Harga Minyak Dunia Naik Karena Penurunan Ekspor Iran

NERACA

Jakarta – Harga minyak dunia naik sekitar satu persen pada akhir perdagangan kemarin di tengah semakin banyaknya bukti penurunan ekspor minyak mentah Iran sebelum pengenaan sanksi-sanksi baru AS, serta penutupan sebagian produksi di Teluk Meksiko karena Badai Michael.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember naik 1,09 dolar AS atau 1,30 persen menjadi menetap di 85,00 dolar AS per barel. Patokan global Brent mencapai tertinggi empat tahun 86,74 dolar AS minggu lalu, tetapi tergelincir ke level 82,66 dolar AS pada Senin (8/10), sebagaimana disalin dari Antara.

Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November, naik 0,67 dolar AS atau 0,90 persen menjadi menetap di 74,96 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Ekspor minyak mentah Iran jatuh lebih jauh pada minggu pertama Oktober, menurut data tanker dan sebuah sumber industri, karena pembeli mencari alternatif menjelang sanksi-sanksi AS yang mulai berlaku pada 4 November.

Iran, produsen terbesar ketiga OPEC, mengekspor 1,1 juta barel per hari (bph) minyak mentah dalam periode tujuh hari tersebut, data Refinitiv Eikon menunjukkan. Sebuah sumber industri yang juga melacak ekspor mengatakan pengiriman Oktober sejauh ini di bawah satu juta barel per hari.

Ekspor tersebut turun dari setidaknya 2,5 juta barel per hari pada April, sebelum Presiden AS Donald Trump pada Mei menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir 2015 dengan Iran, dan menjatuhkan sanksi kembali. Angka itu juga menandai penurunan lebih lanjut dari 1,6 juta barel per hari pada September.

Sebuah kapal yang membawa dua juta barel minyak Iran menuangkan minyak mentah itu ke tangki penyimpanan di pelabuhan Dalian di China timur laut pada Senin (8/10), menurut data Refinitiv Eikon dan agen pengiriman yang mengetahui tentang masalah tersebut.

Negara ini sebelumnya menampung minyak di gudang penyimpanan di Dalian selama putaran terakhir sanksi pada 2014, yang kemudian dijual kepada pembeli di Korea Selatan dan India. Arab Saudi, produsen terbesar di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), pekan lalu mengatakan akan meningkatkan produksi minyak mentah bulan depan menjadi 10,7 juta barel per hari, sebuah rekor.

Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh pada Senin (8/10) menggambarkan klaim Saudi bahwa kerajaan itu dapat menggantikan ekspor minyak mentah Iran sebagai "omong kosong." "Ada peningkatan kekhawatiran bahwa pemasok seperti Arab Saudi dan Rusia akan kesulitan mengkompensasi penurunan produksi potensial dari Iran dan Venezuela, yang telah mendukung harga minyak dalam sesi perdagangan hari ini," kata Abhishek Kumar, analis energi senior di Interfax Energy di London.

Sementara itu, produsen-produsen di Teluk Meksiko AS pada Selasa (9/10) memangkas produksi minyak sekitar 40 persen ketika Badai Michael mendekati pantai Florida, Biro Keselamatan dan Penegakan Lingkungan (BSEE) mengatakan, mengutip laporan dari 27 perusahaan.

Jika perkiraan terbukti akurat, topan tidak akan mengenai sebagian besar aset-aset produksi minyak, kata analis, tetapi perubahan jalur dapat memperluas dampaknya.

Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa (9/10) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk 2018 dan 2019, mengatakan ketegangan perdagangan dan kenaikan tarif impor menelan korban pada perdagangan, sementara pasar negara-negara berkembang berjuang dengan kondisi keuangan yang lebih ketat dan arus modal keluar.

Data industri dan pemerintah tentang persediaan minyak mentah AS akan tertunda satu minggu ini karena libur Hari Columbus AS pada Senin (8/10). American Petroleum Institute (API) akan merilis data pada Rabu waktu setempat, sementara Badan Informasi Energi AS (EIA) akan mempublikasikannya pada Kamis (11/10).

Produk-produk plastik dan petrokimia lainnya akan mendorong permintaan minyak global hingga 2050, mengimbangi pelambatan konsumsi bahan bakar motor, Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan pada Jumat (5/10) pekan lalu.

Meskipun pemerintah berupaya mengurangi polusi dan emisi karbon dari minyak dan gas, lembaga yang berbasis di Wina itu memperkirakan pertumbuhan yang cepat dari negara-negara berkembang, seperti India dan China, akan mendorong permintaan produk-produk petrokimia.

Petrokimia yang berasal dari bahan baku minyak dan gas membentuk blok-blok bangunan untuk produk-produk yang berkisar mulai dari botol plastik dan produk kecantikan hingga pupuk dan bahan peledak.

BERITA TERKAIT

Keuntungan Naik, Volvo Pertahankan Pusat Ekspor di China

Volvo Cars akan mempertahankan China sebagai lokasi pusat ekspor, setelah mencetak kenaikan keuntungan operasional sebesar 0,9 persen pada 2018, kata…

Peduli Dunia Pendidikan - BCA Bantu Beasiswa Rp 4,95 Miliar Ke 16 Perguruan Tinggi

Mempertegas komitmen kepeduliannya pada dunia pendidikan, PT Bank Central Asia (Persero) Tbk (BBCA) kembali menyalurkan beasiswa bakti BCA terhadap 16…

Tagar #JokowiOrangnyaBaik Masuk Trending Topic Dunia

Tagar #JokowiOrangnyaBaik Masuk Trending Topic Dunia NERACA Jakarta - Jagad media sosial, khususnya Twitter, pada Sabtu (16/2), dikejutkan dengan munculnya…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Sektor Pangan - Kasus Beras Turun Mutu Akibat Tata Kelola Distribusi Tak Optimal

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman menilai kasus 6.000 ton beras busuk di…

Manfaatkan e-Smart IKM, Omzet Usaha Jaket Tembus Rp 50 Juta

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin serius mendorong pelaku industri kecil dan menengah (IKM) di dalam negeri agar terus memanfaatkan…

Ekspor Mobil CBU Ditargetkan Sebesar 400.000 Unit

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor mobil CBU mencapai 400.000 unit pada tahun ini, atau naik 51,2% secara tahunan.…