Anggota DPR-RI

Oleh : Firdaus Baderi

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Gaya hidup adalah gerak gerik seseorang dalam bertingkah laku yang berimplikasi pada terbentuknya pola kehidupan tertentu. Terutama jika ia ingin dipersepsikan oleh orang lain terhadap dirinya, maka ini sangat berkaitan dengan bagaimana ia membentuk citra di mata orang lain, khususnya status sosial yang diproyeksikannya terlihat tinggi.

Coba saja kita mampir ke gedung DPR Senayan, kita akan melihat sederetan mobil mewah terparkir di sana. Mobil sekelas Alphard yang harganya miliaran rupiah menghiasi parkiran gedung parlemen. Begitu juga terlihat mobil mewah lainnya seperti Mercedes Benz seri GL (Rp 2 miliar), Lexus (Rp. 1,1 miliar), Hummer (Rp 1,4 miliar), Velfire (Rp1,1 miliar), Jeep Wrangler (Rp. 900 juta) dan Toyota Harier seharga Rp. 660 juta ada di sana.

Selain itu, masih banyak harta lainnya seperti kepemilikan rumah pribadi yang makin bertambah, simpanan uang yang semakin “gendut” di rekening bank, serta kebiasaan-kebiasaan perlente lainnya, seperti model berpakaian yang terlihat glamour bak artis papan atas, semakin membuat figur anggota dewan makin tenar di mata publik.

Sikap hidup sebagian wakil rakyat yang menunjukkan gaya hidup bemewah-mewahan seperti itu dinilai tidak etis. Sebab, sikap demikian sangat bertolak belakang dengan kondisi bangsa dimana jutaan rakyatnya masih miskin, dan juga kinerja DPR sendiri yang biasa-biasa saja.

Meski soal kepemilikan harta seseorang adalah hak mereka, para anggota DPR seharusnya memiliki kepekaan sosial akan kondisi bangsa yang masih terpuruk dan kekurangan. Bukankah mereka selama ini hidup dan merasakan kemewahan dari pajak yang diberikan rakyat? Apakah kinerja mereka sudah “sebagus” penampilan sehari-hari mereka?

Yang menarik lagi, adalah usia dan pendidikan mereka patut mendapat perhatian. Pasalnya, 93% anggota DPR memiliki gelar sarjana yang berarti meningkat 9,41% dari periode sebelumnya. Begitu pula sebesar 62% anggota berusia antara 23 sampai 50 tahun atau naik 9,96%. Ini memperlihatkan anggota DPR periode 2009-2014 diisi oleh politisi muda yang masih segar dan bersemangat. Sejatinya, anggota dewan yang muda lebih progresif dalam perubahan ketimbang mereka yang berusia di atas 50 tahun.

Jadi, secara umum menggambarkan anggota DPR periode sekarang lebih baik dari periode sebelumnya. Ekspektasi masyarakat juga sangat besar terhadap kualitas kinerja DPR. Namun ternyata harapan itu pudar gara-gara ada beberapa politisi muda berbuat negatif bahkan menjadi tersangka kasus korupsi belakangan ini.

Related posts