Sejumlah Negara Afrika Tertarik Pesawat Buatan Indonesia

NERACA

Jakarta – Sejumlah negara Afrika; Madagascar, Kongo dan Sudan tertarik dengan dua jenis pesawat produksi PT Dirgantara Indonesia (PT DI): N 235 dan N 219 yang dipamerkan di Paviliun Indonesia di Nusa Dua, Bali, Direktur Utama PT DI Elfien Goentoro, sebagaimana disalin dari Antara. "Sudah ada Madagascar, Kongo dan Sudan yang menyatakan tertarik dan dalam tahap penjajakan," kata Elfien di Paviliun Indonesia pada Rabu.

Elfien menambahkan keikutsertaan PT DI di pameran Paviliun Indonesia memang bukan bertujuan untuk menjual produk namun lebih menunjukkan karya bangsa kepada para delegasi IMF-WB daris eluruh dunia.

Elfian menyebutkan negara-negara Afrika termasuk pangsa pasar yang ditarget untuk pesawat jenis N 235 dan N 219 karena kedua pesawat tersebut cocok untuk kondisi geografis mereka. "Kalau Eropa baru ada Norwegia yang nanya-nanya karena mungkin dua pesawat jenis ini kan khusus untuk daerah yang memerlukan short take off dan landing sehingga mudah dioperasikan di daerah terpencil," katanya.

Saat ini, PT Di mampu memproduksi rata-rata 10 pesawat dalam satu tahun. Tahun depan empat pesawat sudah dipesan oleh Senegal, Nepal dan Thailand dengan rincian Senegal memesan pesawat N 235 seharga 25 juta dolar AS, Nepal memesan pesawat N 235 dengan konfigurasi pesawat maritime patrol seharga 30 juta dolar AS sedangkan Thailand memesan dua pesawat N 212 i seharga sekira 13 juta dolar AS.

"Kenapa maritime patrol lebih mahal karena pesawat memerlukan kelengkapan seperti komputer, radar dan lain-lain, sedangkan kalau pesawat transportasi biasa kan cuma butuh kursi," katanya.

Sampai saat ini PT DI mampu memproduksi 431 pesawat, 48 di antaranya sudah diekspor ke Korea, Malaysia, Thailand, Turki, Brunei Darusalam, Filipina, Vietnam dan lain-lain. "Memang kita pasarnya cocok untuk negara-negara Afrika, Asia dan Amerika Latin karena sesuai untuk medannya," jelasnya.

PT Dirgantara Indonesia memboyong sejumlah produknya termasuk pesawat CN-235 dan N219 Nurtanio ke Paviliun Indonesia di Nusa Dua, Bali, untuk dipamerkan kepada para delegasi pertemuan tahunan IMF-WB 2018.

"Sudah ada beberapa delegasi IMF-WB yang tertarik dengan produk-produk PT Dirgantara, di antaranya ada menteri-menteri dari Madagaskar dan Somalia," kata Rosyita Rahman, duta BUMN yang bertugas memberikan penjelasan kepada para pengunjung di Paviliun Indonesia, Nusa Dua.

CN 235 adalah pesawat penumpang sipil angkut kelas menengah bermesin dua. Pesawat bermesin turboprop tersebut rancangan bersama PT DI dan CASA Spanyol. "Yang menarik bagi para delegasi adalah CN 235 ini bisa diubah modusnya dalam waktu satu jam di mana pesawat bisa jadi pesawat penumpang, pesawat logistik dan pesawat medis," kata Rosyita.

Selain CN 235, PT DI juga memamerkan pesawat N219 yang diberi nama Nurtanio. N219 adalah pesawat komuter kategori CASR 23, dengan kapasitas 19 penumpang. N219 dikembangkan sejak tahun 2014 oleh PT DI yang bekerjasama dengan LAPAN. N219 cocok digunakan di wilayah perintis dan pegunungan sehingga mampu meningkatkan konektivitas dan aksesbilitas antar-daerah.

"N219 akan disertifikasi oleh DGCA / Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (Indonesia) dan EASA (Eropa). Keunggulannya antara lain bisa short take off dan landing dan mudah dioperasikan di daerah terpencil, bisa self starting tanpa bantuan ground support unit," kata Rosyita.

Selain itu, pesawat juga dilengkapi teknologi yang memungkinkan biaya operasi dan pemeliharaan rendah karena pesawat tidak perlu mengisi ulang bahan bakar untuk melanjutkan penerbangan ke rute berikutnya. "Kabinnya terluas di kelasnya dan serbaguna untuk berbagai macam kebutuhan," katanya.

Pesawat buatan Indonesia sebelumnya memang sudah dilirik negara-negara Afrika. Pada April 2018, PT DI menandatangani kesepakatan penjualan pesawat CN-235 dan NC-212 senilai 75 juta dolar AS dengan angkatan udara Senegal dan Pantai Gading.

Dalam kesepakatan itu Indonesia menjual dua unit pesawat NC-212 seri 200 yang digunakan untuk pengawasan maritim dan satu unit CN-235 seri 220 untuk pesawat patroli maritim angkatan udara Senegal, serta satu unit CN-235 seri 220 untuk transportasi militer angkatan udara Pantai Gading.

Jauh sebelumnya, Kementerian Perindustrian mendapatkan apresiasi dari para peserta pelatihan pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) yang tergabung dalam program Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular (KSST). Kegiatan yang berlangsung selama 18-30 Juli 2018 di Jakarta dan Bandung ini mengusung tema “Capacity Building Program on Enhancing the Development of Small and Medium Industry” dengan diikuti sebanyak 20 peserta dari negara-negara anggota Colombo Plan.

BERITA TERKAIT

Wakil Ketua DPR - Dana Saksi Dibiayai Negara Hindari Persaingan Tidak Sehat

Fahri Hamzah Wakil Ketua DPR Dana Saksi Dibiayai Negara Hindari Persaingan Tidak Sehat  Jakarta - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah…

BPK Apresiasi Karya Film Tentang Kawal Harta Negara

Jakarta - Badan Pemeriksa Keuangan RI (BPK) mengumumkan karya terbaik dalam Malam Penghargaan (Awarding Night) Festival Film Kawal Harta Negara…

“Make Indonesia Great Again”, Mirip Trump-isme?

  Oleh: Iman Poldi, Mahasiswa Fikom Univ. Gunadarma   Calon Presiden (Capres) nomor urut 2, Prabowo Subianto baru-baru ini  menggunakan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Laboratorium Pengujian di Era Disrupsi Teknologi

NERACA Jakarta -  Staf Ahli Menteri Bidang Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), Imam Haryono mengatakan saat ini, pemerintah Indonesia…

Terkait Kemajuan Digital - RI Dapat Topang Asia Jadi Garda Depan Transformasi Industri 4.0

NERACA Jakarta – Implementasi industri 4.0 di kawasan Asia dinilai dapat membangkitkan kontribusi sektor manufaktur dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi bagi…

Ketahanan Pangan Harus Jadi Fokus Pembenahan

NERACA Jakarta – Salah satu hal yang layak untuk diprioritaskan dalam program para calon presiden (capres) dan calon wakil presiden…