Pencopotan Dirut Bank Sulteng Sesuai Prosedur

NERACA

Palu---Pencopotan Direktur Utama PT Bank Sulawesi Tengah Moh Ilham Soeroer sudah berdasarkan pertimbangan matang berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan hasil evaluasi Bank Indonesia Palu. "Yang jelas secara teknis penilaian dari BI dan BPK juga lemah. Cuma saya kira tidak perlu saya beberkan. Yang jelas terlalu banyak kelemahannya," kata Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola di Palu,

Longki mengatakan penilaian terhadap kinerja Bank Sulteng tidak saja dari BI dan BPK namun juga dari pengawas internal bank pelat merah itu. Namun Gubernur tidak bersedia merinci lebih jauh secara detail tentang kegagalan Ilham Soeroer dengan alasan menghargai kinerja Ilham Soeroer selama ia menjabat dirut berdasarkan keputusan Gubernur tanggal 7 Februari 2011.

Menurut Longki, secara umum kinerja Bank Sulteng dibawah kepemimpinan Ilham Soeroer kurang beruntung bahkan cenderung merugi. Selain itu, kata dia, kepemimpinan Ilham Soeroer tidak ada perubahan signifikan terutama dari berbagai segi, salah satunya tidak mampu mengatasi kredit bermasalah.

Diakui Longki, kredit bermasalah tidak semuanya terjadi saat Ilham memimpin Bank Sulteng, tetapi sejak Ilham memimpin tidak ada perubahan penyelesaian kredit bermasalah tersebut. "Kita sudah beri waktu satu tahun, tetapi tidak ada perubahan. Itu artinya apa," paparnya

Sementara, Komisaris PT Bank Sulteng Syahril Alatas mengatakan mantan Direktur Utama BPD Ilham Soeroer tidak bisa disalahkan dalam memimpin bank tersebut karena ia terpilih melalui uji kepatutan dan kelayakan. "Pak Ilham tidak boleh disalahkan karena dia lulus uji kepatutan dan kelayakan. Hanya saja kelihatannya dia tidak punya pengalaman operasional," kata Syahrir.

Menurut Syahrir, Ilham Soeroer memang berpengalaman dalam dunia perbankan hanya saja Ilham tidak berpengalaman dalam operasional perbankan. "Ilham latar belakangnya dari Bank Indonesia yang lebih bersifat pengawasan, pembinaan dan mengatur moneter. Begitu operasionalnya, kelabakan juga," ungkapnya

Pergantian Ilham Soeroer berlangsung mendadak padahal jabatan mantan deputi senior Bank Indonesia Palu itu berlangsung sampai 2015. Syahril mengakui bahwa pergantian Ilham Soeroer tidak terlepas dan hasil temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Sulawesi Tengah salah satunya terkait dengan kredit macet. Sebenarnya dari tahun ke tahun sudah ada warisan kredit macet di bank pelat merah tersebut. "Makanya ini harus ditemukan masalahnya," kata Syahrir.

Dia mengatakan, fasilitas Bank Sulteng saat ini sudah tersedia baik tinggal meningkatkan koordinasi dan strategi pasar "Koordinasi dengan stakeholder internal maupun ekstral. Startegi dalam bisnis perbankan, baik dari sisi kredit, maupun dalam upaya menunjang perekonomian masyarakat," katanya.

Dia mengatakan Bank Sulteng harus melayani nasabah dengan sistem jemput bola. Karena itu,bank prinsipnya dagang uang untuk menghasilkan uang, bukan menghaskilkan barang. "Karena kita di sana tidak hitung barang, kita hitung uang. Neracanya harus naik," katanya. **cahyo

Related posts