Bisnis Jembo Cable Terbebani Bahan Baku - Dampak Koreksi Rupiah

NERACA

Jakarta – Buntut dari terkoreksinya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berdampak terhadap performance kinerja keuangan PT Jembo Cable Company Tbk (JECC). Pasalnya, kondisi tersebut membuat beban operasional membengkak. Maklum saja, bahan baku kabel masih sebagian besar dari impor.

Hingga Juli tahun ini, kenaikan bahan baku mencapai 13,7% year on year (YoY) bagi bahan baku tembaga serta sebesar 19,9% bagi produk aluminium miliknya."Selisih kurs kalau pun ada maka mempengaruhi ke harga pokok yang pada gilirannya akan terdampak kepada gross profit. Namun, selisih kurs sendiri tidak begitu terasa jadi bisa dikatakan dalam batas yang ditoleransi," ujar Cahayadi Santoso, Direktur PT Jembo Cable Company Tbk di Jakarta, kemarin.

Meski demikian, Cahyadi mengatakan, JECC tetap optimistis bisa membukukan pertumbuhan pendapatan. Perseroan menetapkan target pendapatan senilai Rp 2,56 triliun atau meningkat 17,25% dibandingkan pendapatan penjualan 2017 sebesar Rp 2,14 triliun. Hal tersebut tercermin dalam buku pendapatan penjualan di Juni 2018 yakni senilai Rp 1,49 triliun atau 55,83% dari total target penjualan tahun ini.

Selain itu, perseroan juga memperkirakan laba komprehensif tahun berjalan pada tahun ini meningkat menjadi Rp 133,5 miliar. Nilai tersebut sudah direalisasikan sebanyak 37,86% pada catatan keuangan Juni 2018 senilai Rp 50,54 miliar.”Jadi fokus utama kami yakni memperluas jaringan distribusi, karena penjualan ke distributor itu terus meningkat dari dua tahun lalu itu mencapai 2% sekarang mendekati 40%. Jadi distributor sebagai salah satu market akan ditingkatkan terus," tambahnya.

Kontrak perseroan saat ini masih mengandalkan dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan swasta. Saat ini, kontrak pada PLN mencapai 30% dari total penjualan dan 16,15% dipegang swasta lainnya. Dijelaskan Cahyadi, PLN dan swasta tidak mau merubah nilai kontrak sehingga biaya produksi perseroan masih menggunakan patokan Rp13.000-an per dollar. Seperti diketahui, JECC pada akhir tahun 2017 mencatatkan pendapatan Rp2,184 triliun dan laba bersih Rp83,355 miliar.

Selain itu, lanjut Cahyadi, perseroan tengah menimbang untuk melakukan pemecahan nilai saham atau stock split pada tahun depan untuk mencapai target kinerja keuangan. Hal itu juga dipercaya dapat meningkatkan likuiditas saham.“Salah satu opsi agar saham perseroan likuid dengan melakukan stock split,” kata dia.

Disampaikannya, perseroan masih menunggu penutupan buku keuangan 2018 untuk selanjutnya opsi stock split akan segera dilakukan,”Kalau kita punya performa yang stabil seperti tahun lalu dan juga ditambah situasi ekonomi di Indonesia, jadi mungkin tahun depan dilakukannya. Jadi kami juga mempersiapkan buat tahun politik juga kalau stock split di tahun depan," ujar Cahayadi.

Sebagai informasi, tahun ini perseroan menargetkan penjualan bersih sebesar Rp 2,5 triliun pada 2018. Target ini meningkat 19,04% dari realisasi penjualan pada tahun lalu senilai Rp 2,18 triliun. Tercatat sampai semester I 2018, realisasi penjualan sudah sekitar setengah dari target akhir tahun dan karena itu, perseroan optimis target bisa tercapai.

Di kuartal I 2018, pendapatan bersih JECC meningkat 38,97% menjadi Rp 763,22 miliar. Seiring pendapatan yang meningkat, beban pokok juga naik 48,53% menjadi Rp 664,02 miliar dari tahun sebelumnya Rp 447,04 miliar. Alhasil, laba bersih JECC pada kuartal I 2018 turun 7,94% menjadi Rp 39,03 miliar dari periode sebelumnya sebesar Rp 42,40 miliar.

BERITA TERKAIT

Andri Sukses Merakit Bisnis Ratusan Juta Rupiah - Kisah Pelapak Bukalapak

Komitmen Bukalapak sebagai perusahaan teknologi yang memiliki visi memberdayakan UKM di seluruh Indonesia melalui pemanfaatan teknologi, terus dilakukan dengan berbagai…

Seberapa Sustain Penguatan Rupiah Lewat Penjualan Obligasi?

Oleh: Djony Edward Tren penguatan rupiah yang super cepat masih menyimpan misteri. Begitu derasnya dana asing masuk dicurigai sebagai hot…

Medco Energi Pacu Ekspansi Bisnis Minyak - Private Placement Rp 1,54 Triliun

NERACA Jakarta – Perkuat modal dalam mendanai ekspansi bisnisnya, emiten pertambangan PT Medco Energi International Tbk. (MEDC) bakal menggelar private…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pefindo Beri Peringkat AA- Chandra Asri

NERACA Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menegaskan rating untuk PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) pada AA-. Prospek…

Bakrieland Raup Untung Rp 3,1 Triliun

NERACA Jakarta – Emiten properti, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) mencatat laba bersih sebesar Rp 3,1 triliun hingga kuartal III-2018…

Pefindo Beri Peringkat A Semen Baturaja

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menegaskan peringkat idA PT Semen Baturaja Tbk (SMBR), serta surat utang jangka menengah atau Medium…