Jamsostek Investasikan Rp 125,7 Triliun - Pada 2012

NERACA

Jakarta - PT Jamsostek Persero menargetkan dana investasi sebesar Rp 125,7 triliun pada 2012. Investasitu bisa mendorong pertumbuhan perusahaan asuransi tenaga kerja mencapai sekitar 15 % dibandingkan 2011 yang hanya Rp 112 triliun. "Dengan investasi sekitar Rp 125,7 triliun, kita harapkan hasil investasinya mencapai Rp 12,2 triliun," kata Direktur Investasi Jamsostek Elvyn G. Masassya seusai Rapat Dengar Pendapat di Komisi IX DPR RI. Kamis (01/02)

Menurut Elvyn, rencananya dana investasi tersebut akan ditempatkan pada obligasi sekitar 40-44 %, deposito berjangka sekitar 28-32 %, saham berkisar 18-22 %, reksa dana sebanyak 4-8 %, serta properti dan penyertaan 1-2 %. "Kita akan menaikkan portofolio di saham dan obligasi, sedangkan deposito diturunkan. Penurunan alokasi ini karena bunga bank rendah dibandingkan tahun lalu," imbuhnya.

Elvyn menjelaskan bahwa di tahun terakhir ini, tingkat keuntungan investasi Jamsostek mencapai 11% -an. "Itu hampir dua kali lipat tingkat bunga deposito perbankan saat ini," ucapnya

Dikatakan Elvyn, antara lain menjelaskan bahwa untuk investasi saham, Jamsostek memfokuskan diri ke saham LQ45 dan saham BUMN. Saham tersebut mampu memberikan tingkat keuntungan menarik. Di samping itu, pondasi emiten BUMN kuat, merupakan penggerak bursa saham. "Saham tersebut juga likuid dan mudah ditransaksikan," ujarnya.

Rencana peningkatan portofolio di obligasi dan saham itu menyusul keberhasilan Indonesia mengantongi status investment grade. Elvyn percaya volume obligasi akan terus bertambah seiring dengan membaiknya status perekonomian Indonesia. "Kami percaya pasar obligasi akan lebih marak lagi. Ada porsi yang kita alokasikan baik obligasi pemerintah maupun korporasi," katanya.

Saat ini, kata Elvyn, kepemilikan obligasi pemerintah masih menguasai sekitar 70 %, sedangkan korporasi hanya 30 %. Perseroan juga terus membeli surat utang yang hold to maturity dan diperdagangkan di pasar modal. "Caranya adalah ketika kupon rendah kita akan tambah porsi trading. Yang kita harapkan bukan dari kupon melainkan gain," tuturnya.

Sebagian anggota Komisi IX DPR RI mempertanyakan langkah yang akan diambil PT Jamsostek di tahun 2015 saat BUMN (badan usaha milik negara) tersebut beralih menjadi BHP (badan hukum publik). Tahun tersebut, sebagai penyelenggara BPJS (badan penyelenggara jaminan sosial) ketenagakerjaan, Jamsostek bukan lagi sebuah PT (perseroan terbatas) yang bisa melakukan investasi.

Anggota Komisi IX DPR RI M Iqbal mengatakan bahwa dengan transisi ke BHP itu, Jamsostek harus melakukan sebuah upaya sinkronisasi antara investasi dengan kedudukan sebagai BHP.

Sementara, anggota Komisi IX yang lain, Endang Agustini, menanyakan apakah dengan kedudukan baru itu, Jamsostek nantinya menghentikan investasi di surat berharga dan lain-lain. Kemudian Endang menanyakan apabila kalau investasi itu diteruskan, bentuknya seperti apa "Hal itu penting untuk dipertanyakan sedari sekarang. Sebab, selama ini, rata-rata tingkat keuntungan investasi Jamsostek mencapai 11-an persen," katanya. **mohar

Related posts