Penundaan BBM Bagian dari Langkah Strategi Penyesuaian

Oleh : Imam Poldi, Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Univ. Gunadarma

Sejumlah pihak menilai keputusan yang dikeluarkan oleh Menteri ESDM, Ignasius Jonan terkait BBM merupakan hal yang kurang tepat. Namun, pemerintah secara cepat mengambil langkah untuk melakukan penundaan terhadap kenaikan harga BBM terkhusus Premium. Meski terlihat plin plan pemerintah tentunya tidak akan serta merta melakukan penaikan terhadap BBM, tentu terdapat sebuah bentuk strategi penyesuaian yang telah disusun.

Keputusan kenaikan harga BBM pada Premium memang bertujuan untuk mengimbangi harga minyak dunia dan penguatan dollar Amerika Serikat (AS) terhadap Rupiah yang sudah menyentuh angka Rp. 15.200,-. Akan tetapi, jika keputusan tersebut langsung ditetapkan para pelaku ekonomi khususnya konsumen akan semakin tertekan dengan permasalahan minyak dunia dan nilai tukar Rupiah yang makin melemah. Tidak tanggung-tanggung jika kenaikan tersebut terlaksana, maka untuk daerah Jamali (Jawa, Sumatera dan Bali) harga menjadi Rp. 7.000, sementara di luar Jamali harga menjadi Rp. 6.900 sehingga kenaikan tersebut bersekitar 7% untuk BBM jenis Premium.

Perlu untuk diketahui bahwa ketika Menteri ESDM menyatakan pengumuman terkait kenaikan harga BBM jenis Premium, dengan seketika rencana tersebut ditunda sesuai arahan Presiden Joko Widodo. Dan selanjutnya rencana kenaikan tersebut akan dibahas ulang sambil menunggu kesiapan PT. Pertamina.

Arahan tersebut merupakan masukan dari peran Menteri BUMN Rini Soemarno yang perlu diacungkan jempol karena tidak gegabah menyetujui kenaikan harga BBM jenis Premium. Berdasarkan hasil diskusi sebelumnya dengan PT. Pertamina, Rini menyatakan kenaikan harga BBM Premium belum siap dilaksanakan, oleh karena itu perlu dilaksanakan penundaan kenaikan harga BBM jenis Premium dan akan dibahas ulang dengan.

Menurut Deputi Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementrian BUMN Fajar Harry Sampurno terdapat tiga alasan yang mendasari kenaikan harga BBM jenis Premium yakni kondisi keuangan negara, kemampuan daya beli masyarakat dan kondisi real ekonomi.

Hal tersebut membuktikan bahwa pemerintah yakni Presiden RI beserta jajaran kementrian harus terus berfikir untuk memberikan kebijakan yang terbaik kepada masyarakat Indonesia disamping banyaknya cobaan ekonomi yang menyerang hampir semua negara, seperti nilai tukar Rupiah dan mata uang lain yang terus melemah dan harga minyak dunia yang tidak stabil. Sehingga tidak bisa kita katakan pemerintah ini bersifat plin-plan karena keputusan yang instan. Pemerintah telah memikirkan strategi penyesuaian terhadap permasalahan ekonomi dunia.

Hal ini dibuktikan dengan pernyataan Direktur Pelaksana IMF Christine Legarde yang mengatakan bahwa Indonesia jauh dari krisis karena Indonesia sebagai negara emerging market masih sangat jauh dari krisis keuangan. Selain itu, indikator perekonomian Indonesia juga baik seperti saat ini krisis finansial terjadi dimana-mana akan tetapi Indonesia memberikan rekaman sejarah yang bagus.

Sekali lagi, mari kita terus mendukung segala kebijakan ekonomi pemerintah karena pemerintah tidak akan mengambil keputusan dengan instan terkhusus masalah kenaikan harga BBM jenis Premium. Mengingat bahwa BBM jenis Premium masih banyak digunakan masyarakat tentunya akan berujung pada meningkatnya harga-harga produksi lain. Pemerintah telah berfikir sekuat tenaga untuk menyejahterahkan rakyatnya, sebaiknya kita tidak perlu terlalu kritis terhadap kebijakan yang telah diambil.

Kita boleh kritis namun secara akademis dan teoritis. Jangan mudah terpancing oleh tagar-tagar yang dengan mudah dibuat untuk mengadu domba kita satu sama lain. Negeri kita masih membutuhkan pemikiran-pemikiran cerdas yang disajikan dalam bentuk data dan fakta sebagai bahan bertukar pikiran, sehingga menumbuhkan prinsip membiasakan sesuatu yang benar dan bukan membenarkan sesuatu yang biasa.

Terakhir, menurut saya keputusan presiden merupakan bentuk strategi penyesuaian dan bentuk kepedulian Presiden RI beserta jajaran karena tidak langsung melaksanakan kenaikan harga BBM jenis Premium yang dianggap mematikan. Maka dari itu, sebagai manusia yang mencintai hal-hal yang menguntungkan kita. Berhentilah mengkaji sesuatu hal yang tidak kita kuasai, berhentilah mengkonsumsi informasi yang tidak pasti, dan berhentilah untuk membagikan tagar-tagar yang tidak sesuai dengan relaitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sesungguhnya pemerintah kita telah peduli terhadap kita sampai sedetail ini. Kesehatan, pendidikan, infrastruktur dan sampai hal ini.

BERITA TERKAIT

Pabrik Feronikel Antam Rampung Akhir Tahun - Strategi Hilirisasi

NERACA Jakarta – Komitmen PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjalankan strategi hilirisasi terus dilakukan dengan pembangunan pabrik Feronikel Haltim dengan…

PUB Obligasi BRI Meleset dari Target - Mempertimbangkan Sisa Waktu

NERACA Jakarta – Mempertimbangkan kondisi pasar yang tidak bakal menyerap seluruh obligasi, PT Bank BRI (BBRI) menyatakan telah menghentikan kegiatan…

BMRS Lunasi 20% Saham DPM Ke Antam - Raih Dana Segar dari NFC China

NERACA Jakarta – Mengantungi dana segar senilai US$ 198 juta dari NFC China, mendorong PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Gejolak Persaingan Ekonomi Global vs Cashflow yang Sehat - Studi Kasus Unrealized loss PLN

  Oleh: Sudimara Pati, Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Swasta Belakangan kita diberitakan bahwa Perusahaan Listrik Negara (PT PLN) milik BUMN…

Seberapa Sustain Penguatan Rupiah Lewat Penjualan Obligasi?

Oleh: Djony Edward Tren penguatan rupiah yang super cepat masih menyimpan misteri. Begitu derasnya dana asing masuk dicurigai sebagai hot…

Mencari Akar Ketimpangan

Oleh: Sarwani Problem utama pembangunan Indonesia adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia seperti yang tercantum dalam sila ke-5 Pancasila.…