Pertumbuhan Investasi Diprediksi Bakal Melambat - DAMPAK KENAIKAN HARGA BBM BERSUBSIDI

Jakarta - Kenaikan harga BBM bersubsidi di dalam negeri dipastikan akan mengerek harga sembako dan biaya transportasi. Ujung-ujungnya tekanan inflasi juga makin meninggi. Hingga saat ini wacana kenaikan BBM antara Rp 500 hingga Rp1.500/liter, walau hingga kini pemerintah belum menentukan besarannya. Tapi yang perlu diwaspadai, adalah berimbas pada melambatnya pertumbuhan ekonomi yang diprediksi sekitar turun menjadi 5,8%. Demikian pula pertumbuhan investasi juga diprediksi akan terkoreksi.

NERACA

Berdasarkan catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) selama 2011 mencapai Rp251,3 triliun, naik 20,5% dibanding sebelumnya Rp208,5 triliun. Secara keseluruhan total investasi sebesar Rp251,3 triliun pada 2011 itu melampaui target yang ditetapkan sebelumnya sebesar Rp240 triliun.

Sepanjang 2011 realisasi PMA mencapai Rp175,3 triliun, naik 18,45% dibanding realisasi PMA 2010 sebesar Rp148,0 triliun. Sedangkan PMDN mencapai Rp76 triliun, tumbuh 25,61% dibanding realisasi PMDN 2010 sebesar Rp60,5 triliun. Namun untuk 2012, realisasi investasi ditargetkan sekitar Rp280-Rp290 triliun. “Tak ada kepastian soal BBM, membuat investor bingung. Ini harus cepat dihindari. Jika tidak investasi tentu akan melambat. Perubahan kebijakan banyak akan mengimbas sektor riil", kata peneliti LPEM-FEUI Eugenia Mardanugraha kepada Neraca, Rabu (29/2)

Menurut dia, sikap pemerintah yang tidak tegas dan acap kali mengubah kebijakan membuat iklim investasi menjadi tidak menarik. Imbasnya, investasi di Indonesia tidak akan meningkat meski pasca diraihnya investment grade dari peringkat long term foreign dan local currency Issuer Default Ratings (IDR) Indonesia menjadi BBB- dari BB+. “Pemerintah sendiri yang buat investor malas. Sampai saat ini banyak kebijakan yang diubah-ubah, yang menggantung,” tambahnya.

Lebih jauh, Eugenia menilai, target investasi yang dipatok BKPM sebesar Rp 290 triliun sangat sulit untuk terealisasi. Alasannya, hingga saat ini pemerintah juga belum memutuskan besaran kenaikkan BBM. Bukan tidak mungkin jika akan terjadi mandek di dalam investasi ke depannya. "Saya pesimis dengan target segitu, BBM pasti naik. Besarnya berapa itu jadi pertanyaan. Tapi yang pasti ya akan terjadi penundaan, perlambatan produksi dari investasi yang sudah ditanam", tandasnya.

Lebih jauh dia mengakui investor pasti sudah memperkirakan kenaikan BBM. Namun asalah krusial saat ini, katanya, terletak pada penetapan biaya produksi. "Semua pelaku industri tentu akan menahan sampai dapat kepastian berapa kenaikan harga BBM itu. Saat ini, menahan dulu sampai pada proses produksi selanjutnya. Cost itu nanti akan mempengaruhi biaya produksi, biaya beli bahan baku juga. Jadi mereka pasti orientasikan. Nah sekarang permasalahnnya belum ada kepastian", tekan Eugenia.

Di tempat terpisah, Direktur Jenderal Kerjasama Industri Internasional Kemenperin Agus Tjahjana Wirakusumah justru sebaliknya. Rencana kenaikan BBM tak mempengaruhi penurunan minat investor yang akan berinvestasi di Indonesia. Pasalnya di negara para investor tersebut, harga BBM jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia.

Lebih jauh lagi Agus memaparkan,kebanyakan Investor yang saat ini gencar untuk berinvestasi di Indonesia dari Jepang,Korea dan Amerika. Negara mereka harga BBM nya lebih mahal,jadi kalau naiknya BBM di Indonesia bukan suatu penghalang buat mereka untuk berinvestasi. “Investor butuh negara yang aman,tidak ada gejolak sosial,kepastian hukum, bukan harga BBM” ujarnya.

Investor Jepang, kata Agus lagi, justru sangat gencar berinvestasi di sektor otomotif,Korea investasi disektorlogam atau Baja, infrastruktur dan migas. Sementara untuk Amerika lebih banyak investasi disektor perminyakan.

Benahi Infrastruktur

Menurut Anggota DPR komisi VI Aria Bima menyatakan dengan kenaikan BBM mau tidak mau akan berpengaruh terhadap investasi asing yang masuk Indonesia. “investasi asing itu kan mau berinvestasi ke Indonesia karena harga BBM di sini terbilang cukup murah, jadi murahnya BBM menjadi daya tarik investor,” ujarnya. BBM akan menjadi pilihan yang utama bagi investor yang akan berinvestasi di Indonesia.

Dia menjelaskan kenaikan BBM merupakan hal yang wajar saja akan tetapi yang perlu diperhatikan pemerintah untuk tetap menjaga investasi di Indonesia menarik adalah dengan membenahi infrastruktur. “dengan membenahi jalan rusak, membangun pelabuhan modern, dan yang lainnya maka investor akan tetap menanamkan invetasinya walaupun terjadi kenaikan BBM,” tambahnya.

Dia pun pesimistis nilai investasi asing ke Indonesia akan menurun. Menurut data BKPM, nilai investasi asing ke Indonesia pada tahun 2011 mencapai Rp 240 triliun. “bisa saja angka itu akan terus turun sejalan dengan kenaikan BBM yang menjadi patokan mereka untuk investasi disini,” lanjutnya, kemarin.

Dengan status yang diemban oleh indonesia yaitu investment grade, menurut dia, tidak akan berpengaruh juga terhadap investor asing. “bisa saja status investment grade akan dipertimbangkan kembali seiring dengan kenaikan BBM. Jadi kenaikan BBM benar-benar merubah semuanya,” ucapnya.

Sementara, pengamat ekonomi Universitas Airlangga Surabaya, Imron Mawardi juga tak membantah terjadinya multiplier effect menyeluruh terhadap perekonomian, akibat kenaikan BBM. "Kalau target pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini 6,5%, kami pesimistis opsi kenaikan harga BBM subsidi bisa merealisasi target itu," ungkapnya

Menurut Imron, jika kenaikan harga BBM subsidi per 1 April mendatang misalnya meningkat Rp1.500 per liter maka dapat mengakibatkan inflasi di bawah 1,5%. "Hal tersebut berkaca dari pengalaman pada tahun 2005 di mana saat itu inflasi mencapai 17% karena kenaikan harga BBM terjadi dua kali atau rata-rata meningkat 10% ," ujarnya.

Sementara itu, terkait target pertumbuhan ekonomi Jatim tahun 2012 mencapai 7,5%, dia menilai, harapan pemerintah tersebut terlalu tinggi seiring opsi kenaikan harga BBM per 1 April ramai didengungkan akhir-akhir ini. "Selain itu, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi Jatim sebesar 7,5% selama tahun 2012 maka diperlukan investasi senilai Rp170 triliun. Padahal, per tahun 2011 investasi yang ada di Jatim minim," katanya.

Dengan demikian, prediksi dia, pertumbuhan ekonomi Jatim pada tahun 2012 idealnya ditargetkan di posisi antara 7,2%-7,3% atau sama dengan pencapaian pada tahun 2011. "Namun, syarat utamanya Jatim harus bisa mencatatkan belanja modal pemerintah dengan porsi melebihi 17% sehingga bisa mendukung target pertumbuhan ekonomi 2012," paparnya. iwan/maya/bari/cahyo

Related posts