BEI Rilis Indeks Likuid Sektor Infrastruktur dan Perbankan - Picu Minat Investor

Neraca

Jakarta – Dalam rangka meningkatkan investasi pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana menerbitkan indeks infrastruktur dan perbankan. Penerbitan indeks tersebut tengah dikaji dan direncanakan akan dirilis tahun ini.

Direktur Pengembangan BEI, Friderica Widyasari Dewi mengatakan, saat ini pihak BEI tengah menyusun mekanisme dan kriteria saham emiten yang masuk dalam kategori dua indeks infrastruktur dan perbankan. "Masih dalam proses pembahasan. Tapi kami berharap sudah bisa dirilis pada akhir semester satu tahun ini,”katanya di Jakarta, Kamis (1/3).

Dia menambahkan, pengelompokkan saham-saham yang tergabung dalam sektor infrastruktur dan perbankan itu juga untuk melengkapi indeks yang telah ada sebelumnya di BEI. Saat ini, BEI memiliki beberapa indeks di pasar saham antara lain, indeks LQ45, Kompas100, Jakarta Islamic Index (JII), Pefindo 25, Bisnis-27, Sri-Kehati, dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI).

Kata Friderica, indeks infrastruktur akan memuat saham-saham dari perusahaan sektor infrastruktur yang tercatat di BEI. Dan indeks perbankan akan memuat saham dari emiten sektor perbankan.

Dia menyatakan, pihaknya akan menempatkan saham berkapitalisasi besar pada indeks infrastruktur dan perbankan itu. Menurutnya, indeks-indeks yang ada di pasar modal Indonesia saat ini dinilai masih kurang spesifik untuk dijadikan patokan (benchmark) bagi pelaku pasar, sehingga perusahaan manager investasi mengalami kesulitan dalam membentuk produk reksadana baru, khususnya "Exchange Traded Fund" (ETF).

Maka dengan akan diterbitkannya indeks baru itu diharapkan dapat mendorong perusahaan Manajer Investasi (MI) membuat produk reksadana ETF. Diakuinya, saat ini perusahaan investasi belum banyak yang membuat produk ETF, sehingga pihaknya berinisiatif akan memberikan skema diskon (potongan) terhadap biaya transaksi kepada MI. Namun, besarnya diskon biaya transaksi itu masih dalam pembahasan internal BEI.

Friderica optimis, dengan bertambahnya jumlah indeks atau pengelompokkan saham di BEI, serta memberikan diskon biaya transaksi kepada manager investasi, ke depannya akan memicu perusahaan investasi membuat produk reksadana ETF. Apalagi, lanjut dia, sebagian perusahaan investasi asing sudah menjadikan indeks LQ45 dan BEI sebagai "benchmark" dalam mengeluarkan produk reksadana ETF.

Sebelumnya, Direktur Utama Mandiri Manajemen Investasi, Abiprayadi Riyanto mengatakan, pihaknya mempunyai rencana untuk menerbitkan produk reksadana berbasis proyek-proyek infrastruktur di tahun ini. "Pasar modal diharapkan turut berperan dalam pembangunan infrastruktur dalam menyediakan solusi pembiayaan jangka panjang yang cepat. Kami memiliki rekam jejak yang baik di industri reksa dana. Tentu kami selalu terbuka untuk pengembangan reksa dana berbasis infrastruktur," ujarnya. (bani)

Related posts