BI : Pertumbuhan Kredit Sekitar 25% - Credit Scoring Dorong Penyaluran

NERACA

Jakarta – Bank Indonesia (BI) mengungkapkan terjadi peningkatan kredit secara kontinyu dalam tiga tahun terakhir. Pertahunnya, pertumbuhan kredit mencapai level 25%-33%. Dalam data statistik Bank Indonesia, antara tahun 2011 dan 2010, peningkatan kredit hampir mencapai 25%. “Pertumbuhan kredit Indonesia pertahunnya mengalami peningkatan yang signifikan dengan pencapaian sebesar 25%,” kata Analis Eksekutif BI, Yunita Sari di Jakarta,28/2

Menurut Yunita, BI selaku bank sentral menyadari dalam menghadapi persaingan global, akan lebih baik lagi jika layanan menjadi lebih efisien bagi masyarakat, bank lokal perlu meningkatkan infrastruktur TI. “Perbaikan infrastruktur IT bisa mendorong kompetisi,”tambahnya.

Sementara itu, Product Manager, bangking Analitics Solution, Naeem Siddiqi menekankan pentingnya memiliki visi analytics yang lengkap dan terintegrasi meliputi pengumpulan dan manajemen data melalui credit scoring. Sehingga mampu mendorong penyaluran kredit perbankan hingga 15%. Namun, keputusan perbankan tetap menjadi faktor penentu dalam pemberian kredit. “Analytics kelas dunia adalah pengembangan model, dan business intelligence yang terautomasi. Namun tergantung perbankan juga, tapi credit scoring dari sisi IT mampu menunjang hingga 15% penyaluran kredit”, tandasnya.

Menurut Naeem, perkembangan perbankan di Indonesia saat ini menuntut untuk menerapkan TI dalam melayani produk kredit kepada jutaan nasabah. “Perbankan akan memberi loan (pinjaman) kalau dia (perbankan) kenal kami (nasabah). Tapi sekarang, masa bank ada beberapa juta orang nasabah. Jadi, kita (SAS Indonesia) buat credit scoring untuk tentukan siapa benar siapa baik”, jelasnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, perbankan akan mengetahui data calon peminjam lebih dalam melalui credit scoring. Selanjutnya, menurut score tersebut peminjam dapat diputuskan layak mendapatkan kredit atau tidak. “Kita bisa tau berapa gaji, spending nasabah, di mana nasabah kerja, apa yang dikerjakan nasabah, adakah miss payment (tidak bayar tagihan) bulan ke bulan. Semua kita ambil poin di kredit scoring,” tambahnya

Naeem melanjutkan, poin 500 mengindikasikan seorang nasabah layak mendapatkan loan, sebaliknya, poin di bawah 500 mengindikasikan nasabah belum layak diberi loan. Artinya, Credit Scoring lebih predictable (dapat diprediksi) dan transparan.

Di tempat yang sama, Country Manager SAS Indonesia, Erwin Sukiato menuturkan, persaiangan ketat dalam industri financial Indonesia, terutama yang berkaitan dengan kredit dapat dihadapi dengan baik melalui analitics (analisis). Credit scoring merupakan teknologi analisa pemberian kredit. Tidak hanya akan membantu mereka (perbankan) mengurangi kerugian melalui pengukuran resiko secara akurat, melainkan juga bank dapat memanfaatkan kekuatan analitics untuk menjadi lebih efektif, efisien dan menciptakan produk dan layanan yang bermanfaat bagi nasabahnya. “Credit scoring bisa memanage resiko dari setiap pemberian kredit. Bagaimana mengenai score kreditnya, bagaimana mengenai mitigasi risk”, paparnya. **maya

BERITA TERKAIT

Permintaan Kredit di 13 Sektor Meningkat

  NERACA   Jakarta - Bank Indonesia melalui surveinya mencatat permintaan kredit pada 13 sektor ekonomi meningkat sepanjang triwulan III…

Bank Banten Luncurkan 'Kredit Usaha Bangun Banten'

Bank Banten Luncurkan 'Kredit Usaha Bangun Banten' NERACA Serang - Bank Pembangunan Daerah Banten (Bank Banten) selaku Bank milik pemerintah…

KPK Dorong Keluarnya Perma Soal Barang Rampasan

KPK Dorong Keluarnya Perma Soal Barang Rampasan NERACA Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendorong keluarnya peraturan Mahkamah Agung (perma)…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Diyakini Tahan Suku Bunga Acuan

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) diyakini akan menahan kebijakan bunga acuan "7-Day Reverse Repo Rate" di…

OCBC NISP Yakin Pertumbuhan Kredit Dua Digit

  NERACA   Jakarta - PT OCBC NISP Tbk meyakini penyaluran kredit akan membaik pada triwulan IV/2017 sehingga mampu mencapai…

Utang Luar Negeri Naik 4,7%

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) naik 4,7 persen (year on year)…