Pertumbuhan Ekonomi Masuki "Lampu Kuning" - KINERJA EKSPOR KIAN MENURUN

Jakarta - Pertumbuhan ekonomi kini patut diwaspadai oleh semua pihak. Pasalnya, kendati surplus, perolehan devisa ekspor Indonesia belakangan ini cenderung menurun. Bersamaan dengan itu, daya beli petani pun merosot pada Februari 2012. Ini terjadi di seluruh subsektor pertanian mulai dari tanaman pangan, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan, sampai dengan perikanan.

NERACA

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan, ekspor Indonesia pada Januari senilai US$ 15,49 miliar atau menurun 9,28% dibandingkan Desember 2011 US$ 17,07 miliar.

Penurunan devisa ekspor itu terjadi baik pada ekspor nonmigas maupun migas. Ekspor nonmigas pada Januari turun 7,9% yaitu dari US$ 13,59 miliar (Des. 2011) menjadi US$ 12,51 miliar. Ekspor migas dalam periode yang sama juga merosot dari US$3,48 miliar menjadi US$2,97 miliar, atau turun 14,66%.

Turunnya ekspor migas disebabkan surutnya ekspor minyak mentah maupun gas. Ekspor minyak mentah Januari senilai US$883,1 juta atau turun 37,15% dibandingkan Desember 2011. Ekspor gas dalam periode yang sama juga turun 0,48% menjadi US$1,71 miliar.

Tidak hanya itu. Daya beli petani juga turun dari sisi nilai tukar petani (NTP), yang merupakan salah satu indikator daya beli petani di desa. Perhitungannya, indeks harga yang diterima petani dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar petani. Semakin tinggi NTP semakin kuat daya beli petani.

Suryamin mengakui, NTP Februari turun 0,6% dibandingkan Januari 2012, yakni dari 105,73 menjadi 105,10.

"Penyebabnya, indeks harga hasil produksi pertanian turun, tetapi indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga maupun keperluan produksi pertanian naik," ujarnya.

Menurut ekonom LIPI Latif Adam, saat ini kondisi perekonomian Indonesia memasuki tahap waspada. Alasannya, kinerja ekspor Indonesia mengalami perlambatan secara signifikan selama beberapa bulan terakhir. “Pertumbuhan ekspor Januari 2012 menurun drastis menjadi 6%. Padahal, Januari tahun lalu ekspor Indonesia berada dikursi aman, yakni pada level 25%,” katanya kepada Neraca, Kamis (1/3).

Sebaliknya, menurut dia, lonjakan sektor impor menyebabkan bocornya sumber pendanaan APBN. Akibatnya, tentu akan membuat ekonomi Indonesia pasti terkoreksi, sulit menghindarinya. “Hitung-hitungan saya, krisis global sudah pukul neraca perdagangan ekspor kita menjadi 6%,” ujarnya.

Maka dari itu, Latif meminta pemerintah harus segera ambil kebijakan untuk meminimalisir lebih jauh krisis global ini, jika tidak, pertumbuhan ekonomi kita makin terpuruk dan bisa saja nanti terkoreksi lagi. “Kalau tidak, pertumbuhan ekonomi kita akan semakin terpuruk,” tandasnya

Mengenai koreksi pemerintah terhadap laju pertumbuhan Indonesia dari 6,7% menjadi 6,5% sama saja dengan harus bekerja keras. Selain terpaan krisis global, administered price (harga kebijakan) dari kenaikan HPP Beras, subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM), kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), dan kenaikan tarif TOL ikut melemahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Kebijakan BBM pasti akan menggerek angka inflasi kita, prediksi saya bisa sumbang 0,22%. Jadi saya sangat pesimis dengan koreksi pemerintah yang katanya ekonomi kita masih bisa tumbuh di 6,5%. Karena perkiraan saya, justru berada di bawah 6,5%”, paparnya.

Latif mengingatkan, administered price dipastikan akan berdampak pada daya beli domestik yang menurun 0,54%. Untuk itu, langkah yang paling moderat untuk dilakukan, menurut Latif, adalah menaikan BBM sebesar Rp1.000. Sebaliknya, jika di atas Rp.1.000 bisa memberikan sumbangsih inflasi sebesar 1%-2%. Artinya jelas akan memukul daya beli domestic dan memperparah kondisi ekonomi Indonesia.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh mengakui Indonesia harus tetap waspada terhadap pertumbuhan ekspor yang terus melemah sejak Oktober 2011. Pasalnya, pelemahan ini menunjukkan dampak krisis yang terjadi di Uni Eropa dan AS mulai berimbas terhadap ekspor Indonesia. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia turut dipengaruhi krisis utang di Eropa dan deficit anggaran di AS terus berlarut-larut dapat memberikan dampak negative terhadap ekspor,” sebut dia.

Imbas dampak negatif ini, lanjut Deddy, tidak hanya menimpa Indonesia, karena negara-negara pesaing Indonesia, seperti China dan Korea Selatan juga mengalami hal serupa. Ekspor dari China ke dunia di bulan Januari 2012 juga mengalami penurunan 0,5%, sementara ekspor Korea Selatan turun 7%. “Penurunan tersebut akan memberikan efek domino terhadap negara lain melalui perdagangan termasuk Indonesia,” terangnya.

Namun Deddy optimistis kinerja ekspor di 2012 hanya turun hingga 10%. Karena, pemerintah terus menggenjot pasar-pasar ekspor non-tradisional seperti Amerika Latin, Afrika, Timur Tengah, Asia Tengah dan Eropa Timur. Volume dan nilai ekspor Indonesia ke pasar-pasar yang dianggap prospektif hingga saat ini masih kecil. “Untuk itu penjajakan sudah mulai dilakukan ke beberapa negara di Afrika, makanya saya optimistis ekspor kita di 2012 hanya akan turun 10% atau paling tidak stagnan, itu sudah bagus,” ujarnya.

Dalam hal ini, menurut Deddy, pemerintah masih akan menjadikan komoditas-komoditas utama untuk diekspor memasuki pasar-pasar baru tersebut, seperti minyak kelapa mentah, karet, kakao, dan tekstil sebagai andalan untuk memasuki pasar-pasar baru tersebut. “Melalui komoditas inilah diharapkan kita mampu membuka pasar ekspor baru,” tegas dia.

Kuasai Pasar Domestik

Senada dengan Deddy, pengamat ekonomi UGM Sri Adiningsih menilai, penurunan angka ekspor Indonesia ke beberapa negara tujuan ekspor dikarenakan negara tujuan ekspor ini terkena krisis ekonomi. “Kan selama ini, tujuan ekspor kita ke Amerika, Eropa dan Jepang,” terangnya.

Untuk itu, kata dia, seharusnya pemerintah Indonesia membuka lebih besar pasar ekspornya ke negara lain, seperti Amerika Latin, Afrika, dan negara-negara Timur Tengah. Dengan demikian nilai ekspor yang kita lakukan tidak akan terpengaruh dengan signifikan. ”Harusnya pemerintahkan mampu mencari negara tujuan ekspor lainnya,” kata Sri.

Sri optimis penurunan ekspor yang terjadi saat ini tidak akan banyak berpengaruh bagi perekonomian Indonesia. Namun pemerintah harus mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri untuk menguasai pasar perdagangan. “Masalahnya kan Indonesia sendiri belum mengkompensasi pasar domestiknya sendiri dengan pasar global. Disamping itu Indonesia juga masih mengikuti segmen pasar negara Asia dan Eropa,” ujarnya.

Sedangkan, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat, ia menilai turunnya ekspor Indonesia sebesar 9,28% dari US$17 juta pada bulan Januari dan US$15 juta pada bulan Februari dikarenakan ulah pemerintah sendiri. “Peraturan Menteri Keuangan 253, 254, dan 254 sangat mencekik para rakyat, saya kira itulah yang menyebabkan ekspor kita menjadi melempem seperti ini,” tegasnya.

Menurutnya, pembuatan peraturan itu sangatlah tidak ada filosofinya dan tidak ada pemikiran logika dalam perumusan peraturan menteri keuangan. Peraturan itu hanya menguntungkan APBN dan sektor riil saja serta efeknya hanya jangka pendek bukan jangka panjang. “Pemerintah hanya menginginkan pajaknya saja, bahkan sekarang ini pajak sudah disalah gunakan. Semakin banyak juga orang yang tidak percaya dengan pemerintah,” tambahnya.

Hal senada dikatakan Prof. Dr. Didiek J Rachbini. Menurut dia, sejak bulan September-Oktober 2011 pertumbuhan ekspor Indonesia melambat. Selain masalah krisis ekonomi yang melanda Eropa dan Amerika Serikat (AS), juga pola kerja pemerintah yang tidak memiliki terobosan baru dalam hal ekspor. “Pemerintah nggak punya rencana dan strategi khusus. Saya pesimis target ekspor kita tidak akan lebih tinggi dari Januari 2011 lalu,” ujarnya kemarin. Apalagi menurut dia, target pemerintah sebesar 6,5% dianggapnya terlalu optimistis. maya/novi/prima/bari/ardi/ahmad

Related posts