Kementan, Kemendag atau Bulog Yang Dievaluasi - Impor Beras

NERACA

Jakarta – Persoalan impor beras mengemuka saat perseteruan antara Dirut Perum Bulog Budi Waseso dan Menteri Perdagangan. Perseteruan tersebut membuat sebagian pihak meminta agar pemerintah untuk mengevaluasi kinerja para menteri Kabiner Kerja. Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir tak sependapat jika polemik impor beras menyudutkan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. “Tidak setuju karena persoalan bukan di Mendag tapi di Mentan. Jadi akar masalahnya di Mentan,” kata Inas, Jumat (21/9).

Menurutnya Menteri Pertanian (Mentan) gagal memenuhi target panen, padahal sudah menghabisnya anggaran cukup besar. Pernyataan Inas berbeda dengan temuan Mentan dan Dirut Bulog Budi Waseso saat melakukan pengecekan ketersediaan beras di dua pasar induk Ibukota, Pasar Induk Jaya Kramat Jati dan Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Jumat (14/9) pekan lalu. Ketika itu Buwas menjelaskan mengapa hanya sedikit beras Operasi Pasar (OP) Bulog yang terserap. Sebabnya stok beras di pasar masih banyak. Dari tugas OP yang diterima Bullog sebanyak 15 ribu ton per hari, hanya 2000-3000 ton saja yang terserap setiap harinya.

Direktur Utama Food Station Tjipinang Jaya, Arief Prasetyo yang juga ada di lokasi mengemukakan, ini terjadi karena pasokan beras dari daerah masih relatif stabil. Pedagang belum menjual beras Bulog. Menteri Pertanian Amran Sulaiman menjelaskan, stabilitas pasokan beras di musim kemarau terjadi karena langkah-langkah antisipatif yang dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) menjelang musim kering.

Mengenai anggaran, Pengamat kebijakan publik Digipol Strategic Indonesia, Nur Fahmi BP menilai, Kementerian Pertanian (Kementan) selama ini telah optimal dalam mengelola anggaran. Ia memberi contoh beberapa komoditas pertanian mampu mewujudkan keberhasilan panen sehingga mendukung ekspor untuk menambah pendapatan negara. Indikator lainnya bisa dievaluasi dari meningkatnya nilai tukar petani (NTP) sebagai bentuk kesejahteraan. "Lihat saja data yang dirilis BPS terakhir. Lalu menurunnya juga angka penduduk miskin di desa yang mayoritas adalah petani pekerjaannya," jelas Fahmi.

Anggaran Kementan pada 2018 yang mencapai Rp23,82 triliun, sebagian besar dialokasikan untuk program Kementan, seperti target peningkatan produksi, penurunan angka kemiskan pedesaan, capaian ekspor dan lainnya.

Banjir Impor

Sebaliknya, ekonomi Indonesia kini terbebani dengan kebijakan impor. Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri sempat menyebut, Indonesia banyak kebobolan karena kebijakan impor yang dimudahkan Menteri Perdagangan. "Tadinya ada rekomendasi, sekarang tidak ada. Jadi seperti air bah sekarang (impornya)," ucap Faisal di Jakarta beberapa waktu lalu.

Kebobolan yang dimaksud Faisal adalah derasnya impor yang membuat kinerja neraca perdagangan defisit. Defisit neraca perdagangan berpengaruh pada neraca pembayaran yang pada akhirnya mempengaruhi nilai tukar rupiah. Saling tunjuk hidung untuk mengevalusi Menteri ini bermula dari desakan Wakil Ketua DPR Fadli Zon dan Ekonom Rizal Ramli, agar Presiden Joko Widodo segera mencopot Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita lantaran isu impor. Rizal menyebut sudah saatnya Enggar dicopot dari jabatannya terkait dengan kebijakan impor beras.

Sebagai informasi pada April lalu Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengungkap sembilan (9) kesalahan soal impor pangan di Kemendag. Temuan itu tercatat dapal Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II 2017, terhadap pengelolaan tata niaga impor pangan tahun anggaran 2015 – Semester I 2017.

Tujuan dari pemeriksaan ialah menilai Sistem Pengendalian Internal (SPI) serta kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan atas pelaksanaan rapat terbatas, penetapan alokasi impor, penerbitan perizinan impor, pelaporan realisasi impor serta monitoring dan evaluasi impor untuk komoditas pangan berupa gula, beras, sapi, dan daging sapi, kedelai serta garam.

BERITA TERKAIT

Tekan Angka Kecelakaan, DPP Organda Rilis PO Bus Yang Direkomendasikan

Jakarta, Kecelakaan maut beruntun yang terjadi dalam beberapa dua tahun terakhir mengakibatkan ratusan korban meninggal. Hal ini menunjukan kegagalan pemerintah…

Program Pemerintah Pusat Berdampak Lebak Surplus Beras

Program Pemerintah Pusat Berdampak Lebak Surplus Beras NERACA Lebak - Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, tahun 2018 hingga September surplus beras…

Kementan Permudah Investasi Sektor Pertanian Lewat Perizinan Barsis Online

NERACA Jakarta - Kementerian Pertanian mempermudah sistem perizinan di sektor pertanian melalui  layanan berbasis  Sistem Informasi Manajemen Pelayanan Perizinan Pertanian…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Komoditas Pangan Berkualitas Perlu Perhatian Capres

  NERACA   Jakarta - Banyak kajian yang menunjukkan bahwa dengan semakin berlipatnya jumlah populasi di dunia, maka persaingan antarnegara…

Pemerintah Keluarkan Moratorium Izin Lahan Sawit

      NERACA   Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memastikan moratorium izin pelepasan kawasan hutan untuk…

Pemerintah Alokasikan Dana Khusus untuk Museum

      NERACA   Jakarta - Pemerintah mengalokasikan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang diperuntukkan bagi sejumlah museum milik pemerintah…