Nilai Ekonomis Bank Sampah Capai Rp1,6 M

NERACA

Jakarta---Sebanyak 471 bank sampah di 24 kota yang mengelola 753 ton sampah mampu menghasilkan nilai ekonomis lebih dari Rp1,6 miliar sehingga mampu membangun ekonomi masyarakat. "Sampai saat ini jumlah bank sampah sudah mencapai 471 di 24 kota dengan jumlah sampah yang dikelola sebanyak 753 ton dengan nilai ekonomis sebesar Rp1,6 miliar," kata Asisten Deputi Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup, Sudirman di Jakarta, Rabu.

Bank sampah merupakan teknik pengelolaan sampah dengan mengadopsi manajemen perbankan, tapi yang menjadi alat transaksi adalah sampah bukan uang seperti di bank lain. Bank sampah memiliki direktur dan petugas teller yang akan menerima dan menimbang sampah. Setiap sampah yang ditabung, dinilai dengan sejumlah uang dan setiap nasabah memiliki buku tabungan.

Bank sampah selain bermanfaat membantu mengurangi jumlah timbunan sampah juga menciptakan nilai ekonomi dalam pengelolaan lingkungan. Kehadiran bank sampah dimulai masyarakat di Bantul Jogjakarta secara swadaya dan saat ini berkembang dan diterapkan di daerah lain.

Lebih jauh Sudirman menjelaskan, berbagai kegiatan yang dilakukan terkait pengelolaan sampah di antaranya melatih pemanfaatan sampah melalui kegiatan daur ulang dan bank sampah. Mengelola sampah organik menjadi kompos dengan produksi sekitar 75 kg/bulan. Pemanfaatan sisa makanan dari kantin menjadfi pellet dan powder pakan ternak sekitar 200 kg/bulan. Pengelolaan sampah anorganik melalui bank sampah dengan produksi sekitar 650 kg/bulan dengan nilai ekonomis rata-rata Rp3.120.000/ bulan dan kegiatan donor darah dalam rangka Hari Peduli Sampah.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup, Balthasar Kambuaya mengatakan Bank Sampah merupakan rekayasa sosial untuk mengelola sampah. Karena itu kehadiran Bank Sampah dianggap penting sebab menjadi pelatihan untuk mengelola sampah. "Kalau kita hanya jelaskan Bank Sampah itu tanpa praktek orang tidak akan tahu," ujarnya

Menurut Balthasar, Bank Sampah yang akan mengelola sampah operasional kantor tersebut serta dari masyarakat sekitar sebagai upaya menangani permasalahan sampah. Bahkan KLH menjadi tempat pelatihan bagi orang-orang untuk mengelola sampah, selain itu juga untuk melatih diri mengelola sampah dengan benar.

Dikatakan Balthasar, permasalahan sampah tidak akan hilang selama manusia hidup. Maka salah satu upaya yang baru dimulai adalah berupaya mengurangi sampah dengan mengelola. Selama ini Bank Sampah mulai tumbuh lewat inisiatif masyarakat dan Kementerian Lingkungan Hidup ikut mendukung dengan mendorong perusahan lewat CSR untuk ikut membantu. "Kita bersyukur bahwa penanganan sampah bermula dari masyarakat bukan hanya pemerintah yang bergerak," paparnya. **cahyo

Related posts