Diversifikasi Pasar Ekspor Antisipasi Perang Dagang

NERACA

Jakarta – Indonesia perlu melakukan berbagai langkah sebagai bentuk antisipasi dari dampak negatif perang dagang antara Amerika serikat dengan China. Perang dagang antara dua kekuatan ekonomi dunia tersebut dianggap berpotensi membahayakan perekonomian global. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah melakukan diversifikasi pasar ekspor.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, diversifikasi pasar sangat diperlukan agar Indonesia tidak tergantung kepada China. Ada baiknya Indonesia juga mulai merambah pasar lain yang tidak kalah potensial, misalnya saja Afrika dan negara Asia lainnya.

Selain itu, restriksi (pembatasan) impor yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap China dapat mendorong perusahaan China untuk mencari pasar baru yang memiliki regulasi restriksi impor yang lebih sedikit. Pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menjadi pilihan alternatif bagi China untuk membuka perjanjian perdagangan baru.

“Pemerintah dalam hal ini dapat menyambut masuknya barang dari China. Namun juga berdiplomasi untuk kemudahan akses serupa terhadap pasar China. Untuk itu, Indonesia butuh kebijakan yang mampu memberikan daya tarik bagi investor, seperti insentif pajak dan kemudahan birokrasi,” ujar Ilman, Rabu (17/10).

Dampak langsung dari perang dagang kepada Indonesia lebih banyak dirasakan di awal. Hal ini berdampak pada penurunan ekspor bahan input ke China karena menurunnya kemampuan perusahaan di China untuk mengekspor ke Amerika Serikat. Namun hal ini tidak perlu dikhawatirkan kalau China sudah menemukan pasar alternatif pengganti Amerika Serikat, seperti Uni Eropa dan Asia Tenggara.

“Selain itu, adanya perang dagang memperparah ketidakpastian ekonomi, sehingga berimbas pada menurunnya ketertarikan investor dalam menanamkan modal di negara-negara dengan risiko lebih tinggi, seperti di negara emerging countries, dimana Indonesia termasuk di dalamnya,” urainya.

Ilman menjelaskan, setiap kebijakan perdagangan pasti akan memengaruhi neraca perdagangan antar negara yang terimbas. Dalam konteks perang dagang Amerika Serikat. China, dampak dari perang dagang tentunya dirasakan oleh perekonomian global namun tidak secara langsung. Hal ini mengingat bahwa nilai transaksi perdagangan kedua negara hanya sebagian kecil dari seluruh transaksi perdagangan global dengan nilai ekspor kurang dari USD 5 triliun.

Dampak yang dirasakan oleh negara lain adalah naiknya harga barang yang diimpor dari China dan Amerika serikat, dimana barang tersebut menggunakan input atau bahan baku dari negara satu sama lain. Misalnya, apabila Indonesia mengimpor pesawat Boeing dari Amerika Serikat, tetapi pesawat tersebut menggunakan komponen komputer yang diimpor dari China, maka tidak menutup kemungkinan harga pesawat tersebut menjadi lebih mahal karena AS telah melakukan pengenaan tarif pada impor untuk barang-barang dari China.

Dalam kesempatan lain, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menilai, perdagangan internasional penting untuk mendorong kualitas pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan pembangunan berkelanjutan.

Meskipun demikian, Menkeu meminta negara-negara maju seperti AS dan China untuk menekan tensi perang dagang yang meningkat dengan melakukan negosiasi yang saling menguntungkan. Menteri Sri mengakui terdapat upaya dari negara-negara yang terlibat dalam perang dagang untuk melakukan perundingan.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat terdampak oleh potensi perlambatan ekonomi global yang terjadi pada 2018 dan 2019. Negara berkembang akan mengalami pengaruh revisi ke bawah, entah melalui perdagangan internasional atau suku bunga yang semakin mahal.

"Kalau ekspor bisa maju lebih cepat, bereaksi terhadap lingkungan dan kesempatan yang sekarang, ekspornya bisa naik. Jadi walau investasi tertahan, 'growth' kita masih bisa naik. Namun kalau ekspor tidak secepat yang diharapkan, 'growth' menjadi lebih lemah," kata Menkeu. munib

BERITA TERKAIT

Pasar Menunggu Aturan Papan Akselerasi

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan ada lima perusahaan dengan Net Tangible Assets (NTA) atau aset berwujud bersih kurang dari…

Debut Perdana di Pasar Modal - IPO Nusantara Properti Oversubscribed

NERACA Jakarta – Pada perdagangan Jum’at (18/1), saham perdana PT Nusantara Properti Internasional Tbk (NATO) akan resmi dicatatkan di Bursa…

KIBIF Siapkan 20 Ribu Ekor Sapi untuk Pasar Domestik

    NERACA   Jakarta - Setelah resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Estika Tata Tiara…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

BPJS Terapkan Urun Biaya untuk Tindakan Medis Tertentu

NERACA Jakarta-Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan akan urun biaya dengan peserta untuk tindakan medis tertentu. Penerapan skema ini khusus…

NILAI TUKAR RUPIAH CENDERUNG STABIL - BI Prediksi Inflasi 2019 di Bawah 3,5%

Jakarta-Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memastikan bahwa inflasi sepanjang tahun ini akan terkendali sesuai dengan proyeksi Anggaran Pendapatan dan…

PENYEBAB PERTUMBUHAN EKONOMI TAK BISA TUMBUH TINGGI - Bappenas: Produktivitas SDM Masih Rendah

Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Prof Dr. Bambang Brodjonegoro kembali mengingatkan, pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia…