Aktivis LSM Cilik Yang Mendapat Perhatian PBB - Direktur Greenwood Nusantara Muhammad Miqdad

Selama ini masalah lingkungan hidup seolah hanya menjadi bagian dari kepedulian kaum dewasa saja. Namun anda pasti akan tercengang apabila ternyata seorang anak baru gede (ABG) mendapat perhatian yang tidak kalah tingginya dengan kalangan dewasa.

Neraca. ABG itu adalah Muhammad Miqdad, 14 tahun. Kiprahnya di bidang pelestarian lingkungan hidup ternyata sudah mendapat perhatian internasional. Bahkan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Ban Ki-Moon mengakui perannya dalam upaya pelestarian lingkungan. Siapakah Muhammad Miqdad?

Dia adalah Direktur Greenwood Nusantara, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang lingkungan hidup.

Miqdad mengatakan pada awalnya lembaga yang didirikannya pada 2007, semula diberinya nama Malang Environment Club (MEC). Namun secara internasional nama Malang kurang menjual, oleh karena itu namanya kemudian diubah menjadi Greenwood Nusantara, yang diambil dari nama jalan di kompleks perumahan tempat tinggalnya di Malang.

Menurut dia, visi/misi Greenwood Nusantara adalah mewujudkan dan memelihara sikap positif dan pengembangan kemampuan terhadap anak muda dalam masa kritis kehidupannya.

Lembaga yang dipimpinnya juga mendukung, mendidik dan memberikan kesempatan kepada anak muda untuk membuka hati dan pikiran sejalan dengan pelajaran agama guna melestarikan keindahan alam, juga mempunyai kemampuan untuk mengelola alam tanpa merusak lingkungan. Melakukan hal itu melalui kegiatan seperti kemah konservasi, kemah agama, konferensi lingkungan, petualangan lingkungan dan ekspresi lingkungan. Selain itu juga berbagi kemampuan dan pertukaran siswa dari tingkat SD sampai tingkat universitas.

Menurut dia, kegiatan melibatkan anak muda dari semua lapisan kehidupan termasuk anak sekolah, pemuda, orang kurang mampu yang mempunyai kebutuhan khusus. Secara khusus ingin memberi petunjuk kepada pemuda untuk membangun hubungan dengan orang lain dan lingkungannya, memperkaya pengalaman personal dan hubungan dengan Ibu Pertiwi.

Miqdad mengatakan motto Greenwood Nusantara adalah SS-CARRER, yaitu skill, sustainability, conservation, awareness, religion, eco education, eco-expression, dan reduse, reuse, recycle.

Yang dimaksudkan dengan skill (keahlian) adalah anak muda mempunyai kemampuan yang diperolehnya dari pelatihan. Sedangkan keberlanjutan adalah anak muda mampu berkelanjutan. Dari sisi konservasi, anak muda dapat melestarikan dan mengelola secara hati-hati terhadap lingkungan dan sumber daya alam.

Dari sudut pandang agama, katanya, anak muda mempunyai lembaga untuk menyatakan kepercayaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dari sisi pendidikan lingkugan, anak muda mendapat pendidikan lingkungan dan sumber daya alam. Dari sisi eco expression (pernyataan lingkungan), adalah pemuda mempunyai kemampuan berkomunikasi (dalam bentuk lisan dan tertulis) mengenai kepercayaan atau pendapat atas lingkungan dan sumber daya alam.

Kemudian reduce, Reuse, Recycle, anak muda mempunyai pengetahuan mengenai reduce

(mengurangi), reuse (menggunakan kembali) dan recycle (daur ulang) dari elemen dasar dari lingkungan dan sumber daya alam.

Dia mulai mewujudkan keinginannya untuk terlibat di bidang riset lingkungan dengan belajar membuat riset dan kerja ilmiah dengan didampingi ibunya.

Menurut Miqdad, untuk pertama kalinya dia membuat karya ilmiah dan riset berupa kompor tenaga surya.

Pada 2008 hasil riset pertamanya dipamerkan di Mini Conference on Climate Change 2008 yang diselenggarakan oleh Sekolah Ciputra, Surabaya.

Setelah itu hasil risetnya diikutkan dalam pemilihan Ratu dan Pangeran Lingkungan Malang Raya 2008 dan Miqdad terpilih sebagai finalis.

