Ekspor Naik 12%, Industri Mainan Jadi Andalan

NERACA

Jakarta – Industri mainan menjadi salah satu sektor manufaktur andalan di Indonesia karena berorientasi ekspor. Untuk itu, kinerja sektor ini tengah dipacu guna memperbaiki struktur ekonomi nasional yang sedang mengalami defisit neraca perdagangan.

“Pemerintah saat ini sangat mendorong industri yang produknya berorientasi ekspor. Apalagi dalam kondisi perekonomian dunia yang juga sedang melambat, kita jangan hanya fokus pada pasar domestik,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto usai meresmikan Peluncuran Batik Barbie yang diproduksi oleh PT. Mattel Indonesia, di Jakarta, sebagaimana disalin dari siaran resmi Kementerian Perindustrian, kemarin.

Kementerian Perindustrian mencatat, industri mainan mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian nasional. Hal ini ditunjukkan melalui sumbangan dari nilai ekspor pada tahun 2017 yang mencapai USD302,42 juta atau naik 11,84 persen dibanding capaian tahun 2016 sebesar USD270,36 juta.

Kebijakan mendorong ekspor nasional telah disusun oleh pemerintah. Kebijakan tersebut antara lain berupa insentif fiskal melalui kemudahan dalam melaksanakan ekspor. “Pemerintah telah membuat beberapa kebijakan yang dapat mendorong ekspor, di antaranya adalah pemberian insentif fiskal untuk industri melalui program Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE),” tutur Menperin.

Selain itu, peran penting industri mainan di dalam perekonomian, tercatat dari nilai produksi yang mencapai Rp10,7 triliun dengan kapasitas sebesar 4.575 ton pada tahun 2017. Kemudian, di tahun lalu juga, nilai investasi industri mainan bisa menembus hingga Rp410 miliar dan sampai saat ini jumlah tenaga kerja yang mampu diserap sebanyak 23.116 orang. “Jadi, sektor ini pun tergolong padat karya, dengan memberikan multiplier effect bagi ekonomi kita dan kesejhateraan masyarakat,” tegas Airlangga.

Oleh karenanya, Kemenperin memberikan apresiasi kepada PT Mattel Indonesia dalam pengembangan industri mainan di dalam negeri yang telah beroperasi sejak tahun 1992. Ini sekaligus menunjukkan kepercayaan Mattel terhadap iklim investasi di Indonesia.

“Melalui PT Mattel Indonesia, kita punya produsen mainan yang telah menguasai pasar global. Untuk boneka merek Barbie, enam dari 10 yang beredar di dunia itu dihasilkan dari perusahaan tersebut. Sedangkan, mobil mainan Hot Wheels, dua dari 10 produk yang ada di dunia merupakan buatan anak bangsa kita,” paparnya.

Apresiasi lainnya diberikan kepada PT Mattel Indonesia karena perusahaan ini menyerap tenaga kerja sebanyak 10 ribu orang dengan nilai ekspor dalam kurun lima tahun terakhir rata-rata di atas USD150 juta per tahun. “Tentunya kinerja ini sudah sejalan dengan kebijakan Bapak Presiden Joko Widodo dalam memacu industri nasional yang padat karya berorientasi ekspor,” jelas Airlangga.

Bahkan, PT. Mattel Indonesia ikut terlibat di dalam program pendidikan vokasi yang link and match antara SMK dengan industri, yang diinisiasi oleh Kemenperin. “Program ini sebagai upaya pemerintah menciptakan tenaga kerja yang kompeten sesuai kebutuhan industri saat ini, seperti di sektor industri mainan yang tentunya memiliki keunikan sehingga membutuhkan keahlian khusus,” imbuhnya.

Seiring implementasi industri 4.0 di Tanah Air, PT. Mattel Indonesia sudah menerapkan teknologi full robotic dalam proses produksinya, sehingga hasilnya lebih efisien, optimal, dan berkualitas. “Yang juga patut dibanggakan adalah mesin produksi mereka yang menggunakan teknologi digital tersebut dibuat oleh insinyur-insinyur kita,” ungkap Airlangga.

Oleh karena itu, Menperin menyambut baik inisiatif dan kesediaan PT. Mattel Indonesia untuk menjadi lighthouse project bagi produsen mainan di dalam negeri. “Kami optimis, dengan implementasi Industri 4.0 seperti yang dilakukan PT. Mattel Indonesia, maka Indonesia dapat mencapai top 10 ekonomi global pada tahun 2030 melalui peningkatan ekspor netto hingga 10 persen dari PDB serta peningkatan produktivitas melalui adopsi teknologi dan inovasi,” ujarnya.

BERITA TERKAIT

Diversifikasi Pasar Ekspor Antisipasi Perang Dagang

NERACA Jakarta – Indonesia perlu melakukan berbagai langkah sebagai bentuk antisipasi dari dampak negatif perang dagang antara Amerika serikat dengan…

BI Perkirakan Anggaran Penerimaan Operasional Naik 7,9%

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) memperkirakan anggaran penerimaan operasional meningkat 7,9 persen menjadi RpRp29,1 triliun pada…

RI Dapat Topang Asia Jadi Garda Depan Transformasi Industri 4.0 - Terkait Kemajuan Digital

NERACA Jakarta – Implementasi industri 4.0 di kawasan Asia dinilai dapat membangkitkan kontribusi sektor manufaktur dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi bagi…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Tampil dengan Warna Baru, Infinix HOT S3X Siap Goda Pengguna

NERACA Jakarta – Vendor smartphone terkemuka asal Hong Kong, Infinix, mengumumkan ketersediaan varian warna baru untuk produk andalannya, Infinix HOT…

Perkuat Ekspor Perikanan, KKP Benahi Pergudangan dan Logistik

NERACA Gorontalo - Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP),  Rifky Efendi…

Secara Volume, Indonesia Eksportir Ikan Hias Terbesar Dunia

NERACA Bogor - Rifky Efendi Hardijanto, Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan…