker Serviks

Neraca. Kanker serviks bisa dicegah dan bisa diobati. Deteksi sejak dini dan rutin melakukan Pap smear akan memperkecil risiko terkena kanker serviks. Ubah gaya hidup Anda dan juga pola makan Anda agar terhindar dari penyakit yang membunuh banyak wanita di dunia ini. Dengan demikian, maka kesehatan serviks atau leher rahim lebih terjamin. Dengan penanganan yang tepat, kanker serviks bukanlah sesuatu yang menakutkan.

Sedangkan, penyakit kanker serviks dapat diketahui dan dicegah dengan melakukan, Edukasi dan imunisasi (primary prevention), deteksi dini dengan skrining (secondary prevention), Mengobati kanker sejak stadium awal. Deteksi dini kanker serviks mudah untuk dilakukan. Adapun beberapa metode yang dapat dilakukan untuk deteksi dini kanker serviks adalah sebagai berikut, Pap Smear, Adalah tes yang paling sering dilakukan untuk deteksi awal apakah ada prakanker mulut rahim yang disebabkan oleh infeksi virus HPV dan memiliki potensi untuk berkembang menjadi kanker dengan tingkat akurasi Sensitivitas sekitar 51% - 93%, sedangkan spesifikasi sekitar 80% - 90% . Pap smear dilakukan dengan mengambil sampel lendir pada mulut rahim. Metode Pap Smear mengalami perkembangan dan dikenal dengan Liquid Based Cytology (Sitologi Berbasis Cairan), yang memiliki keunggulan sebagai, 100% sampel yang dikumpulkan, digunakan untuk pemeriksaan dibandingkan dengan metode Pap Smear yang sebelumnya dimana lebih dari 80% sampel tidak dapat digunakan. Karena sifatnya lebih homogen sehingga dapat mewakili semua sel yang terambil, hanya sel yang diperlukan yang diperiksa, karena debris, lekosit dan darah dipisahkan melalui metode ini, mudah dibaca oleh ahli sitologi karena relative bersih dari radang, lekosit, darah dan debris, memiliki akurasi yang lebih baik. Sedangkan untuk HPV DNA genotyping test mendeteksi adanya infeksi HPV khususnya yang risiko tinggi yang ada di mulut rahim. Bila didapatkan hasil yang positif, berarti wanita itu terjangkit virus HPV. Tetapi tidak semua akan menjadi kanker mulut rahim. Hanya sebagian kecil dari infeksi virus HPV risiko tinggi yang menetap (persisten) yang akan menjadi kanker serviks. Oleh karena itu diperlukan HPV DNA genotyping test agar dapat dinilai apakah infeksi tersebut menetap pada tipe yang sama. Bila ditemukan hasil HPV DNA positif menetap pada usia diatas 30 tahun dapat dilakukan pemeriksaan kolposkopi untuk melihat adakah kelainan atau prakanker di mulut rahim. Lanjutnya, kolposkopi digunakan untuk melihat jaringan mulut rahim dengan cara pembesaran dan pencahayaan sehingga dapat melihat kelainan yang ada di mulut rahim. Pemeriksaan ini berlangsung selama kurang lebih 15 menit, tidak menimbulkan rasa sakit dan tidak memerlukan anestesi. Bila ditemukan kelainan yang diduga prakanker maka akan dilakukan biopsi terarah. Hasil biopsi diperiksa secara histopatologi. Berdasarkan hasil histopatologi tersebut maka pilihan terapi akan dilakukan. Terapi yang umum dilakukan adalah dengan eksisi yaitu mengambil jaringan yang sakit dengan alat diathermy loop. Pengobatan pada lesi prakanker mulut rahim memberikan tingkat kesembuhan hampir 100%. Minimally Invasive Surgery, atau yang disebut operasi besar dengan akses yang kecil. Contohnya Laparoskopi, Histeroskopi.

Related posts