Investment Grade Jadi Daya Tarik Sektor Ritel dan Waralaba Asing - Ekonomi Indonesia Sedang Booming

Dengan diraihnya peringkat investment grade yang diberikan oleh lembaga pemeringkat berskala internasional Fitch dan Moody’s, membuat pasar Indonesia menjadi incaran produk ritel dan waralaba dari luar negeri.

Bagaimanakah kesiapan perusahaan waralaba nasional menghadapi kemungkinan perusahaan waralaba asing yang akan masuk ke Indonesia?

Neraca. Ketua Dewan Pengarah Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (Wali) Amir Karamoy mengatakan investor asing melirik Indonesia, karena investasi di Eropa dan Amerika Serikat terganggu oleh krisis Yunani dan utang AS yang bertimbun, sehingga mereka mencermati kondisi Indonesia.

“Mereka melihat Indonesia dengan penduduk yang demikian besar dan pertumbuhan ekonomi yang terus positif sebagai daya tarik yang luar biasa,” katanya.

Menurut dia, kondisi itu membuat, mereka berdatangan ke Indonesia. “Dalam kondisi seperti sekarang, kita tidak bisa lagi menolak investasi asing termasuk di sektor waralaba,” ujarnya.

Menurut Amir, memang dengan masuknya investor asing ke sektor ritel akan bisa menciptakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha kepada investor lokal sebagai mitra dari waralaba asing yang masuk.

“Sudah banyak investor asing dari AS, Korea Selatan, Malaysia, dan China yang ingin masuk ke Indonesia,” katanya.

Amir mengatakan sebaiknya waralaba asing itu lebih diarahkan ke perusahaan ritel dengan luas di atas 4.000 m2.

Dia melihat bahwa bidang usaha ritel tetap merupakan sektor usaha yang mempunyai prospek yang cerah.

“Apalagi kelas menengah ke atas di Indonesia, kini sedikitnya 90 juta orang,” tambahnya.

Menurut Amir, Indonesia sebenarnya mempunyai potensi untuk mengembangkan usaha waralabanya ke luar negeri. Selama ini mitra dari Indonesia cenderung menggaet mitra usaha dari luar.

“Kenapa kondisinya tidak dibalik,” katanya.

Dia mengatakan perusahaan waralaba yang sudah mapan di dalam negeri, seharusnya mulai merintis usaha ke luar negeri, sehingga suatu saat kelak apabila kita ke luar negeri bisa melihat produk waralaba nasional di panggung internasional.

“Kan bangga sekali kalau kita melihat ada Indomaret atau Alfamaret di Singapura, Malaysia atau negara lainnya,” tambahnya.

Sedangkan kondisi pasar ritel modern di dalam negeri juga harus diatur dengan lebih memperhatikan probisnis dalam hal ini pengusaha kecil menengah. Apabila pengusaha kecil, mikro, dan menengah mendapat pembinaan, maka suatu saat akan tumbuh pengusaha besar di Indonesia.

“Sekarang yang terjadi di Indonesia adalah pembiaran terhadap usaha kecil,” katanya.

Sebagai contoh, dia pernah berbelanja ke suatu kedai makanan yang sudah tidak lama dikunjunginya. Ternyata pemilik kedai itu turun menurun berusaha di sana, dengan bidang usaha yang sama.

“Seharusnya pengusaha kita meniru McDonald yang diawali dengan usaha kaki lima, sekarang sudah berkembang menjadi perusahaan mutinasional,” tuturnya.

Sedang Booming

Menurut Solihin, Direktur Corporate Affair PT Sumber Alfaria Trijaya, kondisi ekonomi Indonesia yang sedang booming seperti sekarang ini, membuat investor asing akan berlomba-lomba masuk ke Indonesia.

“Masuknya investor asing ke Indonesia tinggal menunggu waktu saja,” katanya.

Oleh karena itu, katanya, perusahaan waralaba di Indonesia harus memperkuat posisinya dalam pasar retail nasional.

Solihin mengatakan dalam hakekat globalisasi sekarang ini, di mana dunia sudah semakin kehilangan batas-batas wilayahnya, membuat persaingan selalu ada. Persaingan itu menuntut entitas usaha untuk selalu memberikan layanan terbaik kepada konsumen, agar tidak ditinggalkan.

Namun betapa pun globalisasi telah mulai merambah ke Tanah Air, pemerintah hendaknya membuat barikade aturan dagangan yang ketat sedemikian rupa, namun tidak sampai melanggar prinsip-prinsip perdagangan internasional.

Oleh karena itu, sebagai komitmen Alfamart untuk memperkuat pasar waralaba dan retail di Indonesia, perusahaannya yang kini sudah mempunyai 5.000 gerai di seluruh Indonesia, tahun ini menargetkan membuka 500-800 gerai baru.

Untuk melayani gerai sebanyak itu, Alfamart membuka berbagai cabang baru di daerah seperti di Palembang, Medan, Jember dan sebagainya untuk melengkapi 22 cabang yang ada.

Menurut dia, satu kantor cabang melayani 200-300 gerai, sehingga kualitas layanan menjadi lebih baik.

