Bukukan Laba Positif, Saham Perbankan dan Konsumer Masih Layak Dikoleksi

Neraca

Jakarta – Positifnya laporan kinerja keuangan perbankan dan industri keuangan, menjadi pertimbangan bagi pelaku pasar untuk mengkoleksi saham perbankan dan jasa keuangan, kemudian disusul untuk sektor konsumer dan otomotif.

Analis Samuel Sekuritas Yualdo Yudoprawiro mengatakan, saham sektor konsumer, perbankan dan otomotif memiliki peluang mengalami penguatan beberapa pekan kedepan dan layak dikoleksi, “Saham di sektor-sektor tersebut dalam perdagangan dua hari terakhir merupakan saham penggerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG),”katanya di Jakarta, Kamis (1/3).

Berdasarkan laporan kinerja keuangan perbankan 2011, beberapa bank mencatatkan keuntungan besar. Diantaranya, PT Bank Negara Indonesia (BBNI) mencatatkan laba bersih sebesar Rp5,81 triliun selama tahun 2011, naik 42% dibanding perolehan laba tahun 2010 sebesar Rp4,1 triliun. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) raih laba bersih sebesar Rp14,14 triliun pada 2011, meningkat 23,28% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) meraih laba bersih Rp1,1 triliun pada 2011, meningkat 22,16% dibandingkan dengan periode sebelumnya yang tercatat Rp915,93 miliar.

Namun sayangnya, perdagangan Kamis kemarin, IHSG ditutup melemah 22,924 poin (0,58%) ke level 3.962,286 akibat aksi ambil untung. Pelemahan indeks ini terjadi sejak diawal perdagangan, berlanjut perdagangan sesi I hingga penutupan pasar.

Untuk bursa regional, bursa Amerika Serikat ditutup melemah sekitar 0,5% pada perdagangan Rabu (29/2) kemarin, meski sempat dibuka menguat memfaktorkan sentimen positif rilis data produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal IV-2012 yang tumbuh 3% dan lebih baik dari estimasi.

Selain itu, pernyataan Chairman The Fed Ben Bernanke yang tidak mengindikasikan adanya rencana peluncuran paket stimulus (QE3), yang membuat bursa AS dan Eropa ditutup terkoreksi. Menurut Yualdo, hal ini memfaktorkan sentimen positif dari data manufaktur China yang kembali menguat pada Februari 2012.

Sebelumnya kata Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang memprediksikan, saham-saham emiten besar berbasis pertambangan akan mengalami aksi ambil untung (profit taking) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). “Saham-saham sektor pertambangan perlu diwaspai terjadinya aksi ambil untung antara lain saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Timah Tbk (TINS),”ujarnya.

Kata Edwin, khusus saham Antam setelah dalam laporan keuangan kuartal IV-2011 yang membukukan laba bersih hanya tumbuh sekitar 13,5% rawan aksi ambil untung. Sebagaimana diketahui, dalam laporan keuangan yang dipublikasikan Rabu (29/2), tercatat laba bersih 2011 Antam hanya meningkat 13,5% menjadi Rp1,91 triliun dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya sebesar Rp1,68 triliun.

Sementara penjualan sepanjang 2011 tercatat sekitar Rp10,3 triliun (unaudited) atau hanya mengalami kenaikan 18 persen dibandingkan raihan tahun sebelumnya sebesar Rp8,47 triliun. Untuk volume produksi emas pada 2011 mengalami penurunan sebesar 4% dari pencapaian 2010 akibat turunnya produksi emas Pongkor seiring dengan penurunan kadar bijih emas yang ditambang.

Selain itu, lanjutnya, kondisi itu juga dipengaruhi oleh penurunan tajam harga emas pada perdagangan Rabu (29/2) di Amerika, yakni sebesar 5,1% dan ditutup di bawah US$ 1.700 per troy ons. Sedangkan untuk saham PT Vale Indonesia (INCO) dan PT Timah Tbk (TINS), menurut Edwin, pelemahan ini merujuk pada kejatuhan harga nikel sebesar 2,3% dan merosotnya harga timah sebesar 1,8%. (bani)

Related posts