IMF: Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Naik 1% - PERANG DAGANG AS-CHINA BAKAL PANGKAS EKONOMI GLOBAL 1%

Jakarta-Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund-IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa meningkat sekitar 1% dalam jangka menengah, dari posisi saat ini sekitar 5,1% pada 2018. Namun IMF memperkirakan perang dagang antara AS dan China bakal mengganggu pertumbuhan ekonomi global, karena dapat memangkas pertumbuhan ekonomi dunia hingga 1% dalam dua tahun ke depan.

NERACA

Sebelumnya, lembaga keuangan internasional itu memperkirakan ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 5,1% pada 2019. Menurut Deputi Direktur Departemen Asia Pasifik IMF Kenneth Kang, Indonesia punya peluang meningkatkan ekonomi bila kebijakan reformasi struktural yang sudah dimulai saat ini terus dilakukan. Sebab, reformasi ini akan membuat fundamental ekonomi Indonesia semakin kuat, meski tekanan eksternal menerjang.

Reformasi struktural tersebut terdiri atas beberapa hal. Pertama, memperluas sumber pembiayaan untuk menambah kemampuan dana. Kedua, memacu pertumbuhan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Ketiga, mereformasi pasar tenaga kerja demi merangsang investasi swasta. "Kombinasi kebijakan ini dapat menjadi potensi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar satu persen dalam jangka menengah," ujar Kang, Jumat (12/10).

Selain itu, IMF menilai Indonesia bisa meningkatkan pertumbuhan dari beberapa kebijakan cepat yang diambil saat ini, yaitu menjaga fiskal dan memulihkan defisit transaksi berjalan. "Kami mendukung ini karena bisa menjaga stabilitas makro Indonesia. Kami yakin, mereka mampu bekerja keras dan mengadaptasi perubahan dengan mengeluarkan kebijakan yang pas untuk mereka," ujarnya.

Untuk saat ini, IMF menilai kondisi ekonomi Indonesia sejatinya memiliki fundamental yang baik, meski ada tekanan terhadap nilai tukar rupiah, sehingga terjadi depresiasi atau pelemahan. "Mata uang Indonesia sudah terdepresiasi sekitar 11% terhadap dolar AS, tapi ini terjadi pula pada Selandia Baru dan Australia yang terdepresiasi 9%,” ujarnya.

Namun, IMF menilai beberapa indikator fundamental ekonomi Indonesia tetap baik. Misalnya, rasio utang pemerintah sekitar 30% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,1%. Kemudian, inflasi masih jauh di bawah target pemerintah sebesar 3,5%, cadangan devisa sekitar US$115 miliar, dan tingkat kecukupan modal (capital adequacy ratio-CAR) perbankan sekitar 22%.

Sebelumnya, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde memperkirakan perang dagang yang berkecamuk antara Amerika Serikat (AS) dengan China bakal mengganggu pertumbuhan ekonomi global. Dia memproyeksikan kemelut tersebut akan memangkas pertumbuhan ekonomi dunia sampai dengan 1% dalam dua tahun ke depan.

Dampak tersebut terjadi karena perang dagang akan mempengaruhi nilai perdagangan antar negara. Lagarde mengatakan selama ini perdagangan antar negara merupakan sumber dari pertumbuhan ekonomi ekonomi global.

Sektor perdagangan sendiri telah menumbuhkan ekonomi dunia dan kesejahteraan. "Tapi belakangan ini perang dagang terjadi dan ada saling balas serangan dan sebagian karena terlalu banyak orang tidak ikut menikmati manfaatnya," ujar Lagarde di Bali, Jumat (12/10).

Saat ini perang dagang antara AS dan China sedang menjadi perhatian dunia. Konflik tersebut tak hanya berpengaruh pada ekonomi kedua negara, tapi juga ekonomi berbagai negara lainnya. "Sudah jelas bahwa kita perlu mengurangi ketegangan yang ada," ujarnya.

Lagarde mengatakan pejabat antar negara perlu mereformasi sistem perdagangan global agar bisa menguntungkan satu sama lain. Dengan begitu, satu kebijakan dibuat lebih adil dan bisa memperkuat ekonomi global.

Pesan Moral

Presiden Jokowi meramalkan akhir cerita serial Game of Thrones yang dirilis pada tahun depan bakal berakhir dengan sebuah pesan moral. Pesan moral tersebut dinilai dapat turut bermakna pada kondisi perekonomian global saat ini. "Pesan moral bahwa konfrontasi dan perselisihan akan mengakibatkan penderitaan, bukan hanya bagi yang kalah, namun juga yang menang," ujarnya.

Bila dihubungkan dengan ekonomi global, Jokowi mengatakan perselisihan yang terjadi, baik antara sesama negara maju maupun negara berkembang tak akan berarti. Dia menilai kemenangan dan kekalahan setelah perang dinilainya sebagai hal yang sama. "Ketika kemenangan sudah dirayakan dan kekalahan sudah diratapi, barulah kemudian kedua-duanya sadar bahwa kemenangan dan kekalahan rasanya sama, yaitu dunia yang porak poranda," ujar Presiden.

