Produksi Hortikultura di Pekarangan Perkuat Ketahanan Pangan - Sektor Pertanian

NERACA

Jakarta – Kementerian Pertanian mendorong pemanfaatan pekarangan secara optimal untuk menghasilkan pangan yang cukup seperti cabai dan sayur-sayuran sehingga dapat mewujudkan ketahanan pangan keluarga. Lahan pekarangan sangat potensial menyediakan pangan yang cukup dan beragam, minimal bagi keluarga.

Direktur Jenderal Hortikultura Suwandi di Desa Berkah, Kecamatan Bojong Genteng, Sukabumi, Jawa Barat, disalin dari Antara, mengatakan, pemanfaatan lahan pekarangan akan membuat produksi pangan tidak hanya pada lahan sawah. Bahkan, pengarangan yang lebih luas dapat ditanam komoditas buah-buahan, seperti klengkeng dan jeruk serta tanaman kopi.

"Pemanfaatan pekarangan agar dilakukan maksimal. Masyarakat diharapkan untuk memanfaatkan lahan pekarangannya. Kita optimalkan dapat ditanami beragam jenis tanaman yang bisa memenuhi ketersediaan pangan bagi keluarga," kata Suwandi melalui keterangan tertulis di Jakarta.

Pada aspek hulu, Kementan menyalurkan bibit secara gratis disertai dengan pendampingan yang intensif. Di Desa Berkah ini, Kementan memberikan bantuan bibit cabai, klengkeng, jeruk, durian untuk ditanam di pekarangan rumah.

Selanjutnya, Kementan akan memberikan bantuan berupa ribuan bibit kopi, cengkeh, bibit kakao dan bibit pala secara gratis. Kementan juga berencana membangun pasar lelang dan industri kecil yang siap menampung hasil panen. Jadi, selain hasil panen bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga, juga kelebihan produksi bisa dijual sehingga memberikan pendapatan.

Kepala Desa Berkah, Andriyansyah mengatakan pemerintah desa memiliki program utama yakni swasembada sayur-sayuran melalui pemanfaatan pekarangan. Program ini sudah berjalan 2 tahun lalu, hingga saat ini kebutuhan sayuran masyarakat dipenuhi sendiri. "Kami punya program khusus ada 12 inovasi, salah satunya Pirus yakni Pipir Diurus. Artinya wajib memanfaatkan pekarangan baik di depan maupun belakang rumah untuk tanam sayur-sayuran," kata Andriyansyah.

Andri mengatakan merealisasikan program pemanfaatan pekarang ini tidak begitu sulit karena masyarakat memiliki semangat dan kesadaran yang tinggi menyediakan pangan sendiri dari pekarangan. Karenanya, pemerintah desa hanya menyediakan bibit sayuran, sementara masyarakat menyediakan sendiri-sendiri polibag yang terbuat dari limbah bangunan.

"Target kami 2019 swasembada sayuran dari pekarangan. Masyarakat tidak perlu lagi beli di pasar. Sepenuhnya dipenuhi dari budidaya sendiri di pekarangan dan masyarakat pun malah bisa pasok sayuran ke pasar," katanya.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemanfaatan lahan rawa untuk pangan merupakan terobosan baru sebagai solusi paceklik pangan yang biasa terjadi pada bulan November, Desember dan Januari.

"Potensi untuk pengembangan pertanian seluas 21,82 juta hektare atau 64 persen. Saat ini ketersediaan lahan rawa untuk perluasan area pertanian seluas 7,52 juta hektar. Jika ini kita optimalkan, pangan kita semakin kuat," kata Amran disalin dari Antara.

Amran mengatakan melalui inovasi teknologi, lahan rawa dapat menjadi solusi penyediaan pangan. Saat paceklik pangan terjadi di Jawa, tambahan pangan dapat dipenuhi dari lahan rawa, kata Amran yang berbicara pada Pekan Pertanian Rawa Nasional II di Banjar Baru, Kalimantan Selatan.

Ia menjelaskan dalam mewujudkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia pada 2045, salah satu potensi besar yang dapat dikembangkan yakni lahan rawa lebak dan pasang surut. Indonesia memiliki lahan rawa 34,1 juta ha yang terdiri dari lahan rawa lebak 25,2 juta ha dan rawa pasang surut 8,9 juta ha yang tersebar Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Amran menekankan dengan produktivitas padi di lahan rawa rata-rata 4 ton per hektar, maka tambahan produksi padi mencapai 60,16 juta ton gabah kering giling atau setara beras 37,30 juta ton.

Untuk percepatan peningkatan produksi padi, Kementan telah mengidentifikasi dan memulai upaya optimalisasi lahan rawa 1 juta hektare di Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan. "Tantangannya kita baru menemukan inovasi baru setelah satu sampai dua tahun dicoba. Kita coba di Sumsel dan Kalsel. Dulu kalau musim kering terbakar hanya menghasilkan asap, tetapi dijadikan lahan produktif," kata dia.

Ada pun pengembangan lahan rawa pada pilot percontohan Hari Pangan Sedunia di Barito Kuala, Kalimantan Selatan tahun ini mencapai 4 juta ha, sedangkan yang sudah terealisasi 2,6 juta ha.

Pemanfaatan lahan rawa ini dilakukan secara bertahap sehingga produktivitas yang dulunya 2 ton per ha, menjadi 6 ton per ha. Kementan fokus dengan penanaman lahan rawa di Kalimantan Selatan dan Sumatra Selatan dengan target lahan yang bisa digarap kurang lebih 700 ribu sampai 1 juta hektare.

"Semua lahan rawa ini nanti bukan untuk satu komoditas saja, tetapi untuk hortikultura, tanaman pangan dan peternakan. Kita prioritaskan padi, jagung, bawang merah, bawang putih, cabai. Komoditas ini harus kita prioritaskan," ujarnya.

Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Abdul Haris Makki mengatakan optimalisasi lahan rawa merupakan salah satu solusi mewujudkan ketahanan pangan.

BERITA TERKAIT

Mengganti Terigu Impor dengan Produk Buatan Lokal - Teknologi Pangan

        NERACA   Bogor - Mie memang menjadi santapan favorit masyarakat Indonesia, tanpa pandang usia. Sayangnya mie…

NPI Januari-Oktober Defisit US$5,51 Miliar - INDEF MINTA PEMERINTAH WASPADAI HARGA PANGAN

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada Oktober 2018 masih defisit US$1,82 miliar secara bulanan (mtm) dan…

Produksi TOBA 5,8 Juta Ton Batu Bara

Hingga akhir tahun 2018, PT Toba Bara Sejahtra Tbk (TOBA) menargetkan volume produksi dan penjualan batu bara sekitar 5,4 juta—5,6…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Kementan Salurkan 1.225 Sapi Indukan ke Peternak

NERACA Jakarta – Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan menyalurkan sapi indukan jenis Brahman Cross sebanyak 1.225…

Jerman Dukung Penuh Sawit Berkelanjutan di Indonesia

NERACA Jakarta – Pemerintah Jerman mendukung pembangunan kelapa sawit berkelanjutan yang mengacu kepada mekanisme Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang…

Kemenperin Rancang Insentif, Indeks dan Inovasi Industri 4.0

NERACA Jakarta – Pemerintah telah meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 untuk kesiapan memasuki era revolusi industri 4.0. Peta jalan…