Perbankan Harapkan Mahasiswa Geluti UKM

NERACA

Jakarta – Kalangan perbankan berupaya mendongkrak jumlah pengusaha UKM di Indonesia melalui kerjasama dengan perguruan tinggi. Masalahnya, mahasiswa yang baru lulus di Indonesia kurang minat menjadi pengusaha. “Bank swasta itu berharap, dengan adanya program ini mahasiswa akan memperoleh keahlian yang lebih baik, yaitu lebih kreatif, inovatif, punya target pasar yang jelas sehingga memiliki nilai jual,” kata Head of Communications & Corporate Sustainability HSBC Indonesia, Maya Rizano di hotel, The Dharmawangsa, Jakarta.

Menurut Maya, Para lulusan perguruan tinggi itu kebanyakan hanya ingin menjadi pekerja, bukan membuka lapangan pekerjaan. Sampai saat ini, berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM), tercatat baru 17% dari puluhan ribu lulusan perguruan tinggi yang berniat membuka usaha sendiri.

Lebih jauh kata Maya, HSBC mengadakan program Young Entrepreneur Challenge untuk mahasiswa S1 dan S2, yang akan berlangsung mulai bulan Maret hingga Juli 2012. "Program ini akan dilaksanakan dalam bentuk workshop, yang akan diberikan oleh para pakar," jelasnya

Sementara itu, Menurut Deputi Kementerian Koperasi dan UKM Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia, Agus Muharram, agar ekonomi sebuah negara berkembang dengan baik diperlukan jumlah pengusaha sukses yang mencapai 2% dari total jumlah penduduk. "Ini berarti, tinggal beberapa persen lagi untuk mencapai negara maju," katanya

Berdasarkan catatan, jumlah pengusaha sukses di Indonesia terus naik dari tahun ke tahun. Diprediksi, pada tahun 2014 jumlahnya mencapai 4,8 juta atau setara 2% dari total penduduk Indonesia. Saat ini, jumlah pegusaha sukses yang bisa ikut menggerakan ekonomi Indonesia baru mencapai 1,56% dari total penduduk 240 juta jiwa, yaitu sebanyak 3,74 juta. Angka tersebut naik signifikan dari jumlah tiga tahun lalu sebanyak 576 ribu pengusaha.

Jika dibandingkan dengan negara Asia, seperti Malaysia dan Singapura. Saat ini, jumlah wirausaha Malaysia sebanyak 5% dan Singapura 7%. "Kalau dibandingkan dengan negara-negara seperti seperti Malaysia dan Singapura kita masih tertinggal, tetapi di akhir 2014 kita bisa mencapai angka di atas 2%," kata Agus.

Saat ditanyai mengenai jumlah entrepreneur yang masih rendah, Agus mengatakan, kondisi geografis, jumlah penduduk serta mental sumber daya manusianya masih menjadi kendala. "Itu membuat kita terlambat dibandingkan dengan negara-negara yang jumlah sumber daya manusia sedikit dan sumber daya alam terbatas," imbuhnya.

Saat ini, jumlah UMKM di Indonesia mencapai 55,3 juta. Sebanyak 54 juta diantaranya merupakan pelaku usaha mikro berdasarkan data terakhir yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS). Para pelaku usaha kecil itu masih menghadapi banyak masalah, seperti keterbatasan sumber daya manusia, akses modal dan pemasaran, teknologi, serta yang paling mendasar ialah sikap dan perilaku. **cahyo

Related posts