BI Masih Intervensi Pasar untuk Kuatkan Rupiah

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia masih melangsungkan kombinasi kebijakan moneter termasuk intervensi pasar agar nilai tukar rupiah bergerak ke rentang fundamentalnya, meskipun dalam beberapa hari terakhir bergerak dalam tren menguat di level Rp14.800. Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo di Kantor Pusar BI, Jakarta, akhir pekan kemarin, mengatakan Bank Sentral melihat tekanan ekonomi eksternal masih membayangi pergerakan nilai tukar rupiah.

BI, ujarnya, terus mewaspadai tekanan ekonomi eksternal dengan melancarkan intervensi ganda dan juga mempertimbangkan opsi kenaikan suku bunga acuan. “Kami masih kombinasi dari situ. Jadi kalau kami masih intervensi artinya kami masih lihat dulu rupiah belum stabil," kata Dody. Intervensi ganda BI dilakukan di pasar valuta asing dan di pasar Surat Berharga Negara (SBN), di mana Bank Sentral membeli SBN yang dilepas investor asing di pasar sekunder.

Pernyataan Dody muncul di tengah tren penguatan rupiah, namun Dody menyebutkan nilai tukar belum sesuai fundamentalnya. Penguatan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir banyak disebabkan tekanan ekonomi global yang mereda dan nilai dolar AS yang melemah. Berkurangnya tekanan global itu juga berhasil membawa modal asing kembali ke instrumen keuangan Surat Berharga Negara pemerintah. "Walaupun secara nett masih ada dana keluar. Tapi beberapa hari ini sudah mulai masuk," katanya.

Dody tidak memungkiri bahwa Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang, masih dihadapkan pada potensi-potensi gejolak perekonomian global. Sumber gejolak yang paling sulit dikalkulasi adalah perang dagang global antara Negara Paman Sam dan China yang terus berkelindan dan memicu aksi retaliasi (pembalasan) satu sama lain. Selain itu, dampak dari krisis mata uang Lira Turki dan Argentina juga masuk radar Bank Sentral.

Indonesia juga sudah menaikkan suku bunga acuannya lima kali dengan dosis 1,25 persen pada tahun ini guna menangkal tekanan terhadap rupiah. Selain itu cadangan devisa sejak akhir 2017 hingga akhir Agustus 2018 ini telah menurun 12,3 miliar dolar AS yang salah satu penggunaannya untuk keperluan stabilisasi nilai tukar rupiah, berdasarkan perhitungan merujuk data BI. Dody mengatakan Bank Sentral masih mempertimbangkan opsi kenaikan suku bunga acuan pada September 2018 dengan menyesuaikan terhadap perkembangan data ekonomi terbaru. BI akan menggelar rapat dewan gubernur untuk memutuskan kebijakan terbaru pada 26-27 September 2018.

Rupiah memang masih dikisaran Rp14.800 per dolarnya. Research Analyst FXTM, Lukman Otunuga di Jakarta, mengatakan bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Fed) diperkirakan meningkatkan suku bunganya pada September ini sehingga menahan pergerakan rupiah. "Sentimen itu masih membebani pasar negara berkembang, sehingga rupiah masih rentan melemah," katanya.

Kendati demikian, lanjut dia, pelemahan rupiah relatif terbatas karena optimisme pelaku pasar terhadap membaiknya hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok setelah ada pengajuan negosiasi dagang baru oleh AS. "Wacana ini secara umum adalah langkah positif karena kedua belah pihak bersedia untuk mengurangi ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia," katanya.

Ekonom Samuel Aset Manajemen, Lana Soellistianingsih di Jakarta, mengatakan mata uang kuat di kawasan Asia kompak melemah terhadap dolar AS pagi ini sehingga menjadi sentimen negatif bagi rupiah. "Kendati demikian, Bank Indonesia masih akan berjaga-jaga di pasar menjaga rupiah. Kalaupun melemah kemungkinan bergerak di kisaran sempit," katanya.

BERITA TERKAIT

APT Minta Bursa Tidak Transaksikan BFIN - Masih Proses Sengketa

NERACA Jakarta – Mendorong adanya kepastian hukum dan tanpa adanya intervensi, PT Aryaputra Teguharta (APT) meminta dan mengingatkan operator bursa…

Harga Premium Tidak Naik untuk Jaga Daya Beli dan Inflasi

NERACA Jakarta -- Presiden Jokowi menegaskan,  harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Premium tidak mengalami kenaikan. Pasalnya, presiden khawatir kenaikan harga…

Menakar Potensi Pasar Dinfra Jasa Marga - Bidik Dana Rp 1,5 Triliun

NERACA Jakarta – Setelah sukses melakukan sekuritisasi aset untuk mendanai pengembangan jalan tol, rupanya membuat PT Jasa Marga (Persero) Tbk…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Prediksi Nilai Tukar Rupiah Rp14.800-15.200 Per Dolar

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengestimasi nilai tukar Rupiah per dolar AS sepanjang 2019 akan…

BTN Jalin Kerjasama dengan KOI - Program Satu Juta Rumah

      NERACA   Jakarta - Sejalan dengan komitmen menyukseskan Program Satu Juta Rumah dan mendukung kesejahteraan para atlet…

Maybank Sediakan Fasilitas Pinjaman Rp3 Triliun untuk AP II

      NERACA   Jakarta - PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) meningkatkan kemitraan strategis dengan PT Angkasa…