Mencetak Pemimpin dan Wirausaha Andal

Transformasi Putera Sampoerna Foundation

Senin, 07/03/2011

NERACA

Jakarta - Program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate, Social, and Responsibility/CSR) selama ini sering dipahami hanya sekadar bagian kecil untuk menunjukkan rasa kepedulian perusahaan kepada masyarakat. Karena itu, program CSR banyak digulirkan hanya sebagai ‘pelengkap’, sehingga hasilnya pun kurang maksimal.

Padahal, potensi CSR untuk dikelola tidak hanya untuk meningkatkan citra perusahaan, namun bisa memaksimalkan keuntungan. Hal inilah yang melatarbelakangi perubahan Putera Sampoerna Foundation (PSF), dari sebuah organisasi filantropi bisnis menjadi institusi bisnis sosial. Konsep ini berusaha mengubah pengertian pelaku bisnis dari sudut pandang ‘finding profit’ menjadi ‘helping wider community’. Konsep ini juga merujuk pada gagasan Muhammad Yunus, penerima Nobel Perdamaian 2006 yang juga pemilik Grameen Bank, pengusung gerakansocial business.

Putera Sampoerna Foundation berdiri sejak 2001 silam ini, sampai 2010 kemarin telah memberikan lebih dari 34.600 beasiswa untuk anak dari keluarga prasejahtera. Selama periode ini juga, PSF telah bekerjasama dengan 170 perusahaan dan 1,2 juta individu, dengan donasi yang terkumpul sekitar US$56 juta. “Donatur datang dari dalam dan luar negeri, individu maupun perusahaan. Totalnya 40% dan sisanya atau mayoritas tetap berasal dari Putera Sampoerna yakni sebesar US$150 juta untuk 10 tahun (2001-2010). Kini, kami memiliki karyawan sebanyak 220 orang untuk mengelola PSF,” ujar Direktur Pelaksana PSF Nenny Soemawinata di Jakarta akhir pekan lalu.

Menurut Nenny,CSRseharusnya bukan hanya memberi, tapiperusahaan juga harus bertanggung jawab terhadap hasil keberlanjutan dari pihak yang telah dibantu.Maka dari itu,PSFmemiliki misi untuk membentuk sifatpemimpin melalui pendidikan, menciptakan lapangan kerja melaluipengembangan kewirausahaan,sertamemberdayakan perempuan lewat donasi yang diberikan.

Ia kemudian mencontohkan masalahpendidikan.“Tanggung jawab kita belum selesai saat mereka telah lulusSMA. Mereka kan tetap dari keluarga prasejahtera. Bagaimana mereka bisa melanjutkan kuliah. Inilah maksud dan tujuan dari PSF yang memutar haluan menjadi institusi bisnis sosial. Menggalang lebih banyak dana dari perusahaandan individu,” tegasnya.

Untuk menciptakan pemimpin melalui pendidikan, maka PSF mendirikanSampoernaAcademy (SMA di Malang, Jawa Timurdan Palembang, Sumatera Selatan),SampoernaSchool of Education atau SSE (denganjurusan bahasa Inggris dan matematika),SampoernaSchool of Business,dan Anggarda Paramita Siswa Bangsa (KoperasiSiswa Bangsa).

Untuk menciptakan lapangan kerja melalui pengembanganwirausaha, dibuatlahMekar Entrepreneur Networkataupusat pengembangan kewirausahaan. Secara teknis,telah diluncurkan agar para wirausahawan potensial dapat bertukar informasi dan membangun jaringan dengan para penyedia sumber daya.Untuk memberdayakan perempuanada Anggarda Paramita Sahabat Wanita (yayasan dan koperasi).

Sedangkan, memberi bantuandankepedulian sosial,tersediaBait Al-Kamil (unit pelayanan zakat) yang telah disetujui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).Pada 2010, PSF telah menambahmasing-masing duakoperasi,usaha mikro kecil dan menengah,sertaperseroan terbatas,yang berada di bawah naungannya. Dengan begitu, sebagian keuntungan dari usaha tersebut dapat dipakai PSF untuk membantu lebih banyak lagi.(ardi)