Para Games Bukan Lagi Ajang Nomor Dua

Oleh : Dodik Prasetyo, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)

Asian Para Games 2018 tinggal menghitung hari. Event olahraga untuk penyandang difabel se-Asia ini akan dibuka pada 6 Oktober mendatang. Biasanya Para Games di event-event olimpiade sebelumnya hanya menjadi event nomor dua setelah avent utama. Memang tidak banyak yang membahas hal ini tapi menjadikan Para Games sebagai ajang nomor dua bukan lagi sebuah rahasia.

Tapi tidak di Asian Para Games 2018 di Jakarta. Pemerintah Indonesia yang diwakili Panitia Penyelenggara Asian Para Games (Inapgoc) berusaha keras untuk mempertahankan kualitas event ini sama seperti Asian Games 2018 pada bulan Agustus-September lalu.

Penyelenggaraan Asian Games 2018 yang menuai begitu banyak pujian tentu harus diikuti kesuksesan Asian Para Games 2018. Empat hari sebelum penyelanggaraan para kontingen dan ofisial sudah tiba. Maka fasilitas pun harus segera selesai pada saat itu.

Ketua Inapgoc Raja Sapta Oktohari mengatakan persiapan Asian Para Games sudah hampir 100 persen. Fase terakhir penambahan sarana fisik yang sifatnya harian pun akan segera dirampungkan. Penyelesaian saran fisik tersebut belum bisa dilakukan karena masih ada kegiatan yang berjalan di masing-masing venue.

Seperti Asian Games, Asian Para Games juga akan menggelar pawai obor yang dimulai di Pangkal Pinang pada 26 September dan berakhir di Jakarta pada 30 September. Asian Para Games juga dapat mempertahankan euforia Asian Games yang sukses besar dari aspek penyelenggaraan sampai prestasi.

Dan bahkan mungkin penyelenggaraan Asian Para Games bisa lebih baik lagi dibandingkan Asian Games. Berbekal pengalaman di Asian Games tentu ada evaluasi dan pembenahan yang perlu dilakukan. Para Games memang berbeda dengan event olimpiade biasa.

Penyelenggara harus menyiapkan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan para atlet difabel. Tidak hanya di venue tapi juga berbagai fasilitas pendukung lainnya seperti Wisma Atlet dan transportasi harus disesuaikan dengan penyadang difabel. Tentu tidak hanya para atlet yang akan hadir diprediksi setiap negara akan mengirim ofisial yang lebih banyak di bandingkan Asian Games.

Para atlet membutuhkan bantuan seperti berjalan, menuntun dan lain sebagainya. Inapgoc harus bisa menyesuaikan berbagai fasilitas yang dapat memenuhi kebutuhan para atlet dan ofisial sekaligus.

Meski waktu untuk menyulap fasilitas dari Asian Games ke Para Games dalam waktu yang sedikit tapi persiapan matang Indonesia sebagai tuan rumah sudah mendapat pujian. Chief Executive Officer Asian Paralympic Committee (APC), Tarek Souei, sudah memuji persiapan Indonesia dalam menyelenggarakan Asian Para Games 2018.

Souei memuji bagaimana pemerintah Indonesia sangat mendukung penyelenggaraan Asian Para Games tahun ini. Laki-laki berpaspor Uni Emirat Arab tersebut mengaku Indonesia sudah seperti rumahnya sendiri. Ia mengapresiasi kerja keras Indonesia sebagai tuan rumah.

"Saya sangat takjub melihat Presiden RI Bapak Joko Widodo dan Wakil Presiden Bapak Jusuf Kalla sampai membuat video mengampanyekan perhelatan Asian Para Games ini. Semuanya bekerja sama untuk sebuah kesuksesan pesta olahraga bagi atlet disabilitas ini," kata Souie pekan lalu.

Souei pun berterimakasih akan kesediaan dan kerja keras pemerintah Indonesia dalam menyelenggarakan Asian Para Games 2018. "Terima kasih untuk Indonesia karena event Asian Para Games 2018 ini sangat penting dan berarti. Bagaimanapun juga kami belajar kepada saudara-saudara kita yang memiliki keterbatasan. Mereka menjadi inspirasi kita semua. Di saat memiliki keterbatasan, tapi mampu menembus batas keterbatasannya," kata Tarek Souei.

