Harga Premium Tidak Naik untuk Jaga Daya Beli dan Inflasi

NERACA

Jakarta -- Presiden Jokowi menegaskan, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Premium tidak mengalami kenaikan. Pasalnya, presiden khawatir kenaikan harga BBM itu akan menekan daya beli masyarakat dan memicu inflasi di kemudian hari.

"Sudah saya putuskan Premium batal (naik harga) sudah. Sudah saya batalkan, dengan hitung-hitungan, dengan angka-angka yang sangat realistis," tegas Jokowi di Istana Bogor, Sabtu (13/10). Presiden memaparkan alasannya membatalkan kenaikan Premium adalah untuk menjaga daya beli masyarakat karena Premium menyangkut hajat masyarakat luas. Kenaikan harga Premium ia pastikan akan memicu inflasi sehingga mengerek harga.

Jokowi khawatir kenaikan harga-harga tersebut akan menekan daya beli masyarakat. Padahal konsumsi masyarakat adalah penopang utama pertumbuhan ekonomi. Apabila konsumsi masyarakat melemah, pertumbuhan ekonomi diprediksi ikut lesu. "Pertumbuhan ekonomi sekarang ini kita masih ditumpu 56% oleh konsumsi," ujarnya seperti dikutip CNNIndonesia.com.

Di lain sisi, Jokowi mengatakan telah mempertimbangkan dampak tidak naiknya harga Premium kepada kinerja keuangan Pertamina. Jokowi memastikan Pertamina tidak menerima dampak signifikan akibat batalnya kenaikan Premium.

Sebab, Pertamina telah mengerek harga Pertamax menjadi Rp10.400 per liter dari harga sebelumnya Rp9.500 per liter. Pertamina juga menaikkan harga Pertamax Turbo menjadi Rp12.250 dari Rp10.700 per liter.

Selain itu, Pertamina Dex harganya naik dari Rp10.500 per liter menjadi Rp11.850 per liter. Dexlite naik dari Rp9.000 per liter menjadi Rp10.500 per liter dan Biosolar Non-PSO sebesar Rp.9.800 per liter.

Jokowi meyakini kenaikan harga Pertamax dan Dex Series mampu membantu keuangan Pertamina di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia yang menyentuh US$74,88 per barel pada Oktober 2018.

"Oleh sebab itu kemarin setelah saya dapat laporan terakhir dari Pertamina, berapa kalau kita naikkan segini, dihutung lagi keuntungan tambahan di Pertamina, tidak signifikan. Sudah saya putuskan Premium batal (naik harga)," ujarnya.

Rencana kenaikan harga BBM jenis premium sebelumnya disampaikan Menteri ESDM Ignasius Jonan. Menurut dia, pemerintah akan menaikkan harga BBM jenis Premium. Untuk wilayah Jawa, Madura dan Bali, harga BBM akan dinaikkan dari Rp6.550 menjadi Rp7.000 per liter.

Sementara itu, untuk wilayah di luar Jawa, Madura, dan Bali harga premium dinaikkan dari Rp6.400 menjadi Rp6.900 per liter. Kenaikan tersebut rencananya mulai berlaku Rabu sore (10/10) atau setelah PT Pertamina (Persero) siap. Namun hanya berselang waktu sekitar 1 jam, rencana kenaikan Premium tersebut tiba-tiba dibatalkan.

Sebelumnya, Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax oleh PT Pertamina (Persero) akan memperkuat ketahanan fiskal negara. "Bagaimana pun (kenaikan harga Pertamax) itu akan memperkuat ketahanan fiskal kita," ujar Darmin di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10).

Sebagai BUMN, Pertamina setiap tahun menyisihkan sebagian profitnya untuk pembayaran dividen kepada negara selaku pemegang saham. Tahun depan, usai mengakuisi PT Perusahaan Gas Negara, pemerintah menargetkan Pertamina menyumbangkan dividen sebesar Rp1,35 triliun, menurun dari tahun ini yang ditargetkan sebesar Rp3,42 triliun.

Dengan menaikkan harga jual, Pertamina dapat mengkompensasi melesatnya biaya pengadaan akibat kenaikan harga minyak mentah. Sebagai catatan, harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) Oktober 2018 telah mencapai US$74,88 per barel lebih dari 1,5 kali lipat rata-rata ICP 2016 yang hanya US$40,16 per barel dan US$51,19 per barel.

Selain itu, menurut Darmin, penyesuaian harga BBM nonsubsidi Pertamina juga memberikan sentimen positif pada rupiah. Laju pelemahan rupiah terhadap dolar AS bisa ditahan. "Mestinya, perbaikan harga BBM itu juga ada pengaruhnya (terhadap kurs rupiah)," ujarnya.

Di sisi lain, Darmin enggan berkomentar terkait penundaan kenaikan harga Premium. "Sudah lah jangan tanya, (soal penundaan kenaikan harga Premium) tanya yang substansi aja," ujar Darmin. mohar

BERITA TERKAIT

YDBA Ajak Binaannya Kunjungi GS Battery di Semarang - Tingkatkan Daya Saing UKM Manufaktur

Dalam rangka meningkatkan wawasan mengenai best practice pengembangan bisnis di bidang manufaktur, Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) mengajak 42 usaha…

Karakteristik Pasar Perumahan Ekspatriat Tidak Berubah

Karakteristik Pasar Perumahan Ekspatriat Tidak Berubah NERACA Jakarta - Konsultan properti Colliers International menyatakan bahwa karakteristik pasar perumahan untuk ekspatriat…

Duka Keluarga Besar PNM untuk Reni Hermawati

Duka Keluarga Besar PNM untuk Reni Hermawati NERACA Pangandaran - Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM, Arief…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

YLKI Terima 200 Aduan Korban Pinjaman Fintech

NERACA Jakarta-Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengungkapkan, sepanjang tahun ini telah menerima 200 aduan dari masyarakat yang menjadi nasabah dari…

PAKET KEBIJAKAN EKONOMI (PKE) KE-16 - Kepemilikan Asing Boleh 100% di 54 Sektor Usaha

Jakarta-Pemerintah kini terbuka mengizinkan pihak asing untuk memiliki 100% saham di 54 sektor usaha setelah dikeluarkan dari Daftar Negatif Investasi…

INDEF MINTA PEMERINTAH WASPADAI HARGA PANGAN - NPI Januari-Oktober Defisit US$5,51 Miliar

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada Oktober 2018 masih defisit US$1,82 miliar secara bulanan (mtm) dan…