Pelaku Pasar Usulkan Porsi Investor Ritel 10% - Skema Penjatahan Saham IPO

NERACA

Jakarta – Menyadari pentingnya keberadaan investor ritel di pasar modal, pelaku pasar menyabut baik rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuat skema penjatahan bookbuilding pada saat initial public offering (IPO). Pasalnya, saat ini penjatahan ritel belum diatur. Adapun skema yang nantinya akan masuk di dalam aturan electronic bookbuilding ini akan memberikan porsi atau jatah yang lebih besar bagi investor ritel dalam menyerap dana IPO yang sebelumnya biasa diserap lebih besar oleh investor non ritel.

Direktur Utama PT Jasa Utama Capital, Deddy Suganda Widjaja mengatakan, pihaknya mengharapkan porsi bookbuilding ritel bisa sebesar 10% dari nilai IPO. Namun menurutnya besaran angka pastinya masih dalam tahap pembahasan. “Mungkin yang di bawah Rp 100 miliar bisa sekitar 10% (investor ritel), OJK bahkan minta lebih besar yakni 12,5% hingga 13%. Sedang diukur kekuatan ritelnya seperti apa. Tentu regulator ingin ritel lebih banyak yang buka,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Asal tahu saja, aturan penjatahan saham IPO telah digodok cukup lama. Dimana penjatahan saham IPO ini merupakan mekanisme untuk meningkatkan likuiditas dan meningkatkan kepemilikan. Ke depannya, hal ini dinilai menjadi suatu hal yang cukup baik. Pasalnya, dengan aturan IPO bisa lebih dirasakan oleh semua pihak dan karena itu, porsi pooling-nya dilebarkan.

Nantinya besaran porsi tersebut akan ditentukan dari valuasi dan nilai IPO yang ingin dilepas ke publik. Selain melihat dari nilai tersebut, besaran porsi penjatahan tersebut juga akan disesuaikan dengan kemampuan sekuritas sebagai underwriter. Pihak BEI dan OJK berharap, aturan penjatahan ini juga dilakukan untuk meningkatkan kepemilikan bagi investor ritel. Misalnya, saat ini yang berpartisipasi sekitar 1.000-1.500 investor, bila sudah diterapkan maka bisa lebih dari itu.

Tentunya, dengan adanya aturan tersebut tetap memperhatikan underwriter. Sementara dari sisi emiten tidak akan menjadi masalah, asalkan sudah mendapatkan komitmen dari underwriter. Sebagai informasi, saat ini porsi fix allotment atau penjatahan pasti saham IPO mayoritas dimiliki oleh investor institusi yang hanya likuid di masa-masa awal. Hal itu dikarenakan karakteristik investasinya berorientasi jangka panjang.

Berbicara investor ritel di pasar modal, nilai transaksinya cukup aktif dan bahkan mampu mendongkrak pertumbuhan kapitalisasi di pasar dan juga indeks harga saham gabungan (IHSG). Hanya saja, potensi investor ritel belum digarap optimal. Oleh karena itu, pihak BEI selalu aktif mendorong peningkatan kinerja investor ritel karena saat ini nilai transaksinya baru sekitar 30% dari nilai perdagangan yang mencapai kisaran Rp7,4 triliun per hari.

BERITA TERKAIT

Nilai Transaksi Harian Sepekan Tumbuh 1,24% - Banyak Diburu Investor Lokal

NERACA Jakarta - Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan kemarin ditutup dengan peningkatan sebesar 0,43% ke level…

Wapres Harap Bank Pembangunan Jadi Investor Jangka Panjang

    NERACA   Bali - Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta sejumlah bank pembangunan dunia, seperi Bank Dunia (WB), Bank…

Saham Super Energy Masuk Pengawasan BEI

Lantaran pergerakan harga sahamnya melesat tajam di luar kebiasaan atau disebut unusual market activity (UMA), perdagangan saham PT Super Energy…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Bersama WIKA dan Summarecon - MUN Ikut Konsorsium Tol Dalam Kota Bandung

NERACA Jakarta - PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) lewat anak usahanya PT Margautama Nusantara (MUN) bersama PT Wijaya Karya (Persero)…

Pendapatan Bali Towerindo Tumbuh 42%

NERACA Jakarta - Di kuartal tiga 2018, PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI) membukukan kenaikan pendapatan usaha 42% menjadi Rp…

Pefindo Beri Peringkat AA- Chandra Asri

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menegaskan rating untuk PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) pada idAA-. Outlook rating TPIA stable. Rating…