Pemerintah Siapkan Visi-Misi Arah Industri Halal - KUNCI INDUSTRI HALAL DUNIA

NERACA

Jakarta – Sejatinya menjadi negara penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia bisa menggenjot pertumbuhan ekonomi di sektor industri halal. Namun hal tersebut belum digarap optimal, sehingga Indonesia belum menjadi pemain kunci dalam industri halal dunia dan hanya menjadi pasar bagi negara lain.

Maka dalam rangka meningkatkan daya saing Indonesia dalam memacu pertumbuhan bisnis di industri halal, Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (BI), Anwar Bashori mengatakan, pihaknya akan mengumpulkan para pelaku usaha dalam dan luar negeri untuk membahas potensi ekonomi dan industri syariah di Indonesia, termasuk hospitality industry. “Acara ini dimaksudkan agar Indonesia dapat dikenal sebagai produsen halal potensial di dunia, bukan hanya sebagai pasar produk halal,”ujarnya di Jakarta, Senin (24/9).

Anwar menuturkan, selama ini pemahaman masyarakat soal ekonomi syariah kerap terpaku pada perbankan saja. Padahal, ekonomi syariah adalah sebuah industri yang di dalamnya juga mencakup industri halal seperti makanan yang bisa menjadi daya tarik pengusaha untuk mengembangkan bisnisnya. Dengan begitu, industri halal dan syariah Indonesia bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Karena itu, nantinya acara ini juga akan mempertemukan pelaku usaha dan regulator untuk membahas peta jalan industri halal ke depannya. “Kita lihat dari literasi keuangan saja masih di bawah 10%. Orang bicara syariah itu masih mikir di bank. Makanya akan digodok semua, bukan cuma perbankan, tapi juga industrinya. Persyaratan apa yang diperlukan. Syariah itu enggak bisa sendiri tapi kebersamaan. Ujungnya nilai rupiah juga terbantu,” kata dia.

Anwar juga menegaskan, pemerintah Indonesia saat ini mulai serius memperbesar ekonomi syariah seiring kecenderungan global menunjukkan pesatnya permintaan konsumen terhadap produk halal. BI menyatakan, Indonesia sedang mempersiapkan menuju ke pengembangan ekonomi syariah dalam satu tahun terakhir. Selanjutnya, Oktober nanti akan ada rapat pleno Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS).

Menurut dia, rapat tersebut bakal dipimpin oleh Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dari situ mulai dicanangkan pentingnya penyusunan visi dan misi yang jelas terkait arah industri halal di Indonesia. "Dulu masih bicaranya keuangan syariah saja. Sekarang sudah mulai bergeser karena keuangan sudah ada roadmap dan arsitekturnya," ujarnya.

Ekonomi syariah dinilainya harus berjalan beriringan mulai dari sektor keuangan, riil, sehingga industrinya harus jalan. Dalam jangka panjang pada 25 Juli tahun depan ada senior high level untuk menjadikan Indonesia pusat ekonomi dan keuangan syariah. Kegiatan ini bagian upaya dari BI untuk mulai menyicil dengan mengerjakan hal yang harus dilakukan terkait ekonomi syariah.

Asal tahu saja, industri halal diketahui mempunyai potensi ekonomi yang sangat besar secara global. Pada 2016 silam, nilai ekonomi dari industri halal tercatat sebesar dua triliun dollar Amerika Serikat (AS). Angka tersebut diprediksi terus meningkat menjadi tiga triliun dollar AS pada 2022 mendatang. Besarnya potensi tersebut yang kemudian coba dikeruk oleh pemerintah Indonesia. Peluang atas keinginan tersebut pun masih terbuka cukup lebar.

Sementara Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), Sapta Nirwandar menuturkan, salah satu kendala dari pengembangan ekonomi dan industri halal di Indonesia adalah ekosistemnya. Menurutnya, diperlukan satu regulasi yang terintegrasi yang bisa mendorong sektor halal lifestyle di Indonesia. Salah satu pendoronganya adalah dengan memberikan insentif dan aturan yang memudahkan pelaku usaha, promosi lebih banyak dan sistematis, serta pameran yang relatif padu.

Dengan begitu, akan menambah gairah masyarakat yang mengggunakan produk-produk Indonesia.”Ekosistem yang merupakan cara menciptakan suasana kondusif mellaui peraturan, promosi, kebersamaan, gotong royong poemerintah dan pelaku industri. Makanya tahun ini dimulai. Ini baru permulaan, animo sudah cukup besar tinggal cari lebih banyak buyers, tentu agar produk-produk kita bisa diserap,” katanya. bani

BERITA TERKAIT

Ragukan Data Pemerintah, Pengusaha Lebih Suka Cari Data Sendiri

    NERACA   Jakarta – Direktur Eksekutif Petani Centre Entang Sastraatmaja menilai pengusaha lebih suka mencari data sendiri ketimbang…

Menggugat Tanggung Jawab Pemerintah dan Lion Air Pasca Rekomendasi KNKT

Menggugat Tanggung Jawab Pemerintah dan Lion Air Pasca Rekomendasi KNKT NERACA Jakarta - Peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air, JT 610…

BI dan Pemerintah Canangkan Syariah jadi Arus Baru Ekonomi

    NERACA   Surabaya - Bank Indonesia (BI), pemerintah dan instansi terkait mencanangkan syariah untuk menjadi arus baru ekonomi…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

DINILAI MELANGGAR UU MINERBA - Iress Tolak Revisi PP 23/2010

Jakarta-Indonesian Resources Studies (Iress) menolak rencana pemerintah kembali merevisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan…

BANYAK FINTECH ILEGAL DARI CHINA - Satgas OJK Tindak Tegas 404 Fintech Ilegal

Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Satgas Waspada Investasi akhirnya menghentikan kegiatan usaha dari 404 penyelenggara layanan pinjam meminjam (peer to…

Butuh Kolaborasi Tingkatkan Daya Saing Pasar Rakyat

NERACA Jakarta – Daya saing yang dimiliki oleh pasar rakyat memiliki potensi besar dibandingkan dengan pasar swalayan. "Artinya secara daya…