Realisasi Penjualan Milan Keramik Capai 80%

NERACA

Jakarta – Di tengah lesunya bisnis properti saat ini, memberikan dampak berarti bagi industri keramik karena permintaan pasar dalam negeri menurun. Hal inipun dikeluhkan PT Saranagriya Lestari Keramik selaku produsen Milan Keramik. Namun demikian, kata Susan Anindita Marketing Manager Milan Keramik, sejauh ini progres penjualan perseroan masih on the track.

Disampaikanya, saat ini realisasi penjualan perseroan sudah mencapai 80% dari target penjualan tahun ini dipatok mencapai 1,85 juta m2. “Pencapaian penjualan kita sudah mencapai 80% dari target dan diharapkan bisa mencapai target karena pasar kita adalah segmen kelas atas,”ungkapnya di Jakarta, kemarin.

Meskipun demikian, kata Susan, industri keramik dalam negeri saat ini masih jauh kalah bersaing dengan keramik impor. Pasalnya, kenaikan harga bahan baku gas sebagai masalah klasik masih menjadi pemicunya. Oleh sebab itu, dirinya meminta bantuan pemerintah untuk turun tangan soal harga gas industri yang masih sangat tinggi dan tidak kompetitif dengan negara lain. Asal tahu saja, harga gas industri saat ini sekitar US4 8,03 per MMBTU di Jawa Timur. Sementara di Jawa Barat harga gas mencapai US$ 9,15 per MMBTU, bahkan mencapai US$ 9,8 per MMBTU di Sumatera Utara.

Selain itu, harga gas industri di Indonesia dibandingkan Malaysia saja sangat jauh. Malaysia US$ 6 per MMBTU. Apalagi Eropa yang sudah US$ 3 per MMBTU. Sedangkan di sisi lain, China telah menggunakan batu bara sebagai bahan bakar untuk produksi keramik mereka. Dimana harga batu bara hanya sepertiga harga gas.”Gas paling penting, kami harap ke pemerintah misal seperti energi listrik, karena untuk pembayaran energi masih pakai dollar AS, padahal seharusnya bisa rupiah, persiangan harganya gila-gilaan. Apalagi, saat dolar naik terutamanya, karena saat dolar naik tentu tidak bisa kita naikkan harga di pasar," kata Susan Anindita .

Susan mengeluhkan bahwa harga gas di Indonesia harusnya berada di bawah rata-rata harga di dunia, kalau di pasar spot bahkan seharusnya berada dibawahnya.”Tapi bertahun - tahun seperti ini masih mahal juga padahal Presiden bilang diturunkan tapi tetap tidak turun," curhatnya.

Susan menjelaskan bagaimana pihaknya mengatasi harga gas yang tidak kompetitif. Dia mengaku Milan Keramik akhirnya melakukan efisiensi namun dengan tidak mengurangi kuantitas produksi.”Kalau dikurangi overheatnya malah makin tinggi, kita lakukan investasi teknologi mesin yang hemat energi. tentu kita terus berpikir untuk tantisipasi hal ini, tapi memang disatu sisi tetap tidak bisa kompetisi dengan barang impor," ujarnya.

BERITA TERKAIT

PLN Terbitkan Surat Utang Rp 5,7 Triliun

NERACA Jakarta – Perkuat struktur permodalan, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menggalang dana hingga Rp 5,7 triliun dari penerbitan surat…

Bidik Pasar Ekspor Timor Leste - Japfa Targetkan Volume Ekspor 1000 Ton

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan pasar ekspor, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) melakukan ekspor perdana produk pakan ternak ke…

Pendapatan Merdeka Copper Naik 66,95%

NERACA Jakarta - Emiten pertambangan logam, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mengantongi pendapatan US$191,77 juta pada semester I/2019 atau…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pieter Tanuri Tambah Porsi Saham di BOLA

NERACA Jakarta –Perkuat porsi kepemilikan saham, Pieter Tanuri menambah kepemilikan sahamnya pada PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA) menjadi 23,52%…

BEI Kantongi 22 Calon Emiten Bakal Go Public

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sesumbar bakal mencatatkan 60 emiten baru sampai akhir tahun 2019 seiring dengan…

Lippo Karawaci Tunjuk Rudy Halim Jadi COO

NERACA Jakarta – Emiten properti, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) resmi menunjuk Rudy Halim sebagai Chief Operating Officer (COO) yang telah efektif…