Arwana Catatkan Penjualan Naik 15,56% - Bisnis Keramik Masih Mengkilap

NERACA

Jakarta – Meskipun bisnis properti masih dirasakan lesu oleh pelaku pasar, namun hal tersebut tidak memberikan dampak terhadap performance kinerja keuangan PT Arwana Citrramulia Tbk (ARNA) sebagai produsen keramik. Pasalnya, sepanjang Januari-September 2018, perseroan berhasil membukukan penjualan neto sebesar Rp1,46 triliun. Nilai tersebut meningkat 15,56% dibandingkan dengan pendapatan perseroan periode sama 2017 sebesar Rp1,27 triliun.

Dalam laporan keuangan yang dirilis kemarin, perseroan juga membukukan kenaikan sejumlah beban seperti beban penjualan yang meningkat 26% dan beban umum dan administrasi yang naik tipis 2,9%.Perseroan membukukan kerugian kurs sebesar Rp3,9 miliar dari yoy laba kurs Rp479,16 juta. Perseroan mencatatkan penjualan aset tetap sebesar Rp807,32 juta atau meningkat 205,2%, dan pendapatan lain-lain meningkat 30,14% ke level Rp4,84 miliar.

Alhasil, meski sejumlah beban meningkat dan mengalami rugi kurs, ARNA tetap membukukan laba usaha sebesar Rp165 miliar hingga kurtal III/2018, meningkat 26,3% dari periode sama tahun sebelumnya. Adapun, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan pada pemilik entitas induk mencapai Rp115,94 miliar, meningkat 38,22% dibandingkan dengan periode sama 2017.

Adapun, Arwana Citramulia akan memulai pembangunan pabrik baru perseroan yang akan berlokasi di Ogan Komeng Ilir, Sumatra Selatan (Sumsel). Pabrik dengan kapasitas 6 juta ton per tahun tersebut, total kapasitas perseroan akan mencapai 63,37 juta meter persegi keramik.”Pembangunan fisiknya untuk penambahan lini 1 sudah selesai dan saat ini perseroan sedang menunggu kedatangan mesin-mesin baru dari Italia. Dengan tambahan kapasitas ini, kami menargetkan mulai dikomersilkan pada semester II/2019,”kata Edy Suyanto, Direktur Arwana Citramulia.

Hadirnya pabrik di Sumsel dengan nilai investasi mencapai Rp 150 miliar, perseroan berharap kapasitas produksi keramik menjadi 14 juta m2 per tahun dari semula 8 juta m2 per tahun. Kata Edy, perseroan akan terlebih dahulu meningkatkan kapasitas pabrik di Sumatra Selatan, sebelum di pabrik lain karena kenaikan permintaan di wilayah Sumatera. Pemulihan harga komoditas dan pembangunan infrastruktur mengerek konsumsi keramik di wilayah tersebut.”Pertumbuhan permintaan keramik akan tumbuh karena konsumsi per kapita kita yang masih rendah. Dengan produksi sekitar 350 juta meter persegi tahun lalu dan 250 juta penduduk, konsumsi keramik per kapita hanya 1,3 meter persegi. Padahal rata-rata di Asia Tenggara itu di atas 2 meter persegi per kapita,” ungkapnya.

Tahun ini, perseroan membidik pertumbuhan laba usaha dapat mencapai Rp219,17 miliar, mengandalkan upaya efisiensi biaya produksi sekaligus ekspansi kapasitas produksi keramik. Target pertumbuhan tersebut meningkat 19,9% dibandingkan laba usaha perseroan pada 2017 yang sebesar Rp183,20 miliar. Pada tahun lalu, perseroan meningkatkan kinerja melalui efisiensi pabrik sehingga mampu menghemat hingga Rp4,85 miliar per bulannya.

BERITA TERKAIT

Seberapa Sustain Penguatan Rupiah Lewat Penjualan Obligasi?

Oleh: Djony Edward Tren penguatan rupiah yang super cepat masih menyimpan misteri. Begitu derasnya dana asing masuk dicurigai sebagai hot…

Medco Energi Pacu Ekspansi Bisnis Minyak - Private Placement Rp 1,54 Triliun

NERACA Jakarta – Perkuat modal dalam mendanai ekspansi bisnisnya, emiten pertambangan PT Medco Energi International Tbk. (MEDC) bakal menggelar private…

Indeks Pensiun Indonesia Naik

  NERACA   Jakarta - Indeks Pensiun Global Melbourne Mercer 2018 menunjukkan peningkatan yang signifikan bagi Indonesia sehingga sistem pensiun…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Keadilan Akan Batasi Ruang Genderuwo Ekonomi

Istilah genderuwo mendadak viral setelah dicetuskan Presiden Jokowi untuk menyebut politikus yang kerjanya hanya menakut-nakuti masyarakat, pandai memengaruhi dan tidak…

BEI Suspensi Saham Shield On Service

Setelah masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajara, kini BEI menghentikan…

Gugatan First Media Tidak Terkait Layanan

Kasus hukum yang dijalani PT First Media Tbk (KBLV) memastikan tidak terkait dengan layanan First Media dan layanan operasional perseroan…