Ancaman Ketidakpastian Ekonomi

Kondisi ekonomi dunia yang penuh ketidakpastian akibat penyelesaian krisis ekonomi Eropa yang berlarut-larut, ternyata mendorong lembaga keuangan internasional IMF yang semula memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia 4%, merevisi proyeksinya, turun 0,7% menjadi 3,3% pada tahun ini.

Tidak hanya itu. ekonomi Eropa juga diperkirakan akan mengalami kontraksi 0,5% pada 2012. Demikian juga pertumbuhan ekonomi negara sedang berkembang Asia diperkirakan akan menurun 0,7% menjadi 7,3% dengan laju pertumbuhan ekonomi ASEAN-5 diperkirakan turun 0,4% termasuk Indonesia.

Banyak analis ekonomi menduga krisis ekonomi Eropa akan semakin buruk dan ketidakpastian solusinya telah menyandera ekonomi dunia ke dalam ketidakpastian, dan memberikan dampak negatif pada situasi perekonomian dunia.

Dampaknya, tentu saja berimbas berimbas ke kawasan negara Asia yang selama ini dikenal tangguh. Bahkan pertumbuhan ekonomi China pada kuartal IV/2011 turun menjadi 8,9%, padahal saat krisis ekonomi AS ekonominya masih tumbuh di atas 9% dan ekonomi India juga tumbuh 6,9% pada kuartal III/2011. Data ini menunjukkan bahwa ketidakpastian ekonomi global yang disebabkan ketidakpastian solusi krisis ekonomi Eropa, rendahnya pertumbuhan ekonomi AS, serta mulai kontraksinya ekonomi Jepang, membuat perekonomian China dan India yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi Asia juga merosot.

Bagaimana dengan kondisi Indonesia? Dampak krisis di negeri ini mulai terasa sejak akhir 2011 di mana nilai ekspor mulai turun. Data BPS menunjukkan nilai ekspor Desember 2011 hanya mencapai US$17,20 miliar, lebih rendah dibandingkan posisi Juni 2011 US$18,3 miliar.

Hal yang sama juga terjadi pada ekspor nonmigas yang turun menjadi US$13,60 miliar pada Desember 2011 dari semula US$14,82 miliar pada Juni 2011. Akibat berkurangnya ekspor, pengusaha mulai mengurangi karyawan ataupun jam kerja karyawan. Padahal nilai ekspor tahunan selama periode 2011 masih tumbuh 29,05%.

Data Bank Indonesia (BI) juga menunjukkan neraca berjalan yang makin tipis surplusnya, tinggal US$199 juta pada kuartal III/2011, padahal kuartal I/2011 masih surplus lebih dari US$2 miliar. Angka neraca pembayaran pun mulai defisit US$3,8 miliar, dibandingkan kuartal II/ 2011 masih surplus US$11,8 miliar. Ini terjadi karena surplus perdagangan barang dan jasa semakin menipis serta transaksi modal dan finansial yang defisit sejak kuartal III/2011.

Karena itu, Indonesia harus mulai mewaspadai dampak krisis ekonomi Eropa yang membawa pengaruh besar pada perekonomian global saat ini. Apalagi situasi perkembangan internasional yang negatif tersebut dibarengi dengan kondisi dalam negeri yang menimbulkan banyak ketidakpastian, serta menghangatnya suasana sosial dan politik.

Banyaknya berita negatif yang kita temui hampir setiap hari, serta sejumlah ketidakpastian mengenai berbagai kebijakan ekonomi domestik telah membuat suasana “tidak nyaman” bagi iklim bisnis dan investasi di Indonesia. Ini tentu saja akan mengurangi minat investor asing menanamkan modalnya di negeri ini.

Walau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berusaha meyakinkan perwakilan asing, perwakilan tetap ASEAN, dan organisasi internasional di Jakarta bahwa kondisi Indonesia tidak seburuk yang diberitakan media masa. Namun muncul kemudian berita negatif lagi tentang Indonesia sebagai “surga” bagi praktik pencucian uang (money laundering).

Karena The Financial Action Task Force memasukkan Indonesia sebagai negara yang dianggap tidak dapat memberantas money laundering. Tentu saja masuknya Indonesia dalam black list tersebut tidak menguntungkan. Persepsi internasional terhadap Indonesia jatuh lagi meski sudah mendapat penilaian investment grade dari lembaga rating internasional Fitch dan Moody’s..

Related posts