Pasca-Kuasi, Sahid Berutang Kembali - Dikucuri Rp 180 Miliar

NERACA

Jakarta - PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID) telah mendapatkan fasilitas kredit dari PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) sebesar Rp 180 miliar. Fasilitas kredit dari BNGA ini akan digunakan untuk melunasi pinjaman dari PT Bank Mega Tbk (MEGA) senilai Rp 120 miliar dan Rp 60 miliar akan digunakan untuk merenovasi kamar dan fasilitas lainnya.

Menurut Direktur Utama SHID, Hariyadi Sukamdani, dana tersebut juga digunakan untuk pembiayaan kembali aset tetap perseroan. Pinjaman ini memiliki bunga 11% dengan jangka waktu kredit enam tahun.

Dia menambahkan, sejumlah inisiatif strategis dalam rangka untuk peningkatan kinerja Perseroan akan dilakukan pada tahun ini. "Dimulai akhir tahun kemarin, Perseroan telah melakukan kuasi reorganisasi, dan saat ini guna meningkatkan pendapatan kami bermaksud melanjutkan renovasi kamar dengan dibantu pembiayaan dari Bank CIMB Niaga," tutur Hariyadi, melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, Kamis (1/3).

Renovasi kamar diprediksi akan meningkatkan pendapatan dari SHID di tahun ini. Sebagai informasi, perseroan telah mengoperasikan 450 kamar dengan occupancy rate rata-rata 70%. Dengan adanya renovasi, maka kamar yang dioperasikan akan meningkat menjadi 721 kamar.

Sebelumnya, hasil rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) SHID memutuskan telah menyetujui pelaksanaan kuasi reorganisasi perseroan.

Saat itu, Hariyadi mengatakan, pasca-kuasi reorganisasi nantinya perseroan akan menghapus defisit sebesar Rp 257,84 miliar di semester I-2011 lalu melalui penilaian kembali seluruh aset dan liabilitasnya “Defisit ini muncul dari saldo kerugian akibat selisih kurs mata uang asing saat krisis ekonomi 1997-1998 silam. Saat itu, kewajiban perseroan dalam bentuk dollar Amerika Serikat (AS) dan mata uang negara lainnya mengalami apresiasi atau kenaikan yang luar biasa terhadap nilai tukar rupiah,” tukasnya, beberapa waktu lalu.

Kenaikan pendapatan

Oleh karena itu, sambung Hariyadi, dirinya berharap aksi korporasi kuasi reorganisasi bisa dilakukan pada tepat waktu dan dapat memulai awal yang baik dengan kondisi keuangan tanpa dibebani defisit. Aksi korporasi tersebut akan meningkatkan total nilai aset perseroan dari Rp 636,48 miliar menjadi Rp 1,2 triliun.

Sehingga hal ini dapat meningkatkan daya tarik dan minat pemodal terhadap saham perseroan. Selain itu, SHID juga menargetkan perolehan pendapatan di 2012 meningkat 15% menjadi Rp 165,6 miliar dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai Rp 144 miliar.

Hariyadi menambahkan, perseroan bahkan telah menargetkan kenaikan pendapatan sebesar 25%-30% dalam dua sampai tiga tahun mendatang. Namun yang pasti, sambung pengusaha yang juga wakil ketua umum bidang fiskal dan kebijakan publik Kadin ini, pinjaman baru tersebut tidak didapatkan dari PT Bank Mega Tbk (MEGA) selaku kreditur perseroan dengan sisa pinjaman sebesar Rp 111 miliar.

Sebagai informasi, perseroan telah melakukan kesekapatan penyelesaian utang di mana sebagian utang-utang tersebut dikonversi menjadi penyertaan saham. Sejak 2008, perseroan telah membukukan laba bersih yang terakumulasi hingga 30 Juni 2011 sebesar Rp 46,02 miliar, tetapi defisit perseroan cukup besar senilai Rp 257,84 miliar per 30 Juni 2011.

Dengan kuasi reorganisasi ini diharapkan perseroan dapat memulai awal baik dengan neraca perdagangan menunjukkan nilai sekarang dan tanpa dibebani defisit, memperbaiki struktur ekuitas perseroan dengan mengeliminasi defisit dan menilai kembali seluruh aset dan kewajiban perseroan sebagai nilai wajar.

Kemudian, memperbaiki kondisi keuangan dengan tidak dicatatnya lagi defisit pada ekuitas perseroan sehingga dapat membagi dividen, serta memperbaiki kondisi keuangan SHID dapat meningkatkan minat dan daya tarik investor untuk memiliki saham perseroan. [ardi

Related posts