Minat Perusahaan Untuk IPO Tetap Tinggi - Kondisi Ekonomi Masih Baik

NERACA

Jakarta - Nilai tukar rupiah yang sempat mengalami depresiasi cukup dalam dan memberikan sentimen negaif terhadap kondisi indeks harga saham gabungan (IHSG) di pasar modal, hal tersebut tidak menyurutkan minat beberapa perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal atau IPO. Keyakinan kondisi ekonomi nasional masih baik menjadi alasannya beberapa perusahaan tetap melanjutkan rencana aksi korporasi untuk IPO.

Kata Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), Moeldoko, kondisi ekonomi di dalam negeri saat ini sangat kuat. Adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, menurutnya murni karena faktor eksternal.”Ada dampak dari krisis di Argentina, Turki, perang dagang antara China dan AS serta faktor global lainnya. Kami tegaskan ekonomi aman," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Moeldoko menyindir pihak yang menyalahkan pemerintah dibalik anjloknya nilai tukar rupiah. Pasalnya, pelemahan rupiah ini karena faktor global. Menurutnya, sebuah negara selalu terkait dengan negara lain baik dari sisi politik dan ekonomi dan Indonesia menjalin kemitraan dengan banyak negara.

Sementara itu, terkait kondisi politik mantan Panglima TNI ini menjamin stabilitas akan terjaga kendati akan ada hajatan pilpres pada tahun mendatang."Berkaca pada pilkada serentak kemarin ekonomi aman. Saya mantan Panglima TNI saya bisa memprediksi dan menganalisa. Kami jamin pilpres aman."tandasnya.

Keyakinan ini disampaikan Moeldoko di hadapan para pelaku pasar modal. Tak sampai disitu, dia juga menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memboyong investor ke Tanah Air. Pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri terus mendorong perusahaan yang belum mencatatkan saham perdana (initial public offering/IPO) agar jangan menunda-nunda lagi, meski kondisi pasar saham sedang naik-turun. Pasalnya, tidak ada yang tahu kapan kondisi pasar akan naik dan turun.

Meski kondisi perekonomian Indonesia masih masuk ke dalam kategori baik tetap saja pasar saham bisa bergejolak karena sentimen dari global tersebut. Oleh karena itu, bagi sebagian investor yang suka mengambil risiko melihat kondisi naik-turun pasar saham Indonesia seperti sekarang justru menjadi peluang mengkoleksi harga saham yang sedang murah.

BERITA TERKAIT

Sektor Pengolahan - Perusahaan Manufaktur RI Siap Bertransformasi ke Industri 4.0

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian gencar melakukan sosialiasi kepada para pelaku industri manufaktur di Indonesia mengenai indikator penilaian penerapan teknologi…

Pemkab Lebak Tindak Perusahaan Tak Berizin

Pemkab Lebak Tindak Perusahaan Tak Berizin NERACA Lebak - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak, Provinsi Banten melalui Dinas Satuan Polisi Pamong…

Tawarkan IPO Rp 178 -198 Persaham - Interfood Bidik Kapasitas Produksi 10.600 Ton

NERACA Jakarta –Perusahaan produsen cokelat, PT Wahana Interfood Nusantara menawarkan harga penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO)…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tambah Armada Baru - Armada Berjaya Bidik Pendapatan Tumbuh 200%

NERACA Jakarta – Resmi mencatatkan sahamnya di pasar modal, PT Armada Berjaya Trans Tbk (JAYA) langsung tancap gas dalam ekspansi…

Ditopang Penjualan Residensial - BSDE Targetkan Marketing Sales Rp 6,2 Triliun

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Bumi Serpong Damai  Tbk (BSDE) memasang target marketing sales senilai Rp6,2  triliun.”Kami optimistis target…

WIKA Garap Proyek Bandara di Makassar

Pacu pertumbuhan kontrak baru, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) selalu aktif dalam berbagao tender proyek pemerintah. Teranyar, perseroan ditunjuk…