BUMN Harus Mampu Sebagai Jangkar Kinerja Ekspor

NERACA

Jakarta – Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan kontribusi ekspor BUMN mencapai sekitar lima miliar dolar AS tahun ini. PT Pupuk Indonesia bersiap melakukan ekspor. "BUMN tidak hanya melakukan substitusi impor, tapi juga banyak melakukan ekspor," ujar Menteri Rini sebagaimana dikutip dari Antara, Rabu (19/9).

Rini mengatakan ekspor urea yang dilakukan induk BUMN pupuk tersebut, hanya satu dari banyak BUMN lainnya yang melakukan ekspor untuk menambah devisa negara. "Ada banyak, misalnya sawit, barang tambang termasuk aluminium, vaksin, dan LNG, serta ada Pindad dan Inka," ujar Rini.

Berdasarkan data dari Kementerian BUMN, Induk Perusahaan Pertambangan Inalum memproyeksikan ekspor mineral, batu bara, dan produk hilirisasi sebesar 2,51 miliar dolar AS atau sekitar Rp36,3 triliun pada 2018. Angka tersebut naik 62 persen dibanding realisasi 2017.

Selain itu, pada Januari-Agustus 2018 ekspor produk perkebunan dari Perkebunan Nusantara Grup telah mencapai 137 juta dolar AS dan diperkirakan sampai akhir tahun mencapai 267 juta dolar AS. Angka itu tersebut melonjak dibandingkan tahun 2017 yang mencapai 122 juta dolar AS.

Kemudian pada tahun ini PT Dirgantara Indonesia juga melakukan pengiriman dua pesawat ke Filipina dan tiga ke Vietnam dengan nilai 18,8 juta dolar AS. Tidak mau ketinggalan BUMN strategis lainnya juga PT Pindad juga telah merealisasikan ekspor sebesar Rp78 miliar. Tahun lalu BUMN yang memproduksi senjata, amunisi, dan kendaraan tempur itu memberi kontribusi ekspor Rp633,8 miliar.

Ekspor lainnya yang cukup penting adalah vaksin. ekspor komoditas dari PT Kimia Farma, PT Bio Farma, dan PT Indofarma itu mencapai Rp412 miliar pada semester pertama tahun 2018 dan sampai akhir tahun diproyeksikan ekspor vaksin mencapai Rp737 miliar.

Selain itu ada juga ekspor produk perikanan dari PT Perikanan Nusantara yang sudah terealisasi sampai saat ini sebesar 2,15 juta dolar AS dan ditargetkan mencapai 4,49 juta dolar AS sampai akhir tahun 2018. Jumlah itu melonjak dari tahun 2017 yang hanya sebesar 187 ribu dolar AS.

Sementara Grup PT Pupuk Indonesia telah merealisasikan ekspor pupuk urea, NPK, dan amoniak, dengan nilai Rp4,55 triliun dan diperkirakan sampai akhir tahun 2018 menembus angka Rp8,31 triliun. "Kami ingin mendorong trade balance kita bisa positif dengan menaikkan (nilai) ekspor melalui proses barang di dalam negeri agar bisa memberi nilai tambah," kata Rini.

Hingga saat ini, industri pengolahan menyumbang 74,47 persen dari seluruh nilai ekspor produk minyak dan gas (migas) serta nonmigas Agustus 2018 yang mencapai 15,82 miliar dolar AS. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan menyumbang ekspor paling besar di antara produk lain yaitu migas yang kontribusinya 8,75 persen, tambang 14,88 persen, dan pertanian 1,80 persen. Nilai total ekspor industri pengolahan pada Agustus 2018 mencapai 11,78 miliar dolar AS, paling besar dibandingkan nilai ekspor migas sebesar 1,38 miliar dolar AS, pertanian sebesar 0,30 miliar dolar AS, serta pertambangan dan lainnya sebesar 2,35 miliar dolar AS.

Jika dibandingkan Juli 2018, nilai ekspor industri pengolahan turun 0,48 persen. Namun, jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, angkanya naik 1,75 persen. Menurut data BPS, ekspor industri pengolahan Agustus 2018 didominasi oleh industri makanan dengan nilai ekspor 2,6 miliar dolar AS, yang angkanya lebih tinggi dibandingkan Juli 2018 sebesar 2,5 miliar dolar AS.

Dari sektor industri makanan, produk minyak kelapa sawit menempati ekspor terbesar, yakni 1,6 miliar dolar AS atau naik 1,89 persen jika dibandingkan Juli 2018 sebesar 1,5 miliar dolar AS. Negara tujuan ekspor terbesar untuk produk nonmigas Agustus 2018 adalah ke Tiongkok yaitu 2,11 miliar dolar AS, disusul Amerika Serikat 1,60 miliar dolar AS dan Jepang 1,48 miliar dolar AS. Kontribusi ketiganya mencapai 35,95 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa atau ke 28 negara di dalamnya sebesar 1,52 miliar.

Nilai impor Indonesia Agustus 2018 mencapai 16,84 miliar dolar AS atau turun 7,97 persen dibanding Juli 2018. Impor nonmigas Agustus 2018 mencapai 13,79 miliar dolar AS atau turun 11,79 persen dibanding Juli 2018, namun meningkat 19,97 persen dibanding Agustus 2017.

BERITA TERKAIT

Jaga Pertumbuhan Kinerja Positif - Japfa Perkuat Kemitraan Dengan Peternak

NERACA Jakarta – Pacu pertumbuhan kinerja perseroan, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) gencar meningkatkan program kemitraan dengan peternak. “Perseroan…

Caleg DPR RI A. Bagus Pekik : Kerjasama Daerah Antar Kota dan Kabupaten Sukabumi Sangat Positif - Sukabumi Harus Bangun KEK dan Menjadi Destinasi Wisata

Caleg DPR RI A. Bagus Pekik : Kerjasama Daerah Antar Kota dan Kabupaten Sukabumi Sangat Positif Sukabumi Harus Bangun KEK…

Utang BUMN, Mau Untung Apa Buntung?

Oleh: Pril Huseno Dalam rapat dengar pendapat antara Direksi BUMN dengan DPR Komisi VI pada (03/12), terungkap bahwa besaran utang…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

BANYAK FINTECH ILEGAL DARI CHINA - Satgas OJK Tindak Tegas 404 Fintech Ilegal

Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Satgas Waspada Investasi akhirnya menghentikan kegiatan usaha dari 404 penyelenggara layanan pinjam meminjam (peer to…

Butuh Kolaborasi Tingkatkan Daya Saing Pasar Rakyat

NERACA Jakarta – Daya saing yang dimiliki oleh pasar rakyat memiliki potensi besar dibandingkan dengan pasar swalayan. "Artinya secara daya…

Indonesia Terlambat Kembangkan Ekonomi Syariah

  NERACA Surabaya - Indonesia sebagai negara yang mayoritas berpenduduk Muslim perlu lebih cepat mengejar ketertinggalan ekonomi syariah dibanding negara-negara…