Madusari Murni Didepak Dari Efek Syariah - Produksi Bahan Alkohol

NERACA

Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membatalkan Keputusan Dewan Komisioner (KDK) Nomor KEP-45/D.04/2018 tentang Penetapan Saham PT Madusari Murni Indah Tbk (MOLI) sebagai Efek Syariah. Hal tersebut tertuang dalam KDK Nomor KEP-47/D.04/2018. Informasi tersebut disampaikan OJK dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Dikeluarkannya keputusan tersebut merupakan tindak lanjut dari informasi laporan keuangan per 31 Maret 2018, yang menyatakan bahwa lebih dari 90% produk PT Madusari Murni Indah Tbk adalah etanol dan 31% produk tersebut dijual kepada Tanduay Distiller Inc. Dimana kegiatan usaha Tanduay Distiller Inc. adalah memproduksi alkohol, rum, wine, brendi, gin dan vodka, sehingga pendapatan non halal PT Madusari Murni Indah Tbk. (MOLI) lebih dari 10%.

Maka dengan pertimbangan tersebut, saham PT Madusari Murni Indah Tbk tidak memenuhi kriteria syariah. Oleh karena itu, PT Madusari Murni Indah Tbk tidak lagi masuk dalam Daftar Efek Syariah sesuai KDK Nomor KEP-24/D.04/2018 yang ditetapkan pada 24 Mei 2018. Asal tahu saja, debut perdananya di pasar modal saham MOLI dibuka melesat 50% atau melambung 290 poin pada saat pembukaan perdagangan. Dimana saham MOLI berada di level Rp 870 per saham dari harga penawaran awal Rp 580 per saham.

Selain itu, pada masa penawaran umum yang berlangsung 27 Agustus kemarin, saham Madusari mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribe sebanyak 221,53 kali. Direktur Utama PT Madusari Murni Indah Tbk, Arief Goenadibrata pernah bilang, dari total saham yang ditawarkan, sekitar 90% diserap investor lokal dan sisanya sekitar 10% investor asing. Adapun secara tipe investor, sekitar 60-70% merupakan investor institusi dan sisanya sekitar 30-40% merupakan investor ritel atau perorangan,”.

Perusahaan di sektor etanol dan pabrik CO2 ini melepas sebanyak 351.000.000 saham atau 15,03% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan harga penawaran Rp 580 per saham. Arief mengatakan, dana IPO sekitar 94,45% atau sekitar Rp 192,38 miliar digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi melalui anak usaha dengan membangun pabrik serta membeli beberapa mesin baru, sedangkan sisanya akan disalurkan kepada anak usaha untuk pembangunan fasilitas distribusi berupa gudang di Jawa Timur.

Saat ini, perseroan tengah membangun pabrik baru di Lampung berkapasitas 50 juta liter per tahun dengan investasi Rp 550 miliar. Sumber pendanaannya sebesar Rp 200 miliar dari dana IPO, sisanya dari pendanaan eksternal dan kas internal. "Groundbreaking sudah dilaksanakan Juli 2018 lalu, dan diharapkan mulai beroperasi dalam dua tahun mendatang,"jelasnya.

Sementara Direktur Keuangan Madusari Murni Indah, Yonki Saputra Sim menambahkan, pembangunan pabrik memakan waktu dua tahun. Namun, perseroan akan mulai mengomersilkan pabrik tersebut pada semester II/2019. Dia menyebut permintaan produk perseroan cukup besar namun kapasitas pabrik yang sudah ada yaitu sebesar 80.000 kiloliter per tahun sudah jenuh. Kondisi tersebut membuat penjualan perseroan terbatas.

BERITA TERKAIT

Allianz Life Dukung Pengembangan Keuangan Syariah

      NERACA   Jakarta - Allianz Indonesia mendukung acara “Islamic Finance in Indonesia” yang diselenggarakan oleh The Asset…

Bank Jateng Syariah Hibahkan Bus ke Undip

      NERACA   Semarang - Bank Jateng Syariah menghibahkan masing -masing satu unit bus maupun mobil Mitsubishi Pajero…

Pasar Ekspor Meningkat - KPAS Tingkatkan Kapasitas Produksi 300%

NERACA Jakarta – Tahun depan, emiten produsen kapas PT Cottonindo Ariesta Tbk (KPAS) berencana meningkatkan kapasitas produksi sebesar 300% menjadi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perumnas Terbitkan MTN Rp 300 Miliar

Danai pengembangan bisnisnya, Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perumnas) akan menerbitkan surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN)…

BEI Suspensi Saham Perdana Bangun

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan suspensi atau penghentian sementara perdagangan saham PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) setelah sebelumnya…

Indosat Lunasi Obligasi Rp 224,59 Miliar

Meskipun performance kinerja keuangan masih negatif, kondisi tersebut tidak membuat PT Indosat Tbk (ISAT) untuk nunggak bayar obligasi yang jatuh…