Presiden Joko Widodo memang tidak mengurangi perhatiannya kepada Asian Para Games 2018. Jokowi juga berjanji akan memberikan bonus yang sama kepada atlet Asian Para Games seperti yang diberikan pemerintah kepada atlet-atlet yang berprestasi di Asian Games.

Ia tidak membeda-bedakan antar atlet Asian Games dengan atlet Asian Para Games 2018. Jokowi membuat tidak penyelenggara dan atlet Asian Games 2018 merasa dibedakan dengan penyelenggara dan atlet Asian Games.

Jokowi tidak menomorduakan Asian Para Games seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya. Indonesia menargetkan 16 medali emas pada Asian Para Games 2018. Target ini terhitung realistis karena Indonesia menjadi juara umum di SEA Games 2017 lalu.

Pembukaan dan penutupan Asian Games 2018 memukau penonton internasional. Tidak hanya Indonesia seluruh dunia pun memuji acara pembukaan dan penutupan Asian Games tapi bagaimana dengan Asian Para Games? Dari segi konsep ada perbedaan.

Tidak seperti Asian Games yang mengangkat tema nasional ke-Indonesiaan Asian Para Games akan mengangkat tema internasional dan penutupan akan membawa konsep pagelaran. Dan tentu kemanusiaan akan menjadi konsep utama yang akan dipertunjukan dalam dua upacara tersebut.

Namun tidak hanya dari sisi penyelenggaraan, venue, layanan untuk para atlet dan ofisial ataupun upacara pembukaan-penutupan tapi ada hal yang tidak kalah penting. Yakni jaminan penyandang difabel yang ingin menyaksikan Asian Para Games harus dipastikan mendapatkan tiket, tempat duduk dan pendampingan selama menyaksikan pertandingan.

Ini sangat penting, karena mereka para penyandang difabel dapat melihat para atlet yang memiliki keterbatasan seperti mereka dapat menjadi pahlawan bangsa. Dapat mengibarkan sang Merah-Putih dan melantunkan Indonesia Raya di Tanah Air tercinta.

Memperlihatkan meski memiliki keterbatasan tapi para atlet masih bisa mengharumkan nama bangsa. Dengan kerja keras dan latihan yang giat, kesabaran dan perjuangan yang panjang tidak ada keterbatasan yang mampu membatasi kita untuk memberikan yang terbaik untuk Sang Garuda.

Dalam koordinasi Kemenko PMK, Kementerian Sosial memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Informasi dan Komunikasi, INAPGOC dan juga organisasi dan komunitas difabel untuk memberikan pelayanan kepada mereka selama menonton pertandingan. Ribuan relawan pun sudah disiapkan untuk mendampingi mereka.

Kemensos sudah berjanji untuk memfasilitasi ribuan penonton penyandang difabel yang tergabung dalam komunitas dan organisasi. Mereka yang telah mendaftar. Tentunya mereka harus dipastikan mendapatkan tiket, tempat duduk, dan pendampingan selama menyaksikan pertandingan.

Dengan segala persiapan yang telah dilakukan dapat dipastikan Asian Para Games bukan lagi event nomor dua. Ajang ini akan setara dengan Asian Games yang telah sukses digelar dan mungkin akan lebih sukses lagi.

BERITA TERKAIT

Dua Barang Sitaan Djoko Susilo Berhasil Dilelang

Dua Barang Sitaan Djoko Susilo Berhasil Dilelang NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui perantara Kantor Pelayanan Kekayaan Negara…

Hari Antikorupsi Sedunia - Telkom Raih Dua Penghargaan dari KPK

NERACA Jakarta - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) raih dua penghargaan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai Instansi dengan penerapan Laporan…

OJK Cabut Izin Usaha Dua Multifinance

  NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan kembali mencabut izin usaha dua multifinance, antara lain PT Tossa Salimas Finance…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Mewaspadai Bencana Alam

Oleh : Riko Arianto,  Mahasiswa PTN di Semarang Secara geologis letak wilayah Indonesia yang dilalui oleh dua jalur pegunungan muda…

Catatan Positif Penegakan HAM di Indonesia

  Oleh : Muhammad Ridean, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan   Pelanggaran HAM merupakan permasalahan serius di Indonesia, beberapa kasus bahkan harus…

Ketidakpastian Bayangi Ekonomi 2019

Oleh: Sarwani Harap-harap cemas menanti pergantian tahun 2018 ke 2019. Berharap semuanya menjadi lebih baik pada tahun baru nanti. Ekonomi…