Meski Siap Lahir Batin, PTPN VII Harus Tunggu Restu - IPO BUMN

NERACA

Jakarta - PT Perkebunan Nusantara VII (PTPN VII) memastikan jika rencana penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) masih menunggu keputusan dari pemerintah selaku pemegang saham.

Direktur Utama PTPN VII, Boyke Mukijat mengatakan bahwa perseroan sudah mempersiapkan diri untuk go public sejak 2008 lalu. Meskipun begitu, lanjut Boyke, semua tergantung dari pemegang saham. "Kita proses sudah siap dari 2008. Tapi untuk go (melantai di bursa), mesti ada persetujuan dari pemegang saham,”katanya di Jakarta, Kamis (1/3).

Namun demikian, IPO tidaklah menjadi opsi utama untuk memperoleh tambahan dana. Boyke menambahkan, hal itu bisa juga melalui surat utang (obligasi) atau pinjaman perbankan. Seperti diketahui, perseroan berencana melepas 30% saham ke publik dengan target perolehan dana sebesar Rp 1,5 triliun.

Dana tersebut akan digunakan PTPN VII untuk peremajaan tanaman dan pengembangan industri minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Sebelumnya, PTPN VII tetap menargetkan diri untuk melakukan IPO di semester dua tahun ini. Pelaksanaan IPO ini masih menunggu kepastian pembentukan holding BUMN perkebunan.

Menurut Direktur Operasi PTPN VII, Mardjan Ustha, perusahaan yang bergerak di bidang usaha agribisnis perkebunan karet, kelapa sawit, teh, dan tebu, saat ini sedang mempersiapkan semua dokumen terkait rencana IPO, walau diakuinya hingga kini, perseroan belum menentukan siapa yang menjadi penjamin emisi (underwriter). “Tujuannya untuk mengembangkan operasi berbasis bisnis inti yang mengarah ke integrasi vertikal,” papar Mardjan.

Jangan ulangi kegagalan

Di tempat terpisah, anggota komisi VI DPR, Idris Laena menegaskan, langkah perusahaan BUMN untuk melakukan IPO harus melalui proses yang transparan dan sesuai aturan yang berlaku. Jangan sampai pelaksanaan IPO malah membentuk sebuah opini negatif masyarakat, baik saat penetapan harga ataupun penjatahan saham."Kami harap bisa transparan dan sehat serta sesuai dengan aturan yang ada, karena kita masih ingat bagaimana proses IPO Krakatau Steel ataupun Garuda Indonesia dan jangan sampai terulang kembali," ucap Idris, beberapa waktu lalu.

Pada tahun ini, PTPN VII menargetkan pendapatan bersih sebesar Rp 6 triliun yang dikontribusikan produktivitas kelapa sawit dan karet yang tahun lalu mencapai 475 ribu ton dengan luas 23.651 hektar (ha). Sementara di 2012, perseroan berupaya untuk meningkatkan produksi karet dengan langkah strategis mengganti lahan kakao (coklat) yang seluas 700 ha dengan karet.

Dengan peningkatan produksi karet ini maka diharapkan mampu memenuhi kebutuhan karet dalam negeri maupun ekspor. Dengan terbentuknya holding perkebunan ini ditargetkan laba perseroan bisa mencapai Rp 5,3 triliun pada akhir 2012.

Tahun lalu saja, laba dari seluruh PTPN hanya sebesar Rp 3,5 triliun. Namun, andai kata PTPN VII gagal IPO, maka tahun ini hanya akan ada satu BUMN yang go public, yaitu PT Semen Baturaja. Sementara, untuk anak usaha BUMN lainnya masih banyak yang diharapkan untuk dapat melantai di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini.

Selain holding BUMN perkebunan dan PT Semen Baturaja, juga PT Jasindo, PT Hutama Karya, serta PT Inti. Sedangkan, PT Pegadaian urung go public dengan alasan untuk menjaga visi dan misi.

Menurut Menteri BUMN, Dahlan Iskan, Pegadaian harus mengutamakan kepentingan masyarakat menengah ke bawah agar tidak terabaikan. Pada 2012, kebutuhan Pegadaian sebesar Rp 7 triliun, di mana sebesar Rp 5 triliun akan dipenuhi lewat pinjaman perbankan atau penerbitan surat utang (obligasi). [ardi]

Related posts