Sentimen Global Tekan Laju Penguatan IHSG

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (11/10), indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah terimbas sentimen negatif eksternal. IHSG BEI ditutup melemah sebesar 117,84 poin atau 2,02% menjadi 5.702,82, sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 21,32 poin atau 2,33% menjadi 893,64.

Kata analis senior CSA Research Institute, Reza Priyambada, pelemahan bursa saham eksternal memberikan psikologi negatif bagi investor di dalam negeri sehingga cenderung mengambil posisi jual saham.”Pelemahan bursa saham AS berimbas ke Asia, termasuk IHSG,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Selain itu, lanjut dia, pelemahan IHSG juga dipengaruhi faktor teknikal, dimana sebagian investor memanfaatkan momentum untuk aksi ambil untung.”Penurunan IHSG diharapkan hanya bersifat sementara dimana investor hanya untuk melakukan aksi ambil untung," katanya.

Kepala Riset Valbury Sekuritas, Alfiansyah mengatakan, kenaikan IHSG secara beruntun dalam tiga hari terakhir, serta kekhawatiran peningkatan inflasi menyusul kenaikan bahan bakar minyak (BBM) non subsidi turut membebani pergerakan IHSG.”Diharapkan inflasi tetap terjaga sesuai dengan target pemerintah dalam APBN 2018 sebesar 3,5%," ujarnya.

Sementara itu, frekuensi perdagangan saham pada Kamis (11/10) tercatat sebanyak 374.984 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 11,24 miliar lembar saham senilai Rp7,43 triliun. Sebanyak 78 saham naik, 337 saham menurun, dan 94 saham tidak bergerak nilainya. Bursa regional, di antaranya indeks nikkei ditutup melemah 915,18 poin (3,89%) ke 22.590,85, indeks Hang Seng melemah 926,70 poin (3,54%) ke 25.266,36, dan indeks Strait Times melemah 84,09 poin (2,69%) ke posisi 3.047,39.

Tekanan terhadap IHSG juga terjadi sejak pembukaan perdagangan. Dimana IHSG dibuka melemah 86,67 poin atau 1,49% menjadi 5.733,99. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 21,59 poin atau 2,37% menjadi 893,38. Kata Alfiansyah, konflik perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang kembali memanas menekan bursa saham global.”Trump menyatakan siap meningkatkan tarif impor lebih lanjut terhadap produk Tiongkok," jelasnya.

Di sisi lain, lanjut dia, pergerakannya IHSG juga terbebani oleh kekhawatiran peningkatan inflasi di dalam negeri menyusul kenaikan bahan bakar minyak (BBM) non subsidi. Kendati demikian, lanjut dia, hasil survei ekonomi Indonesia yang dilakukan oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) bahwa keadaan ekonomi Indonesia menunjukkan hasil pertumbuhan positif meski sedang mengalami tekanan penurunan ekonomi global dapat menjadi sentimen yang menahan pelemahan IHSG lebih dalam.

BERITA TERKAIT

Bayar Utang Eksisting - TBIG Bakal Rilis Global Bond US$850 Juta

  NERACA Jakarta –Danai pelunasan utang yang jatuh tempo, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menerbitkan obligasi dalam denominasi dollar…

IHSG PASCAKERICUHAN 22 MEI

Seorang wanita melintas di depan layar digital pergerakan saham di Jakarta, Kamis (23/5/2019). Pascakericuhan aksi 22 Mei, IHSG ditutup menguat…

RI Mendorong Penguatan Sistem Perdagangan WTO

NERACA Jakarta – Indonesia mendorong penguatan sistem perdagangan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang disampaikan melalui Pertemuan Menteri Perdagangan Asia-Pacific Economic…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pefindo Raih Mandat Obligasi Rp 52,675 Triliun

Pasar obligasi pasca pilpres masih marak. Pasalnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mencatat sebanyak 47 emiten mengajukan mandat pemeringkatan…

GEMA Kantungi Kontrak Rp 475 Miliar

Hingga April 2019, PT Gema Grahasarana Tbk (GEMA) berhasil mengantongi kontrak senilai Rp475 miliar. Sekretaris Perusahaan Gema Grahasarana, Ferlina Sutandi…

PJAA Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta - Emiten pariwisata, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) memiliki tenggat obligasi jatuh tempo senilai Rp350 miliar. Perseroan…