Tsunami Hancurkan Pesona Bawah Laut Indonesia

Kabupaten Donggala dan Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah dilanda gempa dan tsunami pada Jumat (28/9). Bencana alam itu menyebabkan banyak kerusakan di sejumlah area, termasuk destinasi wisata bawah laut yang selama ini menjadi magnet kedatangan turis ke Sulawesi Tengah.

Seorang Peneliti Geofisika Kelautan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Nugroho Dwi Hananto, menjelaskan bahwa tsunami sangat memengaruhi kondisi pesisir dan bawah laut karena gelombang itu memiliki sifat menghantam.

"Ada tiga ekosistem di perairan Indonesia. Pertama ekosistem koral, kedua mangrove, ketiga padang lamun. Kalau ada mangrove depan pantai maka kemungkinan tsunami bisa diredam karena banyak tumbuhan. Gelombangnya terpecah sehingga tidak kuat lagi," ujar Nugroho dikutip dari CNNIndonesia.com,

"Dulu saat tsunami di Aceh dan Mentawai ada mangrove sehingga bisa agak melindungi ekosistem di belakangnya. Tapi kita harus lihat juga seberapa besar gelombang tsunaminya," lanjutnya.

Berkaca pada tsunami yang menerjang Mentawai, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), pada 25 Oktober 2010, seorang penyelam konservasi Dive Center Minangkabau Diver, Mabruri Tanjung, mengatakan ekosistem bawah laut di sana langsung mengalami perubahan drastis.

Ia meyakini efek tsunami Palu dan Mantawai bakal sama. Yang membedakan tergantung kekuatan gempa dan struktur dasar bawah lautnya.

"Pasca gempa di Mentawai ada beberapa penelitian bawah air. Hasil penelitian itu menunjukkan terjadi retakan di kedalaman sekitar 10-15 meter, retakannya memanjang sepanjang garis pantai. Sampai sekarang jejak retakannya masih bisa terlihat," kata Mabruri saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Selasa (2/10).

"Ada satu lokasi yang terumbu karangnya datar, sekarang tinggal patahan-patahan saja karena dahsyatnya gelombang tsunami. Terumbu karang di sana seperti digilas alat berat. Sedangkan di kawasan Pantai Sikakap, ada teluk yang berisi hutan mangrove dan itu habis semua mangrovenya kena tsunami," lanjutnya.

Sedangkan untuk biota laut seperti ikan, Mabruri melanjutkan, dipastikan kawanan ikan demersal akan migrasi ke ekosistem terumbu karang yang tak terdampak tsunami.

"Untuk ikan laut ada dua pembagian besar yakni ikan demersal dan ikan pelagis. Ikan pelagis ini tidak bersarang, sedangkan demersal bersarang di terumbu karang. Ikan itu sama seperti manusia, kalau ekosistem atau rumahnya hancur maka ia akan pindah. Mencari lokasi terumbu karang yang tidak terdampak," kata pria yang juga merupakan instruktur selam Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Sumatera Barat ini.

Sementara itu seorang ahli kelautan Sumatera Barat, Dr. Ir. Suparno, M. Si, menulis kondisi terumbu karang mentawai dalam jurnal berjudul 'Kajian Kondisi Terumbu Karang pasca Gempa dan Tsunami di Pulau Pagai Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai' tahun 2015.

Dalam tulisannya disebutkan kalau kondisi terumbu karang di Mentawai setelah tiga tahun lebih pasca gempa dan tsunami masih dalam kategori buruk dan belum ada pemulihan yang signifikan.

Kini persentase hidup terumbu karang di dua kawasan pantai di Mentawai, barat dan timur, pun tidak mencapai 30 persen. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwonugroho mengungkapkan hingga pukul 13.00 WIB, Selasa (2/10), warga negara asing (WNA) yang berhasil dievakuasi akibat gempa dan tsunami Sulawesi Tengah mencapai 120 jiwa.

Sutopo mengakui masih ada 2 WNA dari Korea Selatan dan Belgia yang masih belum diketahui keberadaannya. Menurut data yang dimiliki pihaknya, sejauh ini ada 2 WNA asal Belgia yang sedang berada di Sulteng saat bencana terjadi. Namun 1 WNA Belgia sudah diketahui berhasil dievakuasi ke Jakarta.

Sementara 1 WNA Korsel yang belum ditemukan diduga masih terjebak di bawah reruntuhan Hotel Roa-Roa, Palu, Sulteng. Dari total 122 WNA asing itu ada WNA asal Singapura (2), Belgia (2), Perancis (8), Spanyol (1), Vietnam (11), Thailand (30), China (21), Sri Lanka (7), Belanda (7), Jerman (20), Swiss (1), Timor Leste (4), dan Hong Kong (2).

Sutopo mengakui ratusan WNA itu kini mendapatkan prioritas untuk dievakuasi menggunakan pesawat Hercules baik dari Palu menuju Jakarta atau dari Palu menuju Makassar.

BERITA TERKAIT

“Make Indonesia Great Again”, Mirip Trump-isme?

  Oleh: Iman Poldi, Mahasiswa Fikom Univ. Gunadarma   Calon Presiden (Capres) nomor urut 2, Prabowo Subianto baru-baru ini  menggunakan…

Indonesia Sejajar dengan Eropa Soal Pengawasan Obat dan Makanan

Indonesia Sejajar dengan Eropa Soal Pengawasan Obat dan Makanan  NERACA Jakarta - Pemerintah Palestina optimistis Indonesia dapat sejajar dengan negara-negara…

Sampoerna Dukung Pemberdayaan UKM di Indonesia

Sampoerna Dukung Pemberdayaan UKM di Indonesia NERACA Jakarta – Pemberdayaan sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di terus dilakukan di…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Kemenpar Siapkan Paket Wisata Danau Toba

Untuk menggenjot jumlah wisatawan ke Danau Toba, Kementerian Pariwisata menyiapkan paket wisata Wonderful Huta Toba untuk menggaet wisatawan mancanegara asal…

Ragam Atraksi di Pasar Cikundul Pikat Wisatawan

Pasar Cikundul yang telah diluncurkan 9 September lalu telah meramaikan wisata pemandian Air Panas Sukabumi karena menyajikan beragam atraksi menarik,…

Pemerintah Bakal 'Paksa' Pengembang Bangun Fasilitas Difabel

Kementerian Sosial akan menyiapkan panduan penyediaan fasilitas umum ramah difabel dengan mengadopsi model terbaik di dunia dengan tetap memperhatikan kearifan…