Minim JPSK Kemiskinan Bertambah

NERACA

Jakarta---Bank Dunia mengungkapkan program jaring pengaman sosial Indonesia dinilai masih minim sehingga menyebabkan angka kemiskinan di Indonesia semakin mengkhawatirkan. “Indonesia hanya menghabiskan 0,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) sementara itu negara-negara berpenghasilan menengah lainnya mengeluarkan lebih dari pada itu,” kata Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Stefan Koeberle di teater kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Kamis (1/3).

Koeberle mencontohkan negera berkembang lainnya seperti Filipina yang menganggarkan sekitar 1% dari PDB nya, Brasil yang menganggarkan 1,4% dan India sekitar 2,2% dari PDB nya. “negara-negara tersebut umumnya mengeluarkan jauh lebih banyak sumberdaya ketimbang Indonesia dalam hal menangani kemiskinan dan kerentanan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Koeberle, Indonesia harus memastikan program-program jaring pengaman sosial seperti Jamkesmas, Raskin, dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) itu menjangkau mereka yang paling membutuhkan. “Kami mengusulkan agar Indonesia memfokuskan tambahan sumberdaya kepada 40% populasi degan kondisi ekonomi terbawah yang nantinya memiliki resiko besar untuk jatuh ke dalam jurang kemiskinan,” tandasnya.

Dari hasil penelitian Bank Dunia, lanjut Koeberle, merekomendasikan agar Indonesia sebaiknya terlebih dahulu melakukan reformasi pada program-program yang ada seperti Jamkesmas, Raskin, dan BLT sehingga program-program tersebut dapat lebih meningkatkan harapan keluarga miskin. “program tersebut memang menjanjikan dan dapat diperluas namun perlu reformasi pokok untuk meningkatkan cara bagaimana melindungi keluarga-keluarga miskin serta dapat meningkatkan hasil-hasil dibidang pendidikan,” lanjutnya.

Sementara itu, Ekonom Kemiskinan Senior untuk Bank Dunia di Indonesia, Vivi Alatas menilai penelitian yang dilakukan oleh Bank Dunia bisa membantu mengenali masalah-masalah yang berkaitan dengan program-program jaring pengaman sosial Indonesia. “Melihat kedepannya, kita perlu memetik pelajaran dari negara-negara lain yang telah berhasil melewati masa transisi menjadi negara ekonomi menengah dan telah memodernisasi jaring pengaman sosial mereka.

Vini meminta pemerintah bisa mencontoh beberapa negara yang sudah menerapkannya. “Dari negara-negara tersebut memberikan contoh bagaimana program-program yang terpecah dapat dipadukan menjadi suatu sistem jaring pengaman sosial yang lebih efektif dan efisien,” tambahnya.

Bank Dunia menyampaikan bahwa sementara ini jaring-jaring pengaman sosial memang dibutuhkan, mereka tetap hanyalah menjadi satu bagian dari strategi nasional untuk pengentasan kemiskinan dan perlindungan sosial yang lebih luas. Bagian-bagian yang lain termasuk penciptaan lapangan kerja, jaminan sosial, pembangunan masyarakat dan dukungan berkelanjutan untuk pertumbuhan ekonomi. **bari

Related posts