IMF : Menguntungkan atau Merugikan Indonesia?

Oleh: Jasmin Erika, Peneliti LSISI

Saat ini, Indonesia tengah menjadi tuan rumah bagi penyelanggaran Annual Meetings of the International Monetary Fund and World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Provinsi Bali. Tentunya ajang ini menjadi keuntungan bagi Indonesia. Mengapa? Karena dengan begini Indonesia dibantu mempromosikan betapa Indonesia adalah negara yang berpotensi tinggi menjadi mitra bagi negara lain, dimana acara ini diikuti oleh seluruh negara di dunia dan di hadiri oleh delegasi masing-masing negara. Jika Indonesia mampu memanfaatkan event ini dengan baik maka impian Indonesia menjadi negara maju, bisa menjadi kenyataan.

Untuk menjadikan negara Indonesia sebagai negara maju, diperlukan pembangunan ekonomi yang signifikan melalui infrastruktur, industri, perbankan dan lainnya. Kemudian, dalam prosesnya Indonesia juga memerlukan bantuan dari negara lain ataupun organisasi internasional seperti PBB, ASEAN, dan IMF. Bantuan ini dimaksudkan sebagai hubungan mutualisme antar masing-masing negara, seperti ekspor impor barang keperluan.

Momentum promosi Indonesia juga terjadi saat Asian Games 2018 di Jakarta dan Asian Para Games 2018 yang saat ini masih berlangsung. Di balik berbagai keuntungan yang didapat dari pertemuan IMF dan Bank Dunia ini, pihak oposisi Presiden Jokowi justru mengatakan bahwa biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk acara IMF di Bali sangat besar, mengingat Indonesia sedang dilanda bencana alam di Palu dan Lombok. Perlu diketahui bahwa anggaran untuk IMF telah dibentuk sejak awal tahun 2017, sehingga secara tidak langsung pemerintah tidak mengharapkan dan tidak mengetahui jika ternyata di tahun 2018 Indonesia mengalami musibah, dan tentunya Presiden Jokowi telah mempertimbangkan hal tersebut dimana dana IMF ternyata telah benar-benar dirancang seminimum mungkin.

Kemudian, masyarakat juga harus memahami bahwa Indonesia telah terpilih sebagai tuan rumah untuk Annual Meeting IMF 2018 sejak Oktober 2015. Dana dan fasilitas yang dibangun tidak hanya sebatas untuk pelaksanaan IMF saja, melainkan juga untuk pembangunan pariwisata Bali di masa yang akan datang. Anggaran tersebut salah satunya digunakan untuk memperluas apron Bandara I Gusti Ngurah Rai, membuat terowongan di persimpangan dekat jalan tol bandara, sehingga dapat meminimalisir kemacetan, yang tentunya hal tersebut sangat bermanfaat bagi Bali dan kelancaran Annual Meeting IMF 2018.

Di samping itu, pelaksanaan IMF ini ternyata juga memberikan keuntungan ekonomi bagi Indonesia secara real, seperti pertumbuhan perdagangan di Bali, kenaikan tingkat pariwisata di Bali, dan tentunya kenaikan lapangan pekerjaan di Bali. Kemudian, acara IMF membuahkan hasil pada investasi yang diberikan negara lain kepada pemerintah dalam bentuk penandatanganan investasi dan pembiayaan antara 14 BUMN dengan investor dan lembaga keuangan untuk 19 transaksi, dengan nilai kesepakatan mencapai 13,5 miliar dollar AS atau setara Rp 202 triliun. Kerja sama tersebut terdiri atas strategic partnership, project financing, dan pembiayaan alternatif melalui pasar modal, kemudian untuk sektor proyek infrastruktur yang termasuk dalam kerja sama investasi ini di antaranya migas, hilirisasi pertambangan, pariwisata, bandar udara, kelistrikan, pertahanan, jalan tol, hingga manufaktur.

Tidak hanya sampai di situ, ternyata Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde merasa terkesan dan bangga akan apa yang ditampilkan Indonesia selama pertemuan IMF dan Bank Dunia dengan kondisi yang tengah dilanda bencana. Sehingga, sebagai bentuk dukungan, para anggota dan petinggi IMF secara sukarela menyumbang mewakili masing-masing pribadi memberikan bantuan dana bagi korban dan pemulihan di Lomobok serta Palu, sekaligus memuji Indonesia sebagai tempat terbaik bagi mereka dalam pelaksanaan pertemuan tahunan IMF.

Oleh karena itu, jelas sudah bahwa IMF di Bali merupakan event yang sangat menguntungkan bagi Indonesia, bukan penghambur-hamburan uang semata. Pemerintah benar-benar berjuang demi Indonesia melalui IMF untuk mempromosikan dan memajukan negara, dengan bentuk nyata keuntungan yang diraup oleh negara melalui IMF ini. Masyarakat harus bijaksana dalam menyikapi berbagai berita atau isu negatif mengenai event bersejarah ini. Jangan mudah dipecah-belah oleh isu pihak lawan politik untuk menjatuhkan Presiden Jokowi karena pada nyatanya IMF memberikan keuntungan besar bagi Indonesia.

BERITA TERKAIT

Jerman Dukung Penuh Sawit Berkelanjutan di Indonesia

NERACA Jakarta – Pemerintah Jerman mendukung pembangunan kelapa sawit berkelanjutan yang mengacu kepada mekanisme Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang…

Triton Double Cabin HDX Paling Diminati di Indonesia

Dari sejumlah model Mitsubishi Triton yang tersedia, varian Triton Double Cabin HDX lah yang paling diminati di Indonesia dengan persentase…

Indonesia Motorcycle Show 2018 Bukukan Penjualan 1.332 Unit

Pameran Indonesia Motorcycle Show (IMOS) 2018 resmi ditutup pada Minggu (4/11). Selama lima hari penyelenggaraan, ajang pameran kendaraan roda dua…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Menguak Dalang Pelaku Pentas Politik

   Oleh: Nadia Permatasari, Alumni HMI Gerakan aksi 212 yang terjadi tahun lalu merupakan gerakan massa umat muslim secara masif…

Mewujudkan Industri 4.0 Lewat Peningkatan Mutu SDM

Oleh: Muhammad Razi Rahman Presiden Joko Widodo, dalam salah satu upayanya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju, juga telah menetapkan…

Rendahnya Komitmen Kepala Daerah Adopsi Sistem Cegah Korupsi

Oleh: Roy Salam, Direktur Indonesia Budget Center Kepala Daerah memang rentan melakukan korupsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Dengan…