Mengenali Kandungan Nutrisi Pada Anak

Neraca. Masyarakat diharapkan mengenali jenis gula tambahan berlebih dan mewaspadai indeks dan beban glikemik yang tinggi pada kandungan nutrisi anak serta dampaknya. Nutrisi yang mengandung indeks glikemik GI (Glycaemic Index) akan mempengaruhi kerja pankreas dan organ lainnya yang mengakibatkan exposure dari gula darah yang tinggi. Glycaemic Index yang tinggi akan membuat anak menjadi tidak dapat berkonsentrasi dengan baik, mengalami kenaikan berat badan yang cepat serta kerusakan pada pankreas yang akan menyebabkan terganggunya produksi insulin dan berisiko menderita diabetes tipe dua saat dewasa. Susu bubuk tanpa gula tambahan memiliki nilai GI yang sama dengan susu alami yakni tiga puluh dan Glycaemic Load (GL) yang rendah. Penelitian tersebut juga mengungkap bahwa dari tujuh produk susu tersebut hanya satu produk yang memiliki GL yang rendah. Hanya satu produk susu yang diketahui memiliki indeks glikemik yang jauh lebih rendah dibanding produk susu dengan kandungan glukosa lainnya, hal ini disebabkan produk tersebut tidak mengandung karbohidrat atau gula tambahan. DR. dr. Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, Sp.GK, dari Departemen ilmu Gizi FKUI/RSCM dalam acara “Kenali Jenis Gula Tambahan, Indeks dan Beban Glikemik serta dampaknya pada Anak” mengatakan, berdasarkan kategorinya, jenis gula tambahan adalah sirup jagung padat, sukrosa dan sirup glukosa padat. Sementara itu karbohidrat yang memiliki GI yang tinggi adalah glukosa dan roti tawar, GI sedang yakni sukrosa dan madu dan GI rendah yakni fruktosa. Makanan dengan kandungan karbohidrat olahan yang tinggi seperti gula, tepung-tepungan dan maltodextrins memiliki beban glikemik yang tinggi. Hingga saat ini tingginya angka konsumsi karbohidrat olahan memicu penurunah kualitas nutrisi makanan yang dikonsumsi anak di seluruh dunia. Karbohidrat olahan secara cepat melepaskan energi ke dalam tubuh. Sebaliknya, karbohidrat yang dicerna lebih lambat memiliki beban glikemik yang rendah dan secara bertahap melepaskan energi dalam tubuh dalam jangka waktu yang cukup lama. Mengenai kandungan gula tambahan pada susu, dr. Fiastuti mengungkapkan, “Susu merupakan bahan pangan penting bagi anak. Di negara-negara Asia konsumsi susu anak sangat tinggi”. Selain mengandung protein, kalsium, riboflavin, vitamin A dan Zinc, susu berperan dalam menjadi alat transpor vitamin D dan zat besi. Produk susu yang mengandung gula tambahan seperti sukrosa, maltodextrins dan sirup glukosa dapat meningkatkan kepadatan energi, mengurangi nilai gizi susu dan kecenderungan kelebihan glikemia dan insulin. Karbohidrat tambahan dihitung dengan mengurangi total karbohidrat dalam produk susu dengan karbohidrat alaminya. Pada kesempatan yang sama Prof. dr. Jose Rizal Latief Batubara, SpA(K), PhD Guru Besar Endokrin Anak FK UI/RSCM mengatakan, “Anak-anak yang mengonsumsi makanan dengan kadar GL tinggi cenderung memiliki nafsu makan yang tinggi dan pertambahan berat badan yang tidak sehat”, mengganggu kualitas tidur anak sehingga mempengaruhi proses belajar dan perkembangan emosi. Selain itu kelompok usia muda sangat rentan terhadap beban karbohidrat yang tinggi yang menyebabkan meningkatnya kadar gula darah dan dalam jangka panjang dapat mengakibatkan diabetes dua, lanjutnya. Anak-anak yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas akan mengalami hal yang sama saat dewasa dan risiko mengalami diabetes tipe dua dan penyakit jantung di masa depan. Penelitian juga telah menunjukkan bahwa status nutrisi yang buruk pada masa kanak-kanak dapat mempengaruhi fungsi otak dan secara potensial mempengaruhi perkembangan kognitif dan perilaku. Hal yang tidak baik dan harus diwaspadai oleh para orang tua adalah jika gula tambahan dikonsumsi secara berlebihan setiap harinya oleh anak, karena kelebihan energi pada tubuh dapat menyebabkan obesitas, karies gigi dan membangun kebiasaan pola makan yang kurang baik saat anak-anak beranjak dewasa. World Health Organization (WHO) telah merekomendasikan bahwa asupan gula tambahan tidak melebihi 10% dari total energi yang dikonsumsi untuk menghindari kelebihan energi dalam tubuh anak-anak. 10% sama nilainya 4-5 sendok teh untuk anak usia 1-3 tahun dan 5-8 sendok teh untuk anak usia 3 tahun ke atas. (Sahlan)

Related posts