Menurut Jokowi, tidak ada artinya kemenangan dirayakan di tengah kehancuran dunia. Maka, menurut dua, tidak ada artinya ekonomi sebuah negara kekuatan ekonomi yang besar dari negara yang menang ketika dunia sedang terpuruk. "Saat ini kita masuk pada sesi terakhir dari pertarungan ekspansi ekonomi global yang penuh rivalitas dan persaingan. Bisa jadi kondisi lebih genting dari krisis finansial global 10 tahun lalu," ujarnya.

Untuk itu, dia meminta kepada seluruh pemangku kepentingan dan pembuat kebijakan untuk selalu berkoordinasi dan bekerja sama dalam memasukan ekonomi secara global. Salah satu ancaman global saat ini, yakni perang dagang perlu disangga bersama melalui kebijakan moneter dan fiskal. "Saya harap dalam pertemuan tahunan IMF-WB ini Anda bisa menyerap tenaga dan memetik inspirasi indahnya alam Bali dan Indonesia," tutur Kepala Negara.

Sementara itu, negara yang tergabung dalam Kelompok 20 ekonomi utama atau G20 sepakat untuk memperbaharui sistem perdagangan internasional. Saat ini, sejumlah pihak menyebut dunia global sedang menghadapi ketegangan perang dagang yang berkecamuk antara Amerika Serikat dan China.

Menteri Keuangan Argentina Nicolás Dujovne mengatakan ketegangan perang dagang masuk sebagai salah satu pembahasan utama dalam diskusi dengan pejabat dari anggota G-20. Seperti diketahui, Amerika Serikat (AS) dengan China masih bersitegang terkait tarif bea masuk dari masing-masing negara. "Kami mengenali bahwa saat ini kami menghadapi ketegangan (perang dagang) di antara negara G20," ujarnya di Bali, Jumat (12/10).

G-20 ini terdiri dari 20 negara, seperti Afrika Selatan, AS, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, Britania Raya, China, India, Indonesia, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Meksiko, Perancis, Rusia, Turki, dan Uni Eropa (EU).

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) berpendapat perang dagang dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi global turun satu persen dalam dua tahun ke depan. Pasalnya, nilai perdagangan antar negara akan terpengaruh akibat perang dagang tersebut. "Belakangan ini perdagangan menghadapi serangan balik, sebagian karena terlalu banyak orang tidak ikut menikmati manfaatnya," tutur Lagarde.

IMF memproyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara di Asia sekitar 5,6% pada tahun ini dan 5,4% pada 2019 mendatang. Angka itu tak berubah dari proyeksi sebelumnya yang dibuat pada April 2018.

Sementara, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi hanya 5,1% dari sebelumnya 5,3% pada tahun ini. Hal itu sejalan dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi global dari 3,9% menjadi 3,7% tahun ini.

Dujovne menambahkan secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi global terbilang tetap positif. Kunci utama untuk mempertahankan stabilitas keuangan global, yakni mengupayakan kerja sama antara negara yang menjadi anggota G20. Tak hanya soal kebijakan perdagangan antar dunia, Dujovne menyebut hal lainnya yang menjadi perhatian pejabat negara G20 berupa pentingnya pembangunan infrastruktur.

Menurut dia, pembangunan infrastruktur bakal menyumbang pertumbuhan ekonomi global. "Kami telah berfokus pada bagaimana mengkatalisasi investasi swasta dengan menyesuaikan kondisi yang diperlukan untuk mengembangkan infrastruktur," ujarnya. bari/mohar/fba

BERITA TERKAIT

Keseriusan China Buka Produk Impor Peluang Ekspor Indonesia - Niaga Internasional

NERACA Jakarta – Indonesia baru saja mengakhiri keikutsertaan pameran dagang importir terbesar di dunia "The 1st China International Import Expo"…

BMRS Lunasi 20% Saham DPM Ke Antam - Raih Dana Segar dari NFC China

NERACA Jakarta – Mengantungi dana segar senilai US$ 198 juta dari NFC China, mendorong PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)…

Gejolak Persaingan Ekonomi Global vs Cashflow yang Sehat - Studi Kasus Unrealized loss PLN

  Oleh: Sudimara Pati, Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Swasta Belakangan kita diberitakan bahwa Perusahaan Listrik Negara (PT PLN) milik BUMN…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

INDEF MINTA PEMERINTAH WASPADAI HARGA PANGAN - NPI Januari-Oktober Defisit US$5,51 Miliar

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada Oktober 2018 masih defisit US$1,82 miliar secara bulanan (mtm) dan…

Ketua BKBM: Kemaritiman Sediakan 45 Juta Lapangan Kerja

NERACA Jakarta - Ketua Badan Kerjasama Usaha Bidang Maritim (BKBM) Rokhmin Dahuri mengatakan bahwa sektor kemaritiman memiliki potensi lapangan kerja…

INDONESIA SEBAGAI NEGARA MARITIM DAN MEMILIKI TANAH SUBUR - Kepala Bappenas Prihatin Kondisi Nelayan Miskin

Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Prof Dr. Bambang Brodjonegoro mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi nelayan di Indonesia. Dia melihat petani dan…