Dia mengatakan bahwa untuk memenuhi target pembukaan gerai yang demikian besar jumlahnya, pihaknya tetap mengajak warga masyarakat untuk bersinergi dengan Alfamart dalam membuka gerai baru.

Dia mengatakan bahwa untuk membuka gerai Alfamart, warga yang ingin menjadi investor harus menyediakan dana sedikitnya Rp 300 juta-Rp 500 juta, bergantung pada lokasinya.

Kelebihan apabila membuka usaha sendiri, dibandingkan dengan membuka gerai Alfamart, adalah pihak Alfamart menyediakan 3.000-4.000 item barang jualan, kelancaran pasok barang dan sistem yang sudah teruji baik dari sisi manajemen, distribusi barang, maupun pemasarannya.

Sementara itu Senior Corporate Affair Manager Alfamart, Chairullah, mengatakan sesuai dengan era globalisasi ini, mau tidak mau investor asing akan masuk ke Indonesia. Oleh karena, pihaknya selalu berusaha mengedepankan kualitas layanan, inovasi produk dan kenyamanan berbelanja.

Dia mengaku tidak khawatir dengan masuknya investasi asing di sektor ritel akan mengganggu perusahaan waralaba lokal.

“Kami memperkuat permodalan dengan mengajak investor lokal untuk ikut membuka gerai Alfamart,” katanya.

Menurut dia, potensi investor lokal dalam ikut membangun gerai Alfamart cukup besar.

“Sebagian besar gerai yang dioperasikan oleh Alfamart dimiliki oleh investor lokal,” katanya.

Dengan sinergi semacam itu, membuat Alfmart bisa fokus dalam kegiatan usahanya untuk memperbanyak gerai.

Kebanjiran Asing

Tahun ini dipastikan Indonesia akan dibanjiri oleh bisnis waralaba yang berasal dari negara tetangga. Setidaknya terdapat 66 merek dagang yang siap bersaing dengan waralaba dalam negeri.

"Juni nanti, ada stan waralaba yang akan datang dari Malaysia. Jumlahnya 50-an. Sementara sebeum Juni ada 15-16 merk waralaba dari Singapura," kata Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar saat berbincang dengan pers, di Jakarta, 14/2/2012.

Menurut dia, waralaba yang berasal dari negara tetangga tersebut masih didominasi oleh bisnis makanan dan minuman. Untuk lokasinya, dia menuturkan belum ada lokasi yang pasti. Namun kemungkinan besar biasanya Jakarta menjadi tujuan waralaba asing menjajakan dagangannya di Indonesia.

"Kalau sampai akhir tahun jumlahnya bisa 100 waralaba asing yang masuk ke Indonesia," tandasnya.

Berbeda dengan banyaknya waralaba asing yang masuk ke Indonesia. Waralaba dalam negeri nampaknya belum mampu menembus pasar asing secara besar-besaran. Buktinya, tahun ini hanya ada 10 merk waralaba dari Indonesia yang masuk ke pasar luar negeri.

Merek tersebut merupakan merk yang sudah tidak asing lagi di dalam negeri. Seperti misalnya Es Teler 77, Veneta, Ayam Penyet Ria, Ayam Bakar Wong Solo, Sari Bundo, Martha Tilaar, dan Natrabu.

"Untuk lokasi di mana, kebanyakan memang masih di kawasan. Seperti Singapura, Australia, dan Brunei Darussalam," tandasnya.

Ketua Pelaksana Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Asperindo) Tutum Ruhanta mengatakan berbagai indikator ekonomi yang ditunjukkan dengan diperolehnya investment grade membuat investor asing bernafsu untuk berinvestasi di Indonesia.

“Indonesia dengan penduduk sedikitnya 240 juta jiwa dan dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil positif, membuat investor asing ingin masuk ke mari,” katanya kepada Neraca.

Menurut Tutum, dalam suasana globalisasi seperti sekarang ini, perusahaan ritel di Indonesia diberi pesaing, jadi bukan pilihan. “Karena tidak ada pilihan lain, kami harus bertahan menghadapi gempuran pesaing dari luar,” katanya. Asperindo kini memiliki 150 anggota yang membawahi 16.000 gerai di seluruh Indonesia.

Dia mengatakan bahwa dalam kondisi seperti itu, seharusnya pemerintah membuat peraturan yang menguntungkan sektor usaha ritel lokal.

“Yang ada sekarang, kami fight sendiri menghadapi kondisi yang diterpa masuknya investasi asing yang datang berbondong-bondong,” katanya.

Menurut dia, perusahaan ritel nasional sekarang kondisinya seperti anak yang kurang mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Namun sejak 1998, dengan adanya persaingan bebas akibat globalisasi membuat pengusaha belajar untuk tidak “cengeng”.

Dari sisi ilmu dan kemampuan, katanya, pengusaha ritel telah mempunyai bekal yang cukup. Namun dalam kondisi seperti itu seyogianya, anak tidak “dikerjain.”

“Sudah tidak dibantu, malah diganggu,” tuturnya.

Menurut dia, kalau secara birokrasi pemerintah mempunyai good will, akan membuat sektor bisnis terutama waralaba dan ritel akan semakin maju dan menjadi tuan di negeri sendiri.

(agus/dbs)

Related posts