Perekonomian Terjebak "Triple Gap"

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Ekonomi dan Industri

Sekarang saatnya berpikir untuk kepentingan nasional (national interest) setelah satu dasawarsa lebih bermain di ladang untuk menyejahterakan global player. Turn back around harus kita lakukan dikala Indonesia jatuh di pelukan tangan kapitalisme, liberalisme, dan pragmatisme, sehingga kehidupan bangsa ini dibuat repot oleh kehadiran mereka.

Saban hari dibanting banting kondisi pasar di negeri ini oleh aksi-aksi para pelaku pasar yang datang kemudian pergi meninggalkan rupiah terpuruk, IHSG anjlok, dan nilai tukar penduduk Indonesia asli pengguna rupiah yang loyal juga terdepresiasi sehingga daya belinya turun. Kita jadi korban, bukan tampil sebagai pemenang.

Terbukti kita jadi repot sendiri ketika bangsa ini asetnya dikapitalisasi oleh modal asing. Kita hanya menikmati kurang dari separuh nilai tambah yang diciptakan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi.

Prinsip pembangunan ekonomi yang dijadikan acuan adalah growth for growth, belum menjelma menjadi growth trough equity, sehingga Indonesia terjebak triple gap bersamaan yaitu kesenjangan antar wilayah, antar sektor dan antar kelompok pendapatan. Growth for growth dan berkiblat pada sistem kapitalisme dan liberalisme hasilnya = triple gap.

Kita tidak perlu cari kambing hitam siapa yang salah dan siapa yang lebih benar. Saatnya Indonesia harus mengubah paradigma "ketergantungan" menjadi "kesetaraan" atau mengubah ketergantungan eksternal menjadi kekuatan internal. Sebab itu, Indonesia perlu pemimpin natural yang pikiran dan tindakannya selalu ditempatkan untuk kepentingan nasional. Indonesia tidak patut lagi hanya menjadi dealer atau agen tunggal pemegang merek kapital global, dan karena itu butuh pemimpin natural, bukan pemimpin "karbitan" atau "cangkokan".

Sudah terlalu banyak narasi politik pragmatisme beredar dan berputar seperti likuiditas global yang hanya berpikir tentang nilai pasar. Saatnya berubah, turn back round untuk membangun basis ekonomi kuat dengan melakukan upaya masif melayani bakat dan minat anak bangsa menjadi startup company di tiga sektor utama yaitu, pertanian, industri pengolahan dan industri pariwisata.

Pemimpin natural kita harapkan membawa Indonesia menjadi global player yang dimotori oleh para starup companynya dimana pemimpin natural bekerja di balik proses politik, kebijakan dan regulasinya. Membesarkan modal asing bukan tugas dan tanggung jawab pemimpin natural. Tugas dan tanggung jawab pemimpin natural adalah membesarkan startup company local agar menjadi localize leaders yang use tecnology, eco friendly dan berjejaring luas,baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Bibit unggulnya sudah terlalu banyak. Tapi karena Indonesia lebih sibuk urus dealer seperti JP Morgan dan lain-lain dan sibuk urus agen tunggal pemegang merek global, tingkat ketergantungan eksternal kian tinggi dan menguat, sehingga negeri ini hidup dalam kolonisasi kapitalisme dan liberalisme. Asetnya gampang digoreng, dimatangkan dan digosongkan suka-suka tukang gorengnya.

BERITA TERKAIT

Pendalaman dan Penguatan Struktur Ekonomi

  Oleh:Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Kalau Indonesia masih lebih sering dibicarakan sebagai penghasil dan pengekspor komoditas, maka…

Rakyat: Wakil & Suara

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo September ceria telah berlalu dan tentu semua berharap…

BMPK, Peluang atau Tantangan

Oleh : Agus Yuliawan  Pemerhati Ekonomi Syariah Regulator Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus melakukan pengetatan pengawasan terhadap lembaga perbankan, baik…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Pendalaman dan Penguatan Struktur Ekonomi

  Oleh:Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Kalau Indonesia masih lebih sering dibicarakan sebagai penghasil dan pengekspor komoditas, maka…

Rakyat: Wakil & Suara

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo September ceria telah berlalu dan tentu semua berharap…

BMPK, Peluang atau Tantangan

Oleh : Agus Yuliawan  Pemerhati Ekonomi Syariah Regulator Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus melakukan pengetatan pengawasan terhadap lembaga perbankan, baik…