Penerima BLSM Capai 74 Juta Orang

NERACA

Jakarta--- Menko Kesra Agung Laksono mengatakan pemerintah merencanakan 18,5 juta rumah tangga sasaran atau setara dengan 74 juta jiwa akan menerima BLSM, paket kompensasi terkait kebijakan kenaikan bahan bakar minyak bersubsidi. Begitu diumumkan 1 April, langsung diberlakukan selama sembilan bulan. Jumlah penerimanya, 18,5 juta RTS (Rumah Tangga Sasaran-red) dikali empat, jadi 74 juta jiwa," kata Menko Kesra usai mengikuti rapat terbatas di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis, sore.

Menurut Agung, pemberian BLSM dimaksudkan bisa menekan angka kemiskinan. Karena akan diberikan selama 9 bulan. "Dengan demikian, bukan saja kita mencegah penambahan jumlah penduduk miskin, tetapi diharapkan angka kemiskinan bisa turun lagi. Di bawah 10,5%. Dulu Rp100.000 selama enam bulan. Sekarang sembilan bulan dengan besaran Rp150.000,” paparnya’

Lebih jauh kata Agung, jumlah itu termasuk warga yang miskin, warga yang hampir miskin dan warga sangat miskin ditambah 14 juta jiwa warga yang belum masuk ke data tersebut diatas, termasuk nelayan dan petani miskin. "Menurut data sekarang, 30 juta adalah penduduk yang hampir miskin, lalu 30 juta penduduk yang miskin dan very very poor. Total 60 juta. Jadi, ditambah 14 juta yang tidak terdaftar selama ini. Termasuk nelayan dan buruh. Jadi meng-cover semuanya," kata Agung.

Ia mengatakan selain Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) di transfer tunai, kompensasi bagi warga miskin terkait kenaikan harga BBM subsidi juga dilakukan dalam bentuk penambahan subsidi siswa miskin, penambahan jumlah penyaluran raskin dan subsidi pengelola angkutan masyarakat atau angkutan desa. Untuk subsidi pengelola angkutan masyarakat, kata Agung, bentuknya masih dibahas.

Sementara itu, Kepala BPS Suryamin memperkirakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sebesar Rp 1.500 per liter akan memberikan tekanan terhadap inflasi hingga 3%. "Kalau naik 500 rupiah akan terjadi inflasi langsung 0,31% sedangkan 1,5-2 kali inflasi tidak langsungnya," ujarnya

Suryamin menambahkan jika harga BBM naik menjadi Rp 6.000 per liter maka inflasi langsung sekitar 0,93% ditambah dengan inflasi tidak langsungnya. "Jadi ya berada kisaran 2,5-3%," ujarnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS Djamal menyatakan dampak inflasi tidak langsung ini terjadi jika kenaikan harga BBM diberlakukan untuk semua kendaraan. Namun, jika kendaraan umum tidak dikenakan kenaikan harga maka inflasi tidak langsung ini tidak ada. "BBM itu naik diberlakukan pada semua, itu dampak langsung dan tidak langsung,” tegasnya

Yang jelas, kata Suryamin lagi, imbas yang langsung bisa dirasakan sekitar 3%. “Dampak tidak langsung itu 1-2 kali 2,5% sampai 3% kalau. Rp 6000. Kalau hanya pribadi, itu dampak tidak langsungnya tidak ada, jadi 0,93 persen kalau 1500," pungkasnya. **cahyo

Related posts