Pada 2009 hasil risetnya terpilih sebagai salah satu dari empat partisipan dari Indonesia untuk mengikuti UNEP Tunza International Children and Youth Conference 2009 in Daejeon, Korea Selatan.

“Ini pengalaman pertama saya melakukan perjalanan ke luar negeri sendiri,” katanya.

Kiprahnya di acara konferensi internasional, mendapat perhatian Sekjen PBB Ban Ki-Moon yang secara khusus melihat produk kompor tenaga surya yang dipamerkannya.

Miqdad menjelaskan bahwa kompor tenaga surya yang dibuatnya berupa wajan (penggorengan) yang di bagian dalamnya dilapisi dengan cermin sebagai alat pemantul cahaya matahari. Cahaya matahari yangdipantulkan itu diarahkan ke panci yang berisi air. Ketika dicoba di Korea Selatan, kompor itu bisa memanaskan air dalam waktu dua jam. Sedangkan ketika dicoba di Indonesia, bisa memanaskan air yang sama dalam waktu satu jam.

“Indonesia mempunyai sinar matahari yang berlimpah dan perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” katanya.

Menurut Miqdad, Sekjen PBB Ban Ki-Moon sangat terkesan dengan kompor tenaga surya yang dirancangnya. Sekjen PBB sangat senang dengan prakarsa yang dilakukannya, dan berharap Miqdad bisa membuat program-program rintisan yang mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata yang sangat berkesan dari Sekjen PBB Ban Ki-Moon adalah “think globally, act locally.” (Berpikirlah secara global dan berbuatlah untuk lingkungan lokal).

Sekembalinya dari Korea Selatan, dengan dibantu ibunya Miqdad membentuk Greenwood Nusantara.

Pada 2010 Miqdad bersama dua saudara dan dua sepupunya yang bergabung menjadi anggota Greenwood Nusantara mengikuti Lomba Melukis Tunza di Nagoya, Jepang. Tahun itu dia tidak mengikuti konferensi Tunza karena harus mengikuti ujian akhir sekolah.

Pada 2011 dia mengembangkan Greenwood Nusantara bersama LSM dari Malaysia yaitu Yayasan Anak Warisan Alam (YAWA), Hijau Nusantara dan Tree Theater Group (TTG). Kebanyakan dari kegiatannya adalah melibatkan sebagai anggota dari Greenwood Nusantara seperti Ramadan Eco Camp, Eco Adventure Trip, Syabas and Puncak Niaga Event, etc.

Pada September Greenwood Nusantara mendapat kehormatan karena 14 anggotanya bisa mengikuti Tunza International Children and Youth Conference di Bandung, Indonesia.

“Sungguh merupakan suatu kehormatan karena sebagai satu-satunya peserta anak-anak yang mendapat kesempatan untuk menyampaikan makalah di sana.”

Setelah acara itu tim Greenwood Nusantara berlanjut mengikuti Save Our Rare Earth Camp di Institute of Biodiversity (IBD) Lanchang, Pahang, Malaysia, untuk mempelajari tentang gajah.

Pada 2012 banyak hal yang akan dilakukannya, salah satunya adalah untuk membantu anggota Greenwood Nusantara Banten untuk membersihkan aliran sungai Ciujung, Serang,Banten, yang tercemar berat oleh industri.

“Mimpi besar saya pada tahun ini adalah mengadakan konferensi mengenai hutan di Bukit Tiga Puluh, Jambi dan Bukit Soeharto, Kalimantan Timur,” katanya.

Sebagai persiapan, katanya, bersama ayah dan ibunya dia menjalin hubungan kerja sama dengan LSM di Asia, Eropa, Australia dan Afrika.

Miqdad mengatakan bahwa kesibukannya yang luar biasa sebagai Direktur LSM Greenwood Nusantara membuat waktunya tersita banyak. “Namun saya tetap belajar dengan cara home schooling. Salah satu guru saya adalah Kak Seto Mulyadi,” katanya.

Dia mengatakan dengan cara home schooling itu, bisa mengikuti pelajaran sebagaimana seharusnya. “Kedua orang tua saya mendukung aktivitas saya dan mimpi saya dalam menjalankan LSM ini,” katanya.

(agus)

Related posts