BI Beri Status Waspada Inflasi April 2011

BI Beri Status Waspada Inflasi April

Jakarta—Meski inflasi pada Maret sudah menurun dan tergolong rendah. Namun Bank Indonesia (BI) tetap tak mau kecolongan. Bahkan memberikan sinyal status “waspada” hingga April 2011 dan terus memantau perkembangan inflasi inti. "Kita masih melihat apa arahnya nanti inflasi inti akan mulai reda pada bulan depan atau tidak. Kita belum tahu kan? Tetapi kita tetap waspada dan memperhatikan soal inflasi inti ini," kata Gubernur BI Darmin Nasution kepada wartawan di Jakarta,5/3

Lebih jauh Darmin mengakui dua bulan terakhir ini tekanan inflasi lebih disebabkan faktor pangan. Karena harga pangan dunia terus bergejolak. "Barang yang di volatile foods misalnya beras, cabai, terigu. Sehingga mendongkrak naiknya inflasi inti. Jadi kita tetap mewaspadi inflasi nanti," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Biro Direktorat Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat Difi A Johansyah menegaskan BI terus mewaspadai perkembangan inflasi ke depan dan menyesuaikan tingkat BI-Rate secara terukur pada waktunya.

Upaya pengendalian inflasi, kata Difi, khususnya tekanan imported inflation dari kenaikan komoditi internasional, juga diperkuat dengan terbukanya ruang penguatan nilai tukar Rupiah lebih lanjut sejalan dengan membaiknya fundamental ekonomi global. "Disamping itu, langkah pengendalian likuiditas melalui penerapan kebijakan makroprudensial dan operasi moneter juga terus diperkuat dengan tetap memperhatikan kebutuhan likuiditas perbankan yang sehat," paparnya.

Dikatakan Difi, BI meyakini inflasi IHK dapat dijaga pada sasarannya yakni 5% plus minus 1% untuk 2011 dan 4,5% plus minus 1% pada 2012. Disisi lain, IHK pada Februari 2011 sedikit menurun, namun risiko tekanan inflasi ke depan masih cukup tinggi. Seperti diketahui, inflasi IHK pada Februari 2011 mencapai 0,13% (mtm) atau 6,84% (yoy), menurun dibandingkan bulan sebelumnya.

Dalam keterangan pers jumat 4/3/2011, ada Koreksi harga beras dan cabai akibat membaiknya pasokan sejalan dengan kebijakan pemerintah, mempengaruhi inflasi kelompok volatile foods yang mengalami deflasi sebesar 0,48 (mtm).

Sementara itu, tekanan inflasi kelompok administered prices sejauh ini masih minimal, yakni mencapai 0,32 persen (mtm) atau 5,34 persen (yoy). Namun, BI terus mewaspadai kenaikan inflasi kelompok inti yang mulai meningkat yakni tercatat sebesar 0,31 persen(mtm) atau 4,36 persen (yoy)

Kenaikan inflasi kelompok inti selama ini dipengaruhi oleh tingginya inflasi volatile foods dan kenaikan harga komoditas internasional. Indikator ekspektasi inflasi di pasar keuangan mulai terindikasi menurun meski masih tinggi sebagai respons dari kenaikan BI-Rate, sementara ekspektasi inflasi di kalangan produsen, pedagang, dan konsumen belum banyak terpengaruh.

Karenanya, BI akan terus menempuh langkah-langkah kebijakan moneter dan makroprudensial, termasuk mengendalikan pengaruh imported inflation tersebut dengan penguatan nilai tukar rupiah. **cahyo

BERITA TERKAIT

Telkomsel Beri Solusi Inovatif Bagi Korporasi

Menggandeng kerjasama dengan Google, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) menghadirkan solusi inovatif yang dibuat khusus bagi korporasi besar, yakni Android Zero-touch…

Waspada Kekeringan

Di daerah yang masih berpotensi hujan, perlu mewaspadai terhadap kemungkinan terjadinya banjir dan tanah longsor. Sebaliknya, di wilayah yang sudah…

Investasi Lampu LED dan PLTS - WIKA Beri Pinjaman WIKA Energi Rp 8 Miliar

NERACA Jakarta - Dukung pengembangan bisnis anak usahanya, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) memberikan pinjaman kepada anak usahanya PT…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

LG Kampanyekan Teknologi TrueSteam

  NERACA   Jakarta - PT. LG Electronics Indonesia (LG) bekerjasama dengan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Hermina Bekasi…

Masih Banyak Perusahaan Publik Tak Peduli HAM - Studi FIHRRST

      NERACA   Jakarta - The Foundation for International Human Rights Reporting Standards (FIHRRST), salah satu organisasi masyarakat…

Menkeu Proyeksi Defisit APBN Capai Rp310,8 Triliun

  NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 berpotensi…