Era Perdagangan Selatan-Selatan, LPEI Siapkan Pembiayaan

NERACA

Jakarta – Dalam diskusi panel yang bertajuk The Growing Importance of South-South Cooperation Amid Trade Tensions and Global Financial Market Volatility dalam rangkaian acara IMF - WBG Annual Meetings 2018 di Bali, Selasa lalu, Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo menyebutkan bahwaketegangan perang dagang telah memberikan konsekuensi yang cukup besar terhadap pasar global. Merespons hal itu, maka diperlukan suatu kebijakan yang konkret. Salah satunya, adalah menekankan pentingnya Kerja Sama Selatan - Selatan, untuk menciptakan respon serta strategi dalam menghadapi dinamika ekonomi global dengan membuka peluang penetrasi pasar. “Keadaan ekonomi global saat ini menuntut pentingnya kerjasama selatan-selatan, terutama untuk menciptakan respon, serta strategi dalam menangani berbagai situasi yang terjadi," ujar Wamenkeu.

Pemerintah lewat Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank telah menyiapkan pembiayaan khusus untuk negara-negara non tradisional atau bisa termasuk dalam negara yang dikategorikan selatan-selatan. “Untuk melakukan penetrasi pasar, LPEI dukung pembiayaan ke negara-negara di kawasan Afrika dan ini sejalan dengan Penugasan Khusus yang diberikan Pemerintah melalui KMK No.787/KMK.08/2017,” kata Direktur Pelaksana I LPEI Dwi Wahyudi, seperti dikutip dalam keterangannya, kemarin.

Patut diketahui, pada dekade terakhir, terlihat peningkatan volume perdagangan internasional serta perjanjian perdagangan. Dengan ketidakpastian pertumbuhan risiko dari hal-hal tidak terduga terkait pasar keuangan global, perjanjian perdagangan menjadi hal yang penting. Adanya perjanjian perdagangan mempengaruhi penurunan tarif maupun non-tarif antar negara yang berpartisipasi dengan produk yang beragam.

Ketegangan perdagangan dan ketidakpastian dalam perang tarif serta dampak dan konsekuensinya terhadap pasar berkembang. Adanya peningkatan signifikan terhadap tarif impor, semakin menekan volume perdagangan internasional dan kinerja ekspor. Selain itu, tingginya ketergantungan terhadap mata uang dolar, akan membebani pembiayaan eksportir. Adanya prokteksi dalam perdagangan dapat mengurangi akses pasar ke negara-negara maju. Dengan begitu, persaingan yang terjadi di pasar ekspor akan semakin sengit karena para eksportir perlu melakukan pengalihan ekspor dari pasar Amerika.

Sekedar informasi LPEI mencatat, hingga Juni 2018 telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 108,7 triliun kepada eksportir. Jumlah ini telah berkembang sejak 2009 yang sebesar Rp 9,2 triliun. Dari sisi debitur tercatat pada 2018 sebanyak 1.288 entitas atau bertambah dari tahun sebelumnya pada 2009 yang hanya 77 entitas. Khusus untuk sektor Ekspor UKM (UKME) jumlah debitur adalah 38 entitas pada tahun 2009, menjadi 641 debitur pada Juni 2018. Total pembiayaan UKME yang beredar mencapai Rp. 14,03 triliun atau 13,5 persen dari total Pembiayaan LPEI pada Juni 2018.

Sementara itu, total aset LPEI juga tercatat meningkat, dari sebelumnya Rp 12,9 triliun pada 2009 menjadi Rp 119,9 triliun pada 2018. LPEI akan terus memeperkuat diri dengan fokus pada penguatan model bisnis dan penguatan penetrasi pasar.

BERITA TERKAIT

WTO Peringatkan Perlambatan Perdagangan Global

NERACA Jakarta – Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyatakan, indikator triwulanan terkemuka perdagangan barang dagangan merosot ke angka terendah dalam sembilan…

FREN Siapkan Belanja Modal US$ 200 Juta

NERACA Jakarta – PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) mengalokasikan belanja modal tahun ini sebesar US$ 200 juta. Dimana belanja modal…

Pemkab Serang Siapkan 22 Hektare Pengembangan Garam

Pemkab Serang Siapkan 22 Hektare Pengembangan Garam   NERACA Serang - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang segera mempersiapkan lahan seluas 22 hektare…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

MRT Dinilai Tak Pengaruhi Pasar Otomotif

    NERACA   Jakarta - Pasar otomotif di wilayah Jakarta dan sekitarnya dinilai tidak akan terpengaruh dengan kehadiran Moda…

Harga Avtur Turun, Maskapai Diminta Turunkan Harga Tiket

    NERACA   Jakarta - Sejumlah kalangan meminta maskapai penerbangan nasional menurunkan harga tiket pesawat menyusul penurunan harga avtur.…

WIKA Jajaki Peluang Proyek Infrastruktur Di Papua Nugini

      NERACA   Jakarta - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Wijaya Karya (WIKA) menjajaki berbagai peluang proyek…