Spindo Catatkan Penjualan Tumbuh 10,24%

NERACA

Jakarta – Meningkatnya permintaan pipa dalam negeri seiring dengan geliat pembangunan infrastruktur berhasil mengerek penjualan PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) atau Spindo sebagai emiten produsen produk pipa dan baja. Tengok saja, di kuartal tiga tahun ini, perseroan mencatatkan kenaikan penjualan 10,24% year on year (YoY).

Pada periode Januari-September, total penjualan sebesar 267,53 ribu ton. Sedangkan pada periode yang sama tahun lalu sebesar 242,68 ribu ton. Deputy President Director ISSP, Tedja Sukmana Hudianto mengatakan bahwa kenaikan volume penjualan dimotori oleh produk dari pipa perabot (+24%) dan pipa otomotif (+33%) dibandingkan kuartal III tahun lalu.”Intinya karena kami terus komitmen untuk menjual produk ditambah dengan dukungan supplier jadi berkontribusi pada kuartal III ini. Kebetulan memang tren menuju akhir tahun biasanya lebih meningkat, karena semester lalu kan ada Idul Fitri dan Ramadhan juga ya," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dengan peningkatan penjualan ini, perseroan mencatat nilai pendapatan penjualan di sepanjang periode Januari-September 2018 meningkat 24,88% menjadi Rp 3,38 triliun dibandingkan dengan kuartal III tahun lalu senilai Rrp 2,71 triliun. Kontribusi tertinggi berasal dari penjualan water pipe (Rp 697 miliar), black pipe non API senilai Rp 709 miliar hingga produk mechanical pipe senilai Rp 527,11 miliar.

Sebagai informasi, tahun ini perseroan menargetkan penjualan sebesar Rp 4 triliun atau tumbuh dari penjulan dan pendapatan di 2017 sebesar Rp 3,66 triliun. Realisasi penjualan tersebut tumbuh 12,38% dari penjualan di 2016 sebesar Rp 3,25 triliun. Disebutkan, pendapatan usaha tertinggi terdapat pada penjualan produk pipa hitam yang naik 48,07% dari sebelumnya Rp 428,71 miliar menjadi Rp 634,82 miliar.

Selain itu, penjualan produk pipa spiral tumbuh 47,88% pada 2017 menjadi 642,21 miliar serta didorong kenaikan penjualan produk pipa air sebesar 14% menjadi Rp 732,99 miliar. Kemudian seiring kenaikan harga dollar AS, perseroan berencana menaikkan harga jual. Pasalnya, sebagai besar kebutuhan bahan baku untuk produk pipa dan baja perseroan masih banyak di impor.

Kata Tedja Sukmana, saat ini 60% bahan baku milik perseroan didatangkan secara impor. Namun, porsi impor bahan baku ISSP telah berkurang dari sebelumnya 69% pada tahun lalu.”Impor 60% dari sebelumnya 69% karena ada perusahaan lokal yang baru dan juga bisa mendukung ke kami," tambahnya.

Namun dirinya menegaskan, penyesuaian khususnya harga di tengah meningkatnya harga bahan baku dan menguatnya dolar AS tidak terlalu berdampak pada kinerja keuangan perseroan. Menurutnya, selain melakukan lindung nilai (hedging) pada produk-produk yang di ekspor, penyesuain harga produk tetap memberikan nilai positif dari pertumbuhan penjualan dan pendapatan hingga kuartal III tahun ini.

Bahkan, nilai ekspor produk ISSP naik 70% YoY dengan dua negara tujuan utama yakni Kanada dan juga Amerika Serikat.”Kanada itu 50% lebih persentase dari total ekspor, kalau AS memang masih menerapkan bea masuk yang 25% itu. Namun karena produk-produk kami saat masuk disana hitungan harganya lebih murah, maka permintaan masih cukup tinggi," ujar Tedja.

BERITA TERKAIT

Seberapa Sustain Penguatan Rupiah Lewat Penjualan Obligasi?

Oleh: Djony Edward Tren penguatan rupiah yang super cepat masih menyimpan misteri. Begitu derasnya dana asing masuk dicurigai sebagai hot…

Urban Jakarta Bidik Penjualan Rp 240 Miliar - Harga IPO Rp 1000-1250 Per Saham

NERACA Jakarta – Tren pengembangan proyek properti berbasis transit oriented development (TOD) cukup menjanjikan kedepannya, apalagi pembangunan LRT yang digarap…

BEI Catatkan Rekor Baru Emiten Terbanyak

NERACA Jakarta – Tahun 2018 menjadi catatan sejarah bagi PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Pasalnya, sepanjang tahun ini ada 50…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Keadilan Akan Batasi Ruang Genderuwo Ekonomi

Istilah genderuwo mendadak viral setelah dicetuskan Presiden Jokowi untuk menyebut politikus yang kerjanya hanya menakut-nakuti masyarakat, pandai memengaruhi dan tidak…

BEI Suspensi Saham Shield On Service

Setelah masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajara, kini BEI menghentikan…

Gugatan First Media Tidak Terkait Layanan

Kasus hukum yang dijalani PT First Media Tbk (KBLV) memastikan tidak terkait dengan layanan First Media dan layanan operasional perseroan…