Pasar Asia Belum Bisa Dorong Rupiah

NERACA

Jakarta--- Apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belum banyak bergerak. Rendahnya data inflasi yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) nampaknya belum dapat menyokong penguatan rupiah. Bursa AS turun merespon pernyataan Bernanke terhadap spekulasi quantitative easing ke-3. "Pasar Asia ikut terkoreksi pada hari ini," kata Analis Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih di Jakarta,1/3

Menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah diperdagangkan di kisaran Rp9.098 per USD, dengan rata-rata perdagangan harian Rp9.053-Rp9.143 per USD. Mengutip yahoofinance, rupiah bergerak di kisaran Rp9.108 per USD, dengan range peradagangan Rp9.097-Rp9.117 per USD.

Treasury analyst Telkom Sigma Rahadyo Anggoro berpedapat sama. Menurutnya, rupiah dapat menguat hanya jika Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi. "Market juga masih sepi untuk perdagangan rupiah," katanya.

Menurutnya, saat ini investor masih ragu terkait rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi. Sebab jika hal itu terjadi, inflasi pada 2012 diperkirakan sebesar 6,5%. "Itu jika perkiraan premium naik Rp1.000 per liter," imbuhnya.

Investor semakin dibuat ragu lantaran beberapa waktu lalu BI menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,75%. Padahal jika seandainya inflasi naik, BI Rate juga harusnya naik. "Dari situ investor masih menunggu," tuturnya.

Dilihat dari faktor eksternal, investor berharap jika Yunani mampu memanfaatkan dana talangan yang diterimanya sebesar 130 miliar euro untuk membayar utang jatuh tempo bulan ini. Pergerakan rupiah juga tidak terlepas dari harga minyak dunia. Terpantau harga minyak mulai menurun.

Ketika harga minyak turun, mata uang lain seperti euro akan menguat terhadap dolar. "Namun, di tengah kondisi ini, investor masih akan menggunakan dolar sebagai komoditas utama," tutupnya.

Ditempat terpisah, Treasury analyst Telkom Sigma Rahadyo Anggoro menaksir, kisaran rupiah akan berada di level Rp9.075-9.100 per USD. "Pengaruh masih sama. Jika menguat, karena intervensi Bank Indonesia (BI). Market juga masih sepi untuk perdagangan rupiah," katanya

Dia menyebut, saat ini investor masih ragu terkait rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi. Sebab jika hal itu terjadi, inflasi pada 2012 diperkirakan sebesar 6,5%. "Itu jika perkiraan premium naik Rp1.000 per liter," imbuhnya.

Investor semakin dibuat ragu lantaran beberapa waktu lalu BI menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,75%. Padahal jika seandainya inflasi naik, BI Rate juga harusnya naik. "Dari situ investor masih menunggu," tuturnya.

Sementara jika melihat faktor eksternal, investor berharap jika Yunani mampu memanfaatkan dana talangan yang diterimanya sebesar 130 miliar euro untuk membayar utang jatuh tempo bulan ini. "Yunani diharap bisa melakukan pengetatan anggaran. Sehingga pada 2020 nanti, ratio utang terhadap GDP berada di level 120,5 persen," jelasnya. **cahyo

